Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Kejutan untuk Arvin,


__ADS_3

"Untuk sementara, lebih baik rapat kita tunda dulu, sampai maket yang disusun pak Andi selesai," ucap Arvin seraya menatap pria bernama Andi dan Rofan, "rapat selesai, silahkan kembali ke ruangan masing-masing," lanjut Arvin seraya menatap para staf yang mengikuti rapat hari ini.


Setelah semua orang keluar dari ruang rapat, Arvin menghempaskan dirinya di kursi. Ia menengadahkan kepala untuk melepas segala beban pikiran yang ada. Rofan masih berada di sana untuk memeriksa setiap proposal yang dibahas hari ini.


"Apa belum ada kabar tentang keberadaan Fay?" tanya Arvin tanpa menatap Rofan.


"Belum. Orang-orang kita masih mencari informasi ke stasiun kereta, karena dari rekaman CCTV bandara kita menemukan Nyonya muda keluar dari bandara dengan menggunakan taksi," ucap Rofan seraya menatap Arvin sekilas.


Arvin menghela napasnya setelah mendengarkan penjelasan Rofan. Jujur saja hatinya semakin kalut karena keberadaan sang istri belum ditemukan. Sudah tiga hari lamanya Fay kabur dari rumah. Arvin merasa kesepian, apalagi, rasa bersalah yang besar terus menghantuinya.


Sampai saat ini, baik bu Linda ataupun pak Bram belum mengetahui perihal ini. Arvin masih menyembunyikan kabar tidak sedap yang menerpa rumah tangganya. Ia membiarkan kedua orang tuanya itu bersenang-senang di luar negeri, tanpa harus memikirkan urusan yang rumit ini.


"Mari kita pindah ke ruang kerja saya saja, ada berkas penting yang harus kita pelajari," ucap Arvin sebelum beranjak dari tempatnya. Rofan pun membereskan beberapa berkas yang sudah ia periksa.


Langkah demi langkah telah dilalui keduanya hingga sampai di ruang utama perusahaan ini. Arvin masuk terlebih dahulu dan Rofan ada di belakangnya.


Bruk!


Semua berkas yang ada di tangan Rofan jatuh di lantai, karena Rofan menabrak punggung Arvin. Ia tidak tahu jika Arvin berhenti mendadak di hadapannya. Ia pun heran kenapa Arvin mematung di tempatnya saat ini.


"Pa ... Papi! Mami!" Arvin tercengang setelah melihat kehadiran kedua orang tuanya di sana. Sementara Rofan, memilih keluar dari ruangan tersebut setelah mengetahui ada bos besar di ruangan utama.


"Kenapa? Terkejut?" Bu Linda berkacak pinggang di depan meja kerja Arvin. Beliau segera melangkahkan kaki untuk mendekat ke tempat Arvin berada saat ini.


Tentu saja, hal itu semakin membuat Arvin menelan ludah. Antara percaya dan tidak percaya jika yang ada di hadapannya adalah nyata. Arvin menggeleng pelan setelah melihat bu Linda semakin mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Ini nyata atau gue lagi halu, sih? Perasaan gue gak lagi mabok." Arvin bergumam seraya menggeleng pelan. Sungguh, ia tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.


"Aaw!" pekik Arvin setelah merasakan rasa sakit di telinga akibat jeweran bu Linda.


Wanita paruh baya itu, menarik telinga Arvin dengan kencang. Beliau menarik telinga putranya sambil berjalan menuju sofa panjang di ruang itu. Tubuh Arvin pun terhempas di sofa tersebut.


"Aduh, Mi, sakit!" keluh Arvin sambil menggosok telinganya.


"Ini tidak sebanding jika Papi mu yang menarik telinga itu! Masih untung ya, Mami saja yang menarik telingamu!" sungut bu Linda dengan kedua tangan yang berkacak pinggang.


"Kenapa Mami pulang? Bukannya masih lama ya liburannya?" tanya Arvin tanpa berani menatap bu Linda. Apalagi, untuk menatap pria paruh baya yang sedang bersandar di meja kerja itu. Sungguh, Arvin sangatlah takut.


"Kamu pikir Mami bisa liburan tenang jika menantu Mami belum ditemukan sampai saat ini?" ujar bu Linda dengan pandangan yang tak lepas dari putranya, "Arvin! Tatap mata Mami!" titah bu Linda dengan suara yang keras.


Sekuat tenaga Arvin memberanikan diri menatap wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Sungguh, Arvin takut melihat kilat amarah yang terpancar jelas dari mata teduh itu. Baru kali ini Arvin melihat bu Linda semarah ini.


Arvin kembali menelan ludah setelah melihat pak Bram duduk dengan tenang di sofa tunggal tak jauh darinya. Pria paruh baya itu terlihat tenang tanpa menatap Arvin sedikitpun. Sepertinya beliau sedang mempersiapkan diri untuk memberikan pelajaran kepada Arvin jika terbukti bersalah.


"Memang Mami tahu dari mana sih?" Bukannya menjawab, Arvin malah bertanya balik kepada bu Linda.


"Jawab saja! Tidak usah berkelit!" sahut pak Bram dengan suara baritonnya. Pria paruh baya itu sudah tidak sabar lagi untuk mendengar penjelasan putranya.


Setelah termenung beberapa menit, pada akhirnya, Arvin memilih untuk jujur kepada orang tuanya. Ia harus mencari tahu kebenaran akan cerita yang disampaikan oleh Raka dan pemilik club malam kala itu. Arvin belum berani menjelaskan alasan utama yang menyebabkan Fay pergi dari rumah.


"Apa benar jika Fay dulu pernah bekerja di club malam?" tanya Arvin seraya menatap pak Bram.

__ADS_1


"Ya. Papi pertama kali melihat Fay di club malam." Lantas, pak Bram pun menjelaskan bagaimana beliau bisa bertemu dengan Fay. Tidak ada lagi yang ditutupi lagi oleh Bram.


"Kami sengaja menyembunyikan semua ini dari kamu karena permintaan Fay. Dia ia menjelaskan sendiri kepadamu tentang hal itu. Mungkin saja, saat pertama kali Fay bekerja di sana memang bertemu Raka," jawab pak Bram dengan pandangan lurus ke depan.


"Jadi yang dikatakan Raka dan pemilik club itu tidak salah 'kan Pi? Jika Fay pernah bekerja di sana." Arvin meyakinkan pendapatnya, jika Raka tidak sepenuhnya salah.


"Entahlah, yang pasti Fay tidak bersalah dalam hal ini. Ibu tirinya yang memaksa dia melakukan semua ini!" ujar pak Bram seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kalau begitu Arvin ingin memberi perhitungan kepada si Lisa itu! Bisa-bisanya dia membuat Fay menjadi seperti itu!" Arvin terlihat geram setelah tahu bahwa bu Lisa yang menyebabkan istrinya menderita.


"Hei!" Sangkal bu Linda, "jangan sok jadi pahlawan ya! Kamu tidak usah memikirkan balas dendam kepada si Lisa! Sekarang yang harus kamu pikirkan di mana keberadaan Fay!" ujar bu Linda seraya mengetuk meja kaca itu beberapa kali.


Sungguh, bu Linda sangat kesal melihat putranya itu. Beliau sangat gemas dengan pemikiran dangkal Arvin. Lantas, bu Linda pun bertanya kepada Arvin apa yang sebenarnya terjadi hingga Fay pergi. Kedua orang tua itu pun terkejut bukan main setelah Arvin mengakui semua kesalahannya. Ia melepaskan semua beban yang ia tanggung selama beberapa hari ini.


"Bod*h!" umpat pak Bram saat terhenyak dari tempatnya. Pria tersebut sangat emosi mendengar pengakuan dari Arvin.


"Papi! Kali ini biarkan Mami yang memberikan pelajaran kepada anak kita yang cerdasnya di atas rata-rata ini! Sia-sia kita menyekolahkan dia sampai ke luar negeri!" ujar bu Linda saat berjalan ke tempat Arvin berada saat ini.


Bu Linda sangat geram sekaligus tidak terima mendengar Fay diperlakukan tidak hormat oleh putranya sendiri. Segera beliau menyerang Arvin. Mencubit, memukul sampai menggigit tangan putranya. Arvin berusaha menghindar dari bu Linda, akan tetapi ia tidak bisa. Melawan seorang ibu sama halnya menjadi anak durhaka.


"Cari dia sampai dapat! Jika dalam satu minggu kamu tidak menemukan Fay! Lihat saja apa yang akan Mami lakukan!" ancam bu Linda tanpa melepaskan tangannya dari telinga Arvin.


...🌹Selamat Membaca🌹...


...Nah loh! Syukur dah😂putus lah itu telinga 🤭...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2