
Satu minggu kemudian.
Jerman.
Senyum manis mengembang begitu saja dari kedua sudut bibir Fayre ketika melihat isi galeri ponselnya. Baru pagi ini dia sempat melihat hasil dokumentasi saat liburan di Innsburck, Austria. Kala itu mereka berlibur terlebih dahulu sebelum pergi ke Jerman untuk melakukan pengobatan. Menghabiskan waktu bersama sambil menikmati keindahan alam yang tersaji di sana.
"Aku mau upload ini ke media sosial ah, biar pernah," gumam Fayre setelah menemukan foto romantis di sana. Pasalnya selama ini menantu bu Linda itu jarang sekali mengumbar momen romantis bersama sang suami di media sosialnya.
Ich bin glücklich, in deiner warmen Umarmung zu sein. Guten Morgen, mein Mann, Arvin Axelle❤️
(Aku bahagia berada dalam dekapan hangatmu. Selamat pagi suamiku, Arvin Axelle❤️)
Ya, itulah kata-kata yang ditulis Fayre dalam unggahannya. Setelah menjelajahi media sosialnya, dia meletakkan ponsel tersebut di atas nakas. Lantas dia mengubah posisinya menjadi miring ke arah Arvin. Kedua sudut bibir itu kembali mengembangkan senyum setelah melihat wajah tampan yang masih tertidur pulas.
"Arvin. Bangun yuk!" ajak Fayre dengan tangan yang tak henti mengusap rahang kokoh sang suami, "nanti kita bisa terlambat bertemu dokter." Sekali lagi Fayre berusaha mengganggu tidur nyenyak sang suami.
Sementara sang empu hanya menggeliatkan tubuh ketika merasakan usapan lembut di beberapa titik tubuhnya. Kedua sudut bibir itu pun tertarik ke dalam meski kelopak mata masih tertutup rapat.
"Guten morgen, meine Frau," sapa Arvin dengan suara paraunya.
Tanpa menjawab sapaan itu, Fayre mendaratkan kecupan mesra di bibir Arvin hingga membuat sang empu membuka kelopak matanya, "masih kurang ya yang semalam?" tanya Arvin sambil mengusap dagu sang istri. Sorot matanya terlihat genit dan menggoda.
Bukannya menjawab, Fayre malah memutar bola matanya. Dia malu saja untuk menjawab pertanyaan itu dan tak berselang lama, wanita berambut cokelat itu segera mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di headboard ranjang.
__ADS_1
"Ini sudah jam delapan pagi." Fayre mengingatkan Arvin akan janji bertemu dengan dokter kandungan di salah satu rumah sakit terbaik di Jerman, "kalau kamu hanya tidur di sini, maka kita bisa terlambat nanti," ucapnya sebelum menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh mulusnya.
Tanpa memakai pakaian, Fayre masuk ke dalam kamar mandi. Menunggu Arvin di atas ranjang sama saja dengan membuang-buang waktu. Pasalnya putra semata wayang bu Linda dan pak Bram itu selalu saja mengulur waktu. Entah itu menggeliatkan tubuh atau sekadar membuka ponselnya. Ya, sama seperti saat ini, bukannya pergi ke kamar mandi, Arvin malah membuka ponselnya. Dia begitu bersemangat setelah melihat ada notifikasi jika akun sang istri memposting hal baru.
"Tumben banget Fay mengunggah foto di sosmed," gumam Arvin setelah menulis komentar di unggahan sang istri.
Ich liebe, meine Frau. (aku mencintaimu, Istriku)
Hingga beberapa puluh menit kemudian, Arvin masih asyik dengan ponselnya. Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Arvin duduk di tempatnya dan setelah itu dia meletakkan ponsel di atas nakas. Bisa dipastikan jika setelah ini suara Fayre akan terdengar memekik di telinga.
"Arvin! Kenapa kamu belum bersiap?" teriak Fayre sambil berkacak pinggang di depan pintu kamar mandi.
"Kan di kamar mandi masih ada kamu," jawab Arvin dengan entengnya. Setelah itu pria yang memiliki kulit putih itu pun berdiri dari tepi ranjang.
Fayre mendengus kesal dengan tatapan tajamnya. Dia tidak habis pikir saja melihat perilaku suaminya yang suka mengulur waktu. Fayre buru-buru merapikan tempat tidurnya dan setelah itu dia segera membuka almari untuk menyiapkan pakaian ganti untuk dirinya dan sang suami.
Suasana rumah sakit yang ada di salah satu kota di Jerman terlihat ramai. Fayre dan Arvin menunggu panggilan dari perawat yang bertugas di dalam ruangan dokter kandungan.
"Kenapa lama sekali ya, Vin," gumam Fayre setelah melihat waktu yang ada di pergelangan tangannya. Hampir enam puluh menit mereka berdua menunggu di sana.
Pada akhirnya nama Fayre terdengar di sana. Mereka berdua segera masuk ke dalam ruangan dokter. Kedatangan mereka berdua disambut ramah oleh dokter wanita dan asistennya. Fayre dipersilahkan langsung berbaring di atas bed untuk melakukan konsultasi sekaligus USG rahim. Beberapa hal mengenai keluh kesah Fayre pun telah dikatakan kepada dokter tersebut.
Dari pemeriksaan itu, dokter menyimpulkan jika Fayre tidak memiliki masalah dengan rahimnya. Setelah selesai melakukan pemeriksaan USG, dokter tersebut beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju meja kerjanya.
Dokter tersebut memberikan surat rekomendasi untuk Arvin agar melakukan pemeriksaan ke dokter androurologi yang ada di rumah sakit tersebut untuk memeriksa kesuburannya. Mereka segera keluar dari ruangan setelah selesai konsultasi. Kini, mereka berdua berjalan menuju ruangan dokter androurologi.
__ADS_1
"Itu bukan sih ruangannya?" tanya Fayre sambil menunjuk ruangan yang ada di ujung koridor.
"Ya, itu benar. Ayo kita kesana!" ujar Arvin seraya menarik tangan Fayre.
Arvin menyerahkan surat pemberian dari dokter kandungan kepada perawat yang ada di depan ruangan tersebut. Mereka harus reservasi terlebih dahulu sebelum melakukan konsultasi. Sepertinya, mereka harus sabar karena lagi dan lagi harus menunggu giliran konsultasi.
"Aku laper, Vin," bisik Fayre setelah cacing di dalam perutnya melakukan demonstrasi karena belum mendapat asupan sama sekali.
"Sama, Fay. Kita makan setelah bertemu dokternya," ucap Arvin seraya tersenyum tipis, "sabar ya, cing. Jangan nakal di dalam sana." Arvin mengusap perut rata sang istri dengan gerakan lembut.
Perlakuan manis itu harus berakhir setelah nama Arvin terdengar di sana. Mereka segera beranjak dan berjalan memasuki ruangan tersebut. Setelah duduk di kursi yang ada di depan meja kerja dokter tersebut, Arvin mulai konsultasi dengan dokter pria itu. Dia mengatakan keluhan yang terjadi dalam dirinya dan tak lupa Arvin pun menyerahkan hasil pemeriksaan yang dilakukan beberapa waktu yang lalu saat di Indonesia.
Menurut dokter pria itu, kondisi Arvin tidak terlalu mengkhawatirkan. Akan tetapi dokter tersebut tetap menyuruh Arvin untuk melakukan tes ulang agar hasilnya lebih akurat. Dengan begitu dokter lebih mudah memberikan obat yang cocok untuk kondisi Arvin.
"Danke, dok. Morgen werde ich zurück sein, um einen Test im Labor zu machen(terima kasih, dok. Besok saya akan kembali untuk melakukan tes di laboratorium)." ucap Arvin seraya menjabat tangan dokter tersebut.
Mereka segera keluar dari ruangan dokter setelah selesai melakukan konsultasi. Fayre menyeret tangan Arvin untuk mencari cafe di sekitar rumah sakit. Dia sudah tidak tahan dengan rasa perih di perutnya.
"Kamu ingin makan apa?" tanya Arvin setelah masuk ke dalam salah satu cafe yang ada di sekitar rumah sakit tersebut.
"Terserah deh, Vin. Apa aja aku mau, asal bukan kotoran," ucap Fayre dengan suara yang lirih.
Arvin hanya tersenyum ketika melihat ekspresi wajah sang istri. Dia heran saja kenapa Fayre bisa terlihat kacau seperti itu saat menahan rasa lapar yang mulai melanda, padahal sebelum berangkat mereka pun sudah sarapan.
"Dia macam orang gak makan setahun aja, lemes banget tubuhnya," batin Arvin sambil mengulum senyum.
__ADS_1
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...