
Lalu lalang kendaraan seakan tidak ada habisnya. Apalagi, di pusat kota seperti ini. Kendaraan roda dua berjajar rapi di sepanjang jalan Benteng pancasila. Beberapa lapak pedagang makanan ringan pun berjajar rapi di tempat yang sudah disediakan.
"Ayo, Kak!" Seorang gadis berparas manis menarik tangan Fay ke arah penjual pentol bakar legendaris di tempat ini.
"Kamu yakin, Mia, mau mengajak kakak jajan di sini? Apakah makanan disini aman dan higenis?" bisik Fay saat Mia ngotot ingin menikmati jajanan terkenal di Mojokerto itu.
"Sesekali Kakak harus mencoba jajan di pinggir jalan! Pasti nanti akan ketagihan," cerocos Mia tanpa melepaskan tangan Fay dari genggamannya.
Mia adalah putri bungsu bu Atin. Ia baru saja lulus dari SMA. Selama tinggal beberapa hari di Mojokerto, Mia lah yang menemani Fay kemana pun ia pergi. Terkadang Fay menghabiskan waktunya di taman Benteng Pancasila atau biasa disebut BENPAS oleh warga sekitar, dengan bermesraan bersama canvas dan kuas. Tak jarang, jika beberapa orang melihat Fay melukis dengan lincah di sana. Sungguh, berada di kota ini berhasil membuat Fay lupa dengan masalahnya. Bahkan, ia bertahan tidak bermain ponsel selama berada di sini. Gadget mahal itu pun masih berada di dalam koper.
"Coba satu tusuk dulu, kak!" Mia mengarahkan satu tusuk pentol bakar ke arah Fay. Ia begitu bersemangat saat melihat Fay mulai melahap satu biji pentol bakar pemberiannya.
Fay menutup kelopak matanya ketika mulai mengunyah makanan yang disebut 'pentol' oleh warga Mojokerto. Setelah mengetahui rasa dari bumbu kacang yang dipadukan dengan kecap manis itu, Fay pun membuka kelopak matanya. Ia mencoba satu tusuk lagi untuk memastikan jika jajan itu benar-benar enak.
"Enak!" Fay bergumam sambil mengunyah makanannya.
"Nah, kan! Benar kan apa yang aku katakan!" ujar Mia dengan antusias.
"Pesan lagi, Mia! Pesan yang banyak!" ujar Fay sambil membuka tas nya untuk mengambil selembar uang.
Jujur saja, Fay suka tinggal di tempat bi Atin karena tetangga bi Atin ramah dan baik. Apalagi soal kuliner, menurut Fay, di kota ini jajanan sangat murah. Cukup dengan selembar rupiah bergambar bapak Plokamator, Fay dan Mia sudah bisa membeli jajanan di BENPAS sampai kenyang.
"Mia, setelah ini, antar kakak beli canvas dan kuas lagi, ya," ucap Fay setelah menghabiskan beberapa tusuk pentol bakar.
__ADS_1
"Kak, terus lukisannya mau dibuat apa? Kan udah banyak di rumah," protes Mia. Bukan tanpa sebab, di rumah bi Atin sudah ada beberapa lukisan dengan ukuran canvas kecil hasil karya Fay.
"Terserah kamu. Asal jangan dijual. Kalau kamu tidak suka, kamu boleh menyumbangkan lukisannya ke sekolahmu atau ke kantor kelurahan," ucap Fay tanpa menatap Mia.
"Ah, nanti aku kirim ke kantor Walikota saja!" Ide cemerlang muncul di kepala Mia.
Fay hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Mia. Ia menatap kembali jalanan luas yang dipenuhi banyak pengendara itu. Banyak muda-mudi yang datang ke tempat ini hanya untuk sekedar nongkrong di pinggir jalan.
"Ayo, Kak! Nanti tokonya keburu tutup," ajak Mia seraya berdiri dari tempatnya.
Mereka berdua berjalan menyusuri trotoar sampai ke tempat parkir, di mana motor matic Mia terparkir di sana. Fay segera naik ke jok belakang saat Mia menghentikan motor di depannya. Tak lupa, Fay memakai helm agar tidak ditilang polisi lalu lintas.
"Mia, nanti kita cari makan dulu untuk bi Atin, ya!" ujar Fay setelah motor tersebut mulai melaju di jalanan beraspal itu.
Motor matic itu pun terus melaju ke arah toko peralatan alat tulis yang menjual alat lukis. Fay terus mengamati keindahan malam di kota kecil ini, kota yang dikenal dengan sebutan kota onde-onde, Mojokerto.
...♦️♦️♦️♦️♦️♦️...
"Nak, Fay! Ibu mau ke pasar dulu ya sama Mia. Kamu di rumah saja. Sebentar lagi Mbak Putri dan anaknya datang kok," pamit bi Atin kepada Fay yang sedang berkutat dengan kuas dan cat airnya.
Langit telah berubah menjadi cerah karena sang raja sinar telah bangkit dari singgasananya. Suara kicauan burung terdengar saling bersahutan, suara kicauan itu bagai alunan melodi yang menemani Fay melakukan aktifitasnya. Sejak pagi buta, ia sudah berkutat dengan tiga alat tempur utama dalam melukis. Ia sampai lupa jika belum sempat sarapan.
"Iya, bi Atin hati-hati ya!" jawab Fay tanpa melepaskan pandangannya dari canvas, "pintunya ditutup saja, Bi. Saya takut ada yang masuk," ucap Fay.
__ADS_1
"Gak usah ditutup. Mbak Putri sebentar lagi datang kok, Nak!" ucap bi Atin sebelum berlalu pergi. Suara teriakan Mia terdengar nyaring di halaman rumah.
Putri adalah putri pertama bi Atin yang sudah menikah. Ia tinggal di desa lain tak jauh dari tempat tinggal bi Atin. Sejak ada Fay di rumah ini, Putri lebih sering datang membawa anak-anaknya untuk menemani Fay agar tidak kesepian.
Benar saja, beberapa menit kemudian, Putri dan kedua anaknya yang masih kecil telah datang. Rumah yang tadinya sunyi sepi, kini, mulai ramai. Suara teriakan dua bocah laki-laki itu pun menggema di dalam rumah, membuat Fay harus mengakhiri kegiatannya. Ia tidak bisa berkonsentrasi jika kedua bocah itu datang.
"Aduh, maaf ya Fay, anak-anakku pasti mengganggu ya," ucap Putri setelah melihat Fay membereskan semua peralatannya.
"Tidak, Mbak, memang sudah selesai kok," ucap Fay dengan suara yang lembut. Ia tersenyum manis setelah melihat kedua bocah itu ada di dekatnya.
Setelah selesai menyimpan semua peralatannya, Fay kembali ke ruang tamu, di mana ada Putri dan kedua anaknya. Fay ikut bergabung di sana, membaur bersama Putri dan anak-anaknya. Fay begitu terhibur melihat dua bocah aktif itu. Sungguh, situasi ini membuatnya betah. Ia dikelilingi banyak orang yang peduli padanya.
Tak berselang lama, suara dering ponsel Putri terdengar di sana. Wanita manis itu segera mengangkat telfon tersebut, sepertinya Mia yang menghubungi Putri saat ini karena Putri sempat menyebut nama adiknya itu. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, ekspresi wajah Putri berubah sendu. Ia masih mendengarkan pembicaraan yang belum usai itu.
"Ada apa, Mbak?" tanya Fay saat melihat Putri meneteskan air mata.
Fay semakin penasaran, karena Putri hanya diam saja. Ia sepertinya masih shock atas kabar yang baru ia terima. Sekali lagi, Putri mengusap air matanya, ia beranjak dari tempatnya dan berjalan masuk ke dalam ruang keluarga. Tak berselang lama, Putri keluar dengan membawa tasnya.
"Mia dan Ibu kecelakaan, Fay! Ayo kita ke rumah sakit," ucap Putri dengan suara yang bergetar.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Mohon maaf ya kak, kemarin up satu bab aja😔Othor lagi gak enak badan nih🤭Hidung mampet karena pilek🙄...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...