
Satu minggu kemudian,
Hawa dingin begitu dirasakan oleh Fay, padahal saat ini di Jakarta selatan sedang dilanda cuaca panas. Kebekuan di antara suami istri itu terus berlanjut hingga saat ini. Fay tidak tahu harus bagaimana lagi, karena selama satu minggu ini ia sudah mencoba intropeksi diri, akan tetapi ia tidak menemukan letak kesalahannya di mana.
Weekend telah datang, hari libur yang ditunggu banyak orang. Segala rutinitas pekerjaan akan libur di hari sabtu dan minggu. Waktu seakan tak pernah lelah berjalan. Detik demi detik terus berlalu hingga langit berubah menjadi gelap. Gemerlap bintang hadir di sana untuk menggantikan sang rembulan yang sedang bersembunyi di balik awan. Malam yang ditunggu para muda-mudi akhirnya tiba.
"Kamu mau kemana, Arvin!" Untuk pertama kalinya Fay melayangkan pertanyaan kepada suaminya itu.
Ya, selama beberapa hari ini, Fay pun tidak mau mengucapkan sepatah katapun kepada Arvin. Sepasang suami istri itu seakan sedang berlomba-lomba untuk menumpuk bongkahan es sebagai pagar pembatas di antara keduanya.
"Club!" Jawaban singkat terdengar tegas di indera pendengaran Fay.
"Sampai kapan hubungan kita seperti ini?" Sepertinya, ini lah saat yang tepat untuk mengakhiri kebekuan ini.
"Sampai kamu jujur kepadaku!" jawab Arvin seraya mengancingkan jaket jeans yang melekat di tubuhnya.
Fay tertegun setelah mendengar jawaban dari Arvin. Kejujuran apalagi yang harus dia ucapkan, padahal sebelum menikah, Fay sudah memberitahu Arvin tentang dirinya. Fay semakin bingung mendengar jawaban yang dilontarkan suaminya itu.
"Apa lagi yang ingin kamu ketahui, Vin?" tanya Fay seraya menatap tubuh yang membelakanginya, "aku sudah mengatakan semuanya," ucap Fay dengan tegas.
"Tidak! Masih ada satu hal yang belum kamu sampaikan kepadaku!" ujar Arvin setelah membalikkan tubuhnya.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Arvin seraya menatap Fay dengan kilat amarah.
Fay terperangah ketika mendapatkan pertanyaan itu dari Arvin. Ia semakin bingung menghadapi pria yang ada di hadapannya itu, "bukankah kamu sudah tahu, jika aku adalah putri teman ayahmu?" Fay malah bertanya balik kepada Arvin.
Arvin tertawa lepas setelah mendengar pertanyaan itu. Ia berkacak pinggang di hadapan Fay, menggeleng pelan karena tidak percaya dengan jawaban yang diucapkan oleh istrinya.
__ADS_1
"Ya. Aku sudah tahu jika kamu adalah putri pak Hardi. Tapi ada satu hal yang belum aku ketahui, sejak kapan kamu bekerja di club malam? Melayani tamu VIP yang datang di Club xxx!"
Degup jantung Fay rasanya berhenti berdetak setelah mendengar pertanyaan tersebut. Bibirnya terasa keluh saat berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Apa yang sengaja ia tutupi dari Arvin, ternyata harus terbongkar malam ini. Kini, Fay tahu apa penyebab perubahan sikap suaminya selama satu minggu ini.
"Kenapa? Kamu terkejut setelah mendengar pertanyaanku?" tanya Arvin setelah melihat wajah sang istri bersemu merah, "Kenapa kamu tidak jujur diawal jika kamu menjadi penerima tamu di sana!" Kali ini suara Arvin terdengar sangat keras. Suara itu diiringi dengan amarah yang terpendam selama satu minggu ini.
Fay menggeleng pelan setelah mendengar pertanyaan itu, "Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Arvin!" sangkal Fay dengan suara lirih.
Arvin berdecak setelah mendengar sang istri menyangkal fakta yang sudah diketahuinya itu. Tatapan matanya tajam bagai belati yang sudah siap untuk digoreskan, "dari awal aku sudah menyuruhmu jujur! Tapi kenapa sekarang masih ada rahasia ini! Ironisnya aku tahu semua ini dari temanku!" Kelopak mata Arvin melebar sempurna saat mengucapkan hal itu.
"Lalu untuk apa aku memberitahu perihal tidak penting itu, Vin!" ujar Fay seraya berdiri dari tempatnya, "aku tidak bekerja di sana! Semua informasi yang kamu dapatkan belum tentu semuanya benar, Vin!" ujar Fay dengan tegas.
"Kamu harus mendengarkan dulu bagaimana penjelasanku!" lanjut Fay tanpa melepaskan pandangannya dari Arvin.
"Basi!" sahut Arvin, "tidak usah menjelaskan apapun! Semua sudah terlambat! Kamu sudah membohongiku, Fay!" Arvin semakin melebarkan matanya.
"Berapa pria yang sudah membayarmu?" Pertanyaan menyakitkan terlontar dari bibir pria tampan itu.
"Pertanyaan macam apa ini? Aku tidak pernah berhubungan dengan pria mana pun, Vin!" jawab Fay dengan suara yang lantang.
Arvin tertawa lepas mendengar pertanyaan itu. Bayang-bayang bagaimana pekerjaan para wanita yang ada di club malam memenuhi pikiran Arvin. Tentu ia ragu kepada sang istri setelah mengetahui semuanya.
"Omong kosong!" sangkal Arvin, "oh, jadi ini alasanmu menolak untuk berhubungan badan denganku, Fay?" tanya Arvin tanpa melepas pandangan dari wajah sang istri.
"Arvin! Cukup!" teriak Fay dengan diiringi air mata yang mengalir deras, "aku tidak pernah melakukan semua hal yang kamu tuduhkan! Aku bukan wa—" Fay menghentikan ucapannya setelah Arvin menginterupsi.
"Cukup!" ujar pria matang itu.
__ADS_1
Tanpa pamit kepada sang istri, Arvin pergi begitu saja dari kamarnya. Ia pergi membawa segenggam bara api, membiarkan api tersebut berkobar tanpa bersedia memadamkan semua kesalahan ini. Air mata Fay mengalir deras, akan tetapi air mata itu tidak bisa memadamkan kobaran api amarah dalam diri. Harga dirinya terluka karena tuduhan tak terbukti dari suaminya sendiri.
***
Gemerlap lampu warna-warni serta lagu-lagu disco menyambut kedatangan Arvin. Ia terus berjalan tanpa perduli dengan sapaan beberapa wanita cantik yang menyambutnya. Arvin terus melangkah menuju ruangan yang sudah dipesan oleh Raka seperti biasanya.
"Selamat datang, Bro!" sambut Raka dengan senyum yang manis. Pria bertubuh kekar itu terlihat sangat bahagia ketika melihat wajah murung Arvin.
"Pesankan Wine dengan kadar alkohol lebih dari ini!" ujar Arvin seraya menengadahkan kepala.
"Sabar, Bos! Sabar! Malam masih panjang, Bos!" sahut Fabi yang sedang bergoyang mengikuti alunan musik yang terdengar di sana.
"Gimana? Udah dapat penjelasan dari istri lo?" tanya Raka. Ia sangat penasaran bagaimana keadaan rumah tangga Arvin saat ini.
Kebungkaman Arvin adalah jawaban yang menunjukkan jika pria itu sedang tidak baik-baik saja. Raka mulai merangkai kata-kata indah untuk memperkeruh keadaan temannya saat ini. Ia berlagak perduli kepada Arvin, padahal yang sebenarnya justru inilah yang diharapkan oleh Raka.
"Bro, gue gak bermaksud membuat lo terluka loh! Gue jadi gak enak hati nih!" ucap Raka seraya menepuk bahu Arvin, "begini saja, lebih baik kita tanya tante Nella saja, biar kita semua tahu," ucap Raka seraya mengeluarkan ponselnya.
Tak berselang lama, tante Nella masuk ke dalam ruangan itu. Beliau duduk tak jauh dari Arvin. Beberapa pertanyaan dari Raka tentang siapa Fay telah dijawab tante Nella dengan dramatis, hingga membuat Arvin semakin murka kepada istrinya. Bahkan, Arvin mulai meragukan kesucian wanita yang sedang menangis di rumah seorang diri.
"Fayre adalah anak buahku. Meski dia hanya sebentar di sini, tapi banyak pelanggan yang suka dengan dia," ucap Tante Nella seraya tersenyum penuh arti. Sesekali wanita tersebut mengerlingkan mata ke arah Raka.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Ada yang bisa nebak setelah ini bagaimana?...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1