Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Perubahan Arvin,


__ADS_3

Fajar telah hadir saat persimpangan waktu telah tiba. Detik demi detik terus berlalu hingga membuat sang raja sinar bangun dari tidurnya. Siluet jingga terlukis indah di cakrawala timur, menandakan sebentar lagi segala aktifitas akan dimulai.


Seperti biasanya, setiap hari minggu Fay selalu bangun lebih awal karena beberapa jam ke depan, ia harus berangkat ke Gereja. Sama halnya dengan hari minggu sebelumnya, ia pergi ibadah hanya bersama dengan bu Linda. Sementara Arvin di rumah saja, tidur nyenyak berselimut mimpi.


Setelah dua puluh menit berada di dalam kamar mandi, Fay segera keluar dan berjalan menuju walk in closet. Untuk sesaat Fay menatap ke arah ranjang yang kosong. Ia mengernyitkan kening karena tidak melihat Arvin di sana.


"Kemana dia?" Fay bergumam lirih. Akan tetapi tidak lama setelah itu, ia melanjutkan langkahnya menuju walk in closet.


Midi dress floral melekat di tubuh sexy itu. Fay terlihat anggun dan cantik saat memakai pakaian ini. Apalagi dengan tambahan make-up tipis serta yang rambut yang dibiarkan tergerai—sempurna—begitulah penilaian untuk Fay pagi ini.


Setelah penampilannya rapi, Fay mengambil salah satu tas yang berjajar rapi di almarinya. Ia memilih tas warna senada dengan pakaiannya saat ini. Fay pun akhirnya siap berangkat ke Gereja.


"Mau kemana, Vin?" tanya Fay saat melihat Arvin masuk ke dalam walk in closet dengan wajah yang terlihat segar dan pakaian yang rapi.


Fay heran saja, apa kiranya yang membuat suaminya itu bangun sepagi ini. Apalagi, saat melihat pakaian rapi itu. Sepertinya, Arvin akan pergi menemui seseorang. Mungkin kah ada pertemuan bisnis di hari minggu? Ya, begitu lah pikiran Fay saat ini.


"Ayo!" ucap Arvin setelah merapikan tatanan rambutnya.


"Kamu ini mau kemana?" Fay benar-benar penasaran dibuatnya.


"Ke Gereja lah, kemana lagi memangnya?" Arvin menatap Fay untuk sekilas sebelum duduk di sofa dan memakai sepatunya.

__ADS_1


"Hah?" Fay terkejut ketika mendengar jawaban dari Arvin, "kamu sehat kan, Vin?" tanya Fay seraya mendekat ke tempat Arvin saat ini.


Arvin tidak menjawab pertanyaaan itu, ia hanya menatap Fay sekilas dan kemudian ia sibuk membenarkan tali sepatunya. Tidak sampai dua menit, pria yang memakai kemeja polos berwarna hitam itupun selesai.


"Ayo!" Arvin menarik tangan istrinya keluar dari kamar.


Satu persatu anak tangga telah dilalui sepasang suami istri itu hingga sampai di lantai satu. Mereka menuju ruang makan untuk sarapan bersama kedua orang tuanya. Ternyata pak Bram dan bu Linda sudah menuggu di sana.


"Kamu mau kemana, Vin?" tanya bu Linda setelah melihat kehadiran putranya di sana. Beliau heran saja karena tidak biasanya Arvin ikut sarapan di hari minggu.


"Ke Gereja lah, Mi!" jawab Arvin tanpa menatap wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


Tiga orang yang ada di sana terlihat heran setelah mendengar jawaban tersebut. Apalagi Fay, ia sampai tersedak setelah mendengar jawaban singkat itu. Bu Linda pun tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban tersebut.


Beberapa menit ke depan, Sarapan bersama akhirnya telah selesai. Mereka berbincang untuk sesaat sambil menikmati makanan penutup. Raut wajah bahagia terlihat jelas dari ekspresi wajah kedua wanita berbeda generasi itu.


"Papi, mau ikut ke Gereja juga," ucap pak Bram ketika melihat ketiga anggota keluarganya beranjak dari tempat masing-masing.


Sungguh, pagi ini bu Linda tidak percaya dengan kedua pria yang sangat berarti dalam hidupnya itu. Beliau tercengang melihat pak Bram bersedia ikut ibadah. Bu Linda merasa jika hari ini Tuhan memberi beliau anugerah yang sangat besar.


"Ayo, Pi. Kita ibadah bersama," ucap bu Linda seraya meraih tangan pak Bram untuk digenggamnya.

__ADS_1


...💠💠💠💠💠💠...


Tepat pukul sepuluh pagi, pak Bram beserta anggota keluarganya keluar dari Gereja. Setelah ini mereka berencana untuk ziarah ke makam kedua orang tua Fay. Pak Bram sendiri yang merencanakan hal ini setelah mendengar ceramah di Gereja. Beliau ingin mengunjungi makam sahabat sekaligus besannya itu.


"Setelah dari makam kita kemana lagi?" tanya Arvin tanpa mengalihkan pandangan ke samping. Ia fokus dengan jalanan padat di depan.


"Ya, pulang. Memang mau kemana lagi?" Pak Bram bertanya balik.


Arvin hanya mengangguk pelan menanggapi jawaban ayahnya. Sementara di deretan kursi belakang, kedua wanita itu tengah tersenyum bahagia. Sesekali mereka bersitatap untuk mengisyaratkan betapa bahagianya mereka saat ini.


"Arvin. Semoga kamu bisa seperti ini terus. Aku sangat bahagia karena kamu mulai bisa menata hidup. Semoga Tuhan memberikan anugerah untuk rumah tangga kita," gumam Fay dalam hatinya setelah mengalihkan pandangan ke depan.


Setelah beberapa puluh menit membelah kepadatan kota Jakarta, mobil yang dikendarai Arvin sampai di depan salah satu area pemakaman elit di Jakarta selatan. Mereka segera turun dan berjalan memasuki makam tersebut.


Langkah kaki mereka berhenti tepat di sisi pusara pak Hardi. Tak lupa Fay meletakkan buket bunga yang sempat dibeli saat dalam perjalanan menuju makam. Fay duduk bersimpuh di pinggir makam tersebut. Ada rasa haru yang merasuk dalam hatinya ketika melihat nama ayahnya di sana.


"Ayah, Fay berharap ayah bahagia di sorga bersama Bunda. Jangan mengkhawatirkan Fay lagi, karena ada orang-orang baik yang selalu melindungi Fay. Maaf, jika Fay baru kali ini bisa datang ke rumah baru ayah, karena banyak masalah yang sudah Fay hadapi sebelum ini." Fay hanya bisa mengeluarkan rangkaian kata panjang itu dalam hati.


Arvin ikut bersimpuh di sisi Fay dengan pandangan yang tak lepas dari pusara pak Hardi. Ini adalah yang pertama bagi Arvin karena selama ini ia belum pernah datang ziarah ke makam mertuanya.


"Om Hardi, saya meminta izin untuk mencintai dan menyayangi putri om. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk selalu membahagiakan Fay," gumam Arvin dalam hatinya.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2