
Beberapa minggu kemudian,
Sebuah lukisan wajah bu Linda telah selesai di tangan Fay. Ia tersenyum manis ketika melihat hasil sempurna dari coretan tangannya. Wajah sang mertua terlukis indah di canvas berukuran 80x100 cm itu. Sebuah hasil karya khusus yang dipersembahkan untuk ibu mertuanya itu.
"Mami pasti suka," gumam Fay setelah melihat detail lukisannya.
Fay berdiri dari tempat duduknya, ia menggeliatkan tubuh sejenak untuk meregangkan otot-otot tubuh. Seharian ini dihabiskan nyonya muda itu di teras belakang. Tidak ada yang berani menggangunya jika ia sudah berkutat di depan kanvas.
"Hah jam dua belas malam?" Fay bergumam setelah melihat arloji yang melingkar di tangannya, "pantesan sepi," gumamnya lagi setelah melihat keadaan di sekitar.
Sejak pagi pak Bram dan bu Linda pergi ke Bandung untuk mengunjungi kerabat. Fay hanya tinggal berdua saja dengan Arvin di rumah ini. Bahkan, ia sendiri tidak tahu kemana suaminya saat ini. Akan tetapi, meski di akhir pekan, sejak kepergian Fay kala itu, Arvin tidak pernah pergi ke club malam. Sepertinya, ia mencoba menghindar dari Raka atau lebih tepatnya berusaha berubah menjadi lebih baik.
"Lebih baik sekarang aku tidur! Lukisan ini bagusnya ditaruh di ruang keluarga deh," gumam Fay setelah berpikir sejenak.
Setelah membereskan semua peralatannya, Fay membawa lukisan tersebut ke ruang keluarga. Ia menata lukisan tersebut di tempatnya dan setelah itu, ia memutuskan pergi ke kamar untuk beristirahat.
Fay tertegun setelah masuk ke dalam kamar. Ia melihat Arvin terlelap di sofa seperti hari-hari sebelumnya. Meski hubungannya bersama Arvin mulai membaik, akan tetapi Arvin tetap tidur di sana. Ya, membaik bukan berarti hubungan itu kembali seperti dulu. Atas bantuan Psikolog bernama Zeda itu, perlahan rasa trauma yang dialami Fay mulai hilang. Meski berdekatan dengan Arvin, ia tak lagi merasakan takut hingga tubuhnya bergetar hebat. Terkadang mereka berdua pergi bersama untuk sekadar makan malam atau belanja. Hanya saja, Arvin masih bertahan tidur di atas sofa. Entah apa alasan yang membuatnya mengambil keputusan itu.
"Sebenarnya Arvin ini kenapa, ya?" batin Fay sambil mengamati tubuh yang sedang meringkuk itu, "kenapa dia gak tidur di ranjang saja? Apa tubuhnya gak sakit jika tidur di sini?" Fay bergumam dalam hati saat mengamati sang suami.
Fay berlalu menuju walk in closet setelah termenung di dekat sofa tersebut. Tak lama setelah itu, ia kembali lagi membawa selimut tebal berwarna abu-abu. Ia membuka selimut tersebut dan mulai menutupi tubuh yang meringkuk itu.
"Lebih baik aku segera beristirahat karena besok harus ke gereja," gumam Fay setelah selesai menyelimuti tubuh Arvin. Ia mengayun langkah menuju kamar mandi sebelum beristirahat.
__ADS_1
...💠💠💠💠💠...
Matahari mulai terik meski penunjuk waktu belum sampai di angka sepuluh. Setelah mengikuti ibadah rutin di hari minggu, Fay segera keluar dari gereja. Hari ini ia berangkat diantar oleh sopir karena bu Linda belum pulang dari Bandung.
"Langsung pulang saja, Pak," ucap Fay setelah masuk ke dalam mobil.
Mobil berwarna putih itu mulai berjalan keluar dari tempat parkir. Kini, mobil putih tersebut melaju ke arah kediaman Bramasta. Sopir yang biasa mengantar Fay ini sempat heran, karena nyonya muda itu tidak pergi melihat rumah yang biasa mereka lewati setelah pulang dari Gereja. Akan tetapi, jika bersama bu Linda, Fay tidak berani mengajak sopirnya untuk melewati rumah tersebut.
Setelah membelah jalanan kota yang cukup padat, pada akhirnya mobil tersebut sampai di halaman rumah megah milik keluarga Bramasta. "Terima kasih, Pak," ucap Fay sebelum keluar dari mobil.
Langkah demi langkah telah dilalui Fay hingga sampai di ruang keluarga. Ia menghentikan langkahnya ketika menginjak anak tangga pertama. Sayup-sayup, ia mendengar suara Arvin yang sedang mengeluh sakit dari teras belakang.
Rasa penasaran yang besar membuat Fay memutuskan untuk melihat Arvin. Ia mengendap-endap tanpa memakai alas kaki agar kedatangannya tidak diketahui oleh siapapun. Fay mengernyitkan keningnya ketika melihat Arvin duduk di kursi sun longer menghadap kolam renang.
"Aduh, sakit, Bi!" teriak Arvin saat bi Narsih memijat lehernya.
Fay semakin penasaran, apa kiranya yang sudah terjadi kepada suaminya itu. Ia berjalan menuju tempat Arvin dan bi Narsih berada saat ini. Tentu Fay sangat berhati-hati agar tidak ketahuan suaminya.
Bi Narsih membelalakkan mata setelah melihat Fay di sana. Beliau menutup bibirnya rapat-rapat ketika mendapat isyarat dari Fay agar wanita tersebut diam saja. Bi Narsih mengangguk pelan ketika Fay memberikan isyarat agar beliau bertanya kepada Arvin tentang keadaannya.
"Den, Bibi kasih minyak urut lagi, ya! Ini harus banyak dikasih minyak, Den!" ujar bi Narsih seraya membuka tutup botol minyak urut tersebut, "memangnya Aden ini kenapa sih? Salah bantal atau salah posisi tidur?" Bi Narsih mulai melancarkan aksinya.
"Leher saya sakit, Bi, karena setiap hari tidur di sofa. Tapi Bi Narsih jangan bocorin ini ke Mami, ya!" ucap Arvin tanpa menoleh. Tatapannya lurus ke depan.
__ADS_1
Terbesit rasa bersalah di hati Fay saat ini setelah mendengar jawaban tersebut. Fay memberikan isyarat agar bi Narsih kembali menuang minyak urut di leher Arvin. Ia pun menyuruh bi Narsih agar berdiri dari tempatnya.
"Den, saya sambil berdiri ya! Kaki saya sakit kalau seperti ini," ucap bi Narsih seraya beranjak dari tempatnya, "saya tuang lagi ya minyaknya, biar hangat!" ujar bi Narsih.
Kini, bukan lagi tangan bi Narsih yang menyentuh leher tersebut. Akan tetapi tangan halus Fay yang memijat leher belakang itu. Sementara bi Narsih di sana hanya disuruh Fay untuk bertanya kepada Arvin. Wanita paruh baya itu, tetap berdiri di dekat Arvin.
"Tangan Bi Narsih rasanya beda, ya? Apa gara-gara minyak urutnya banyak, tangan Bibi jadi halus?" Arvin bertanya kepada bi Narsih tanpa menoleh ke samping.
Bi Narsih mengulum senyum setelah mendengar ucapan tuan muda itu, "jadi halus seperti tangannya artis, ya, Den?" tanya bi Narsih dengan diiringi gelak tawa.
"Kenapa Aden tidak minta dipijit nyonya muda saja? Kan tangannya pasti halus tuh! Lagian ya, enak dipijit istri sendiri loh, Den! Nanti bisa dapat plus-plus," cerocos bi Narsih dengan diiringi tawa yang menggelegar.
Fay berusaha menahan tawanya ketika mendengar bi Narsih berkelakar. Ia semakin penasaran karena Arvin tak kunjung menjawab pertanyaan dari asisten rumah tangga tersebut. Fay ingin tahu apa sebenarnya yang membuat Arvin berubah. Ia tidak tengil seperti dulu.
"Jangankan minta dipijat, Bi ... tidur bersanding sama dia saja saya takut, Bi," jawab Arvin setelah beberapa detik terdiam.
"Memangnya kenapa? Apa aku seperti monster?" sahut Fay, ia sudah tidak tahan untuk tidak bersuara.
Arvin terhenyak dari tempatnya setelah mendengar suara Fay ada di balik tubuhnya. Matanya terbelalak ketika melihat sang istri ternyata duduk satu bangku dengannya. Bibirnya terbuka setelah melihat bi Narsih tertawa lepas.
"Jadi, dari tadi yang mijit aku bukan bi Narsih, tapi kamu, Fay?" tanya Arvin dengan tatapan tidak percaya.
...🌹Selamat Membaca🌹...
__ADS_1
...Ehem uhuy😀😀ada yang berani sama suami nihðŸ¤...
...🌷🌷🌷🌷🌷...