
Motor bebek hitam yang dikendarai Putri akhirnya tiba di Rumah sakit Gatoel Mojokerto. Fay segera menggendong salah satu bocah itu dan segera melangkah ke IGD. Begitu pun dengan Putri, agar langkahnya cepat, ia menggendong anak sulungnya, tidak perduli meski rasanya berat.
"Pak, di mana pasien kecelakaan bernama Mia dan Sariatin?" tanya Putri setelah berhenti di depan IGD.
"Sedang ditangani di dalam, Bu. Maaf tapi yang bisa masuk hanya satu orang saja. Anak kecil tidak boleh masuk IGD," ujar petugas yang berjaga di depan IGD.
"Mbak Putri saja yang masuk. Biarkan anak-anak dengan saya di luar," ucap Fay seraya meraih tubuh putra sulung Putri.
Tanpa banyak bicara, Putri segera masuk ke dalam IGD. Ia harus melihat langsung kondisi yang sedang dialami ibu dan adiknya. Sementara Fay memilih menjauh dari gedung tersebut. Ia mengajak anak-anak Putri menuju kolam ikan yang ada di halaman IGD. Raut wajah khawatir terlihat jelas di wajah cantik itu. Fay terus menghibur kedua bocah tersebut agar tidak mencari ibunya.
Beberapa puluh menit menunggu di luar, Fay melihat Putri keluar dari IGD. Ia melambaikan tangan beberapa kali untuk memberi isyarat kepada Putri tentang keberadaannya.
"Bagaimana keadaan bi Atin?" tanya Fay setelah Putri duduk di bangku panjang yang ada di sana. Putri terlihat lemas dengan pandangan yang kosong.
"Ibu baik-baik saja, hanya lecet di tangannya. Akan tetapi Mia ... Mia harus dioperasi karena tulang betisnya patah." Suara Putri bergetar ketika menyampaikan hal itu. Ia sedih ketika melihat adiknya belum sadar di IGD.
"Terus bagaimana, Mbak?" tanya Fay seraya menatap Putri dengan lekat.
"Masalahnya, biaya kecelakaan tidak ditanggung asuransi BSPJ. Pihak rumah sakit menyarankan agar mengurus Jasa Raharja atau membayar umum biaya tersebut." Putri mengusap air matanya kala mengatakan hal itu.
Putri menjelaskan kepada Fay berapa biaya operasi kaki Mia. Jujur saja, Putri sendiri tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membayar administrasi. Kemungkinan, tabungan bu Atin pun tidak cukup untuk membiayai operasi besar tersebut, karena operasi akan dilakukan di kedua kaki Mia.
Mendengar penjelasan panjang itu berhasil membuat hati Fay terenyuh. Ia bingung harus berbuat apa saat ini. Dalam dompetnya pun tidak ada uang sebanyak itu untuk membayar biaya operasi.
"Apa aku gunakan saja kartu debit pemberian Arvin?" Fay bergumam dalam hati setelah teringat kartu pemberian Arvin kala itu.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana jika dia tahu, kalau ada uang keluar sebanyak itu. Mungkinkah dia marah?" Fay sedang menimbang bagaimana langkahnya saat ini.
Tidak mungkin jika ia membiarkan Mia menderita, karena selama berada di sini, gadis manis itu begitu baik kepadanya. Fay berpikir jika harus melakukan sesuatu untuk menolong bi Atin yang sedang kesusahan itu.
"Mbak Putri di sini saja. Biar aku yang menemui perawatnya," ucap Fay sebelum beranjak dari tempatnya.
Tanpa menunggu jawaban dari ibu dua anak itu, Fay mengayun langkah menuju IGD. Ia mencari perawat yang bertugas untuk membahas soal biaya operasi Mia.
"Berapa estimasi biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi pasien bernama Rosmia Arianti?" tanya Fay setelah duduk berhadapan dengan perawat yang bertugas.
"Untuk biaya operasinya sekitar dua puluh juta, karena pasien mengalami patah di kedua kakinya. Biaya tersebut bukan termasuk biaya rawat inap dan obatnya," ucap perawat tersebut sambil membaca list biaya yang ada di map merah.
Fay menggigit bibirnya setelah mendengar total biaya tersebut. Ia membuka dompetnya untuk mengeluarkan kartu debit yang belum pernah terpakai itu. Sebelum mengatakan jika bersedia menjadi penanggung jawab, Fay sempat berpikir untuk beberapa saat.
"Apakah bisa membayar non tunai di sini?" tanya Fay setelah kartu ajaib itu ada di genggaman tangannya.
"Saya akan membayar sekarang, jika nanti sudah waktunya pulang dan biayanya kurang, beri tahu saya lagi," ucap Fay tanpa berpikir panjang.
Transaksi terjadi di antara Fay dan perawat tersebut. Pada akhirnya, Fay membayar tagihan rumah sakit dengan kartu ajaib pemberian dari Arvin. Bahkan, ia melebihkan nominal tersebut, karena takut di kemudian hari total biayanya kurang. Sesuai dengan perjanjian keduanya, jika uang yang sudah dibayar Fay lebih, maka pihak rumah sakit akan mengembalikan sisanya.
"Tolong lakukan yang terbaik," ucap Fay sebelum berlalu dari hadapan perawat tersebut.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
Sementara itu di kota lain atau lebih tepatnya di perusahaan pak Bram, suara ketukan pintu terdengar beberapa kali. Arvin dan pak Bram mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk ruang utama. Mereka berdua melihat Rofan masuk dengan membawa laptop di tangannya.
__ADS_1
"Ada kabar baik, Tuan," ucap Rofan seraya menatap pak Bram.
"Keberadaan Nyonya muda sudah ditemukan. Kemungkinan besar, Nyonya muda berada di Mojokerto. Ada transaksi dengan nominal cukup besar dari rekening Nyonya muda. Dia mentransfer uang senilai tiga puluh juta ke rumah sakit swasta di Mojokerto," ucap Rofan tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
"Mojokerto itu di mana?" Arvin terlihat bingung setelah mendengar berita yang disampaikan oleh Rofan.
"Mojokerto itu di Jawa timur," sahut pak Bram seraya menatap Arvin.
Rofan pun menjelaskan jika anak buahnya sudah diperintahkan untuk pergi ke sana, guna memastikan keberadaan Fay. Ia pun sebenarnya sempat putus asa mencari keberadaan nyonya muda keluarga Bramasta itu. Ia cukup kesulitan karena Fay tidak meninggalkan jejak apapun.
"Kalau begitu kita harus pergi kesana!" ujar Arvin seraya beranjak dari tempatnya.
"Tapi kita tidak tahu di mana dia tinggal! Kamu pikir mudah mencari istrimu di sana?" protes pak Bram tanpa melepaskan pandangan dari wajah Arvin.
"Pa, kita bisa melacak Fay lewat data rumah sakit. Kita pasti akan bertemu Fay di sana," ucap Arvin dengan yakin.
Tanpa pamit kepada pak Bram, Arvin keluar dari ruangan. Ia harus pulang terlebih dahulu untuk mengambil beberapa barang sebelum menjemput sang istri. Kali ini Arvin bertekad untuk memperbaiki rumah tangganya. Ia harus meminta pengampunan dari istrinya itu saat bertemu nanti.
Pada akhirnya, setelah beberapa hari merasakan sesak di dada, Arvin bisa bernapas lega. Kedua sudut bibirnya mengembang sempurna karena tidak lama lagi akan bertemu Fay. Ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah cantik yang sudah dirindukannya selama ini.
"Fay, aku pasti bisa membawamu pulang! Kamu harus kembali, Fay! Harus!" gumam Arvin setelah masuk ke dalam Lift. Ia bersandar di sana dengan kepala menengadah.
Tidak bisa dipungkiri, jika rasa rindu hadir setiap malam dalam mimpi Arvin.
...🌹Selamat Membaca 🌹...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...