
"Berapa lama saya harus menunggu hasil pemeriksaannya?" tanya Fayre tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah dokter laboratorium.
Ya, setelah mencocokkan dua hasil pemeriksaan yang berbeda, Fayre langsung datang ke laboratorium rekomendasi dari Rofan. Dia ingin mengetahui semua tentang obat pemberian dokter winda, baik yang diketahuinya ataupun yang tersembunyi di mobil Arvin. Dia penasaran saja kegunaan dan kandungan apa yang ada di dalam obat tersebut.
"Tidak sampai satu minggu hasilnya akan keluar, Nyonya," ucap dokter tersebut.
"Bisa lebih cepat lagi, dok? Saya butuh hasil secepatnya," ucap Fayre.
"Maaf, Nyonya, itu waktu paling cepat yang bisa kami janjikan." Dokter tersebut tidak bisa menjanjikan waktu lebih cepat lagi.
"Baiklah. Saya tunggu kabarnya, dok." Mau tidak mau Fayre pun harus mengikuti arahan dokter tersebut, "lalu bagaimana dengan kedua hasil yang berbeda ini, dok?" Fayre menunjukkan dua hasil tes sperm* yang berbeda kepada dokter tersebut.
Hampir sepuluh menit Fayre menunggu dokter cantik itu membaca kedua hasil laboratorium pemberiannya. Dua hasil tes dengan nama pasien yang sama dan di situ tertulis waktu tesnya pun sama. Dokter tersebut tidak bisa memastikan mana hasil yang benar, karena keduanya bertolak belakang dan jauh berbeda.
"Jadi begini, Nyonya. Untuk hasil laboratorium ini, saya tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja. Akan tetapi jika kita melakukan sekali lagi tes sperm* ini, maka kita akan tahu mana hasil yang benar," ucap dokter tersebut setelah membaca beberapa lembar kertas pemberian Fayre.
Setelah membahas beberapa hal penting terkait pemeriksaan sperm*. Dokter tersebut memberikan arahan kepada Fayre bagaimana tes sprem* tersebut harus dilakukan. Sebelum pergi dari laboratorium itu, Fayre menerima botol tampung sperm* barangkali dia ingin melakukan tes kesuburan.
Langkah demi langka telah dilalui Fayre hingga berada di luar laboratorium. Dia duduk di bangku panjang yang ada di sana. Helaian napas berat berhembus dari hidung mancungnya. Jujur saja, saat ini Fayre merasa lelah karena harus berjuang sendiri.
"Aku harus bagaimana setelah ini? Aku belum bisa membuktikan jika dokter Winda bersekutu dengan Raka sementara sidang tiga hari lagi," gumam Fayre sambil memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
Setelah termenung cukup lama di sana, pada akhirnya Fayre melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir. Dia merasa penat dan ingin pergi ke suatu tempat untuk merefresh pikiran yang tak karuan. Mobil yang dikendarai Fayre keluar dari area Laboratorium dan melaju di jalanan yang mulai gelap.
"Lebih baik aku jalan ke mall saja. Mungkin di sana aku bisa merefresh pikiran." Fayre bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari jalan yang mulai padat.
Setelah berada di tengah kemacetan selama dua puluh menit, pada akhirnya Fayre sampai basement mall. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki gedung raksasa tersebut. Fayre mengamati satu persatu deretan counter yang menjual beberapa produk dalam negeri. Langkah kaki wanita cantik itu pun harus terhenti di depan toko khusus underwear. Fayre mengamati lingeri yang terpajang di manequin. Pakaian dinas yang biasa dipakainya di kala malam hari sementara harus disimpan terlebih dahulu.
"Hmmm ... sepertinya aku ada ide," gumam Fayre setelah ide untuk langkah selanjutnya muncul dalam pikiran.
Fayre melanjutkan langkah kakinya menuju salah satu cafe yang ada di lantai tiga. Dia butuh menyendiri di sana sambil menikmati beberapa menu yang sudah dipesan. Duduk bersandar di kursi sambil membuka ponsel, itulah yang dilakukan Fayre saat ini. Dia membuka aplikasi chat untuk melihat kapan dirinya terakhir kali menghubungi Arvin. Terselip rasa rindu saat melihat foto profil kontak pria tampan tersebut.
"Kenapa kamu sebodoh ini sih, Vin!" ujar Fayre ketika rasa kesal menyingkirkan kerinduan yang membelenggu itu, "seharusnya kamu itu jujur kepadaku. Bukan malah memberi jalan bagi para setan yang merusak hubungan kita," gerutu Fayre sambil menatap foto profil sang suami.
Ice cream cokelat, itulah yang pertama kali dinikmati oleh Fayre. Wanita cantik itu menikmati ice cream tersebut sambil mengamati keadaan yang ada di sekitarnya. Sesekali dia tersenyum tipis saat melihat pasangan muda-mudi yang sedang bersenda gurau di sana. Tunggu, pandangan Fayre terkunci ketika melihat dua orang yang sedang berjalan masuk ke cafe tersebut.
"Raka dan Dira ada di sini? Sejak kapan mereka dekat dan jalan berdua?" Fayre bergumam setelah melihat Dira dan Raka bergandeng tangan.
Fayre mengamati apa saja yang dilakukan dua sejoli itu. Tangan Fayre terkepal setelah melihat senyum manis yang ditunjukkan Raka kepada Dira. Dia tidak terima saja jika pria itu bisa tersenyum di atas penderitaannya saat ini, meski semuanya belum terbukti kebenarannya.
"Sial!" umpat Fayre ketika pandangannya terkunci dengan Raka. Kehadirannya di sana diketahui oleh musuh dalam selimut itu, "dia pasti ke sini bersama Dira!" tebak Fayre.
__ADS_1
Benar saja, Mereka berdua berjalan ke arah Fayre. Bahkan, tanpa diduga mereka berdua duduk di kursi yang ada di sekitar Fayre. Sepertinya Dira terlihat tidak nyaman berada di sana, karena semua kenangan di saat Reno meninggal masih terekam dengan jelas. Jujur saja, Dira takut saat berhadapan dengan Fayre. Dia tidak menyangka jika akan bertemu adik sambugnya di cafe tersebut.
"Hay, Fayre," sapa Raka dengan senyum smirk yang mengembang di kedua sudut bibir itu.
"Ya." Hanya itu yang menjadi jawaban Fayre. Dia harus bersikap setenang mungkin saat menghadapi pria licik tersebut.
"Sendiri? Kemana Arvin?" Raka celingukan. Entah dia benar-benar mencari Arvin atau hanya sekadar berpura-pura. Sementara Dira hanya tertunduk karena takut menyapa wanita yang banyak berubah itu.
"Seperti yang kamu lihat. Aku sendiri dan kalian berdua tiba-tiba saja datang." Jawaban menohok terlontar dari bibir berwarna merah itu.
"Kenapa sendiri? Arvin tidak mau menemanimu jalan?" tanya Raka lagi.
Fayre menaikkan satu alisnya setelah mendengar pertanyaan tersebut. Dia sangat geram melihat pria yang ada di hadapannya itu. Hilang sudah selera makannya. Sepertinya makanan yang ada di meja harus terbuang sia-sia karena kehadiran dua cecunguk itu.
"Kepo banget ya?" Fayre tersenyum smirk saat melontarkan pertanyaan itu, "mau mencari informasi ya buat hiburan?" sarkas Fayre sebelum membereskan barang-barangnya. "Oh ya, silahkan dimakan semua makanan ini. Bukan sisa kok. Kalian tenang aja, aku akan membayarnya. Anggap saja aku sedang mentraktir kalian," ujar Fayre sebelum pergi meninggalkan meja tersebut dan berjalan menuju kasir.
Raka mengepalkan tangannya setelah mendengar kata-kata pedas yang terlontar dari bibir istri rivalnya itu. Amarah yang tersimpan di hatinya semakin berkorbar setelah mendengar jawaban Fayre yang meruntuhkan harga dirinya.
"Cih! Lihat saja, setelah ini kamu tidak akan bisa tersenyum! Janda Fayre, mantan istri Arvin Axelle!" ujar Raka dalam hatinya.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...