
Tiga hari berlalu begitu saja, meninggalkan kenangan indah di hidup Fay. Meskipun menikah bukan atas dasar saling mencintai, nyatanya semua itu berhasil membuat hidupnya lebih berwarna. Hari ini Fay dan Arvin harus pulang ke rumah utama setelah menghabiskan waktu di hotel selama tiga hari. Tentu saja, sesuai kesepakatan keduanya, tidak terjadi apapun selama mereka berada di hotel. Selama itu pula, Arvin sering jatuh dari atas ranjang karena tendangan dari Fay.
"Sepi amat," gumam Arvin setelah masuk ke dalam rumah bersama Fay.
Fay hanya diam saja sambil terus berjalan menuju ruang keluarga. Ternyata, kedua mertuanya ada di sana bersama seseorang yang Fay kenal. Sepertinya di ruang keluarga ada obrolan serius di antara ketiga orang tersebut.
"Kenapa bi Atin menangis?" tanya Fay seraya menatap Arvin.
"Entahlah." Arvin mengangkat bahunya seraya mengamati ketiga orang yang ada di ruang keluarga.
Setelah sampai di sana, sepasang pengantin baru itu ikut bergabung di sana. Rupanya, bi Atin pamit pulang kampung karena putrinya sedang sakit. Bi Atin pun sepertinya tidak akan bekerja lagi di apartemen pak Bram, beliau mengatakan jika ingin menetap di kampung halamannya—Mojokerto, Jawa Timur.
Hampir satu jam lamanya bi Atin berada di sana, setelah pamit kepada semua anggota keluarga tersebut, akhirnya, bi Atin benar-benar pergi. Jujur saja, Fay rasanya ikut sedih melihat wanita sebaik bi Atin harus pergi jauh dari sisinya. Sebelum pamit, bi Atin memberikan alamat rumahnya kepada bu Linda.
"Kalian sudah sarapan?" tanya bu Linda setelah kembali ke ruang keluarga.
"Sudah lah, Mi. Ini hampir siang," jawab Arvin tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Ya sudah, kalian istirahat saja dulu. Nanti kita makan siang bersama," ucap bu Linda sebelum pergi dari ruangan tersebut, "oh ya, Vin. Ada beberapa kado yang Mami simpan di kamarmu," lanjut bu Linda saat teringat tentang kado pernikahan milik putranya.
"Bikinin aku kopi hitam dong!" bisik Arvin saat Fay bersiap berdiri dari tempatnya.
Tanpa banyak bicara, Fay segera pergi dari ruang keluarga. Ia berjalan menuju dapur untuk membuatkan kopi seperti yang diperintahkan oleh Arvin. Ini adalah pertama kalinya Arvin meminta sesuatu kepada Fay.
Fay mulai mencari kopi dan gula di dapur yang luas itu. Ia membuka setiap pintu rak yang berjajar rapi di sana untuk mencari dua bahan tersebut dan akhirnya, ia menemukan bahan dapur yang ia butuhnya saat ini.
"Hmmm ... boleh kali ya, ngerjain Arvin," gumam Fay saat melihat garam dalam toples bening. Segera ia membuka tutup toples tersebut dan menuang satu sendok garam ke dalam gelas berisi kopi bubuk.
__ADS_1
Senyum Fay mengembang begitu saja ketika mengaduk air panas yang ada dalam cangkir tersebut. Ia sudah membayangkan bagaimana reaksi Arvin nanti setelah minum kopi asin buatannya.
"Silahkan, Tuan muda," ucap Fay setelah meletakkan kopi tersebut di atas meja. Ia tersenyum manis seraya menatap Arvin.
"Terima kasih. Istriku sangat berbakti rupanya." Arvin tersenyum simpul tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sang istri.
Jantung Fay berdegup kencang saat melihat Arvin mulai meniup kopinya. Ia penasaran saja bagaimana reaksi pria tengil itu setelah mengetahui rasa asin bercampur pahit. Fay menggigit bibirnya saat melihat bibir Arvin semakin dekat dengan cangkir dan ....
Cuih!
"Kopi apaan ini, Fay!" teriak Arvin sambil meletakkan kopi tersebut di atas meja. Berkali-kali Arvin meludah di lantai karena merasakan rasa yang tak karuan.
Bukannya takut karena melihat mata Arvin terbelalak, Fay justru tertawa lepas. Ia merasa terhibur saja melihat ekspresi wajah Arvin ketika mengetahui rasa tidak enak di kopinya.
"Kamu sengaja ya!" ujar Arvin seraya beranjak dari tempatnya.
"Oh, kamu sudah berani, ya!" Arvin semakin mendekat ke tempat Fay berada saat ini. Ia membungkukkan tubuh dan berusaha untuk menggelitik perut yang tertutup dress itu.
"Arvin! Hentikan! Geli tahu!" teriak Fay sambil tertawa lepas, "ampun, Vin! Ampun!" teriaknya lagi.
Ruang keluarga yang biasa terasa sepi, kini dipenuhi suara gelak tawa pengantin baru itu. Tanpa sadar, jarak di antara Fay dan Arvin semakin terkikis. Mereka saling membalas satu sama lain dengan diiringi gelak tawa.
"Sekarang buatkan aku kopi lagi! Awas saja, kalau berani membuat kopi seperti ini lagi, jangan salahkan aku jika nanti malam aku akan melakukan sesuatu!" ancam Arvin dengan diiringi kerlingan mata yang genit.
Tentu saja hal itu berhasil membuat Fay terlonjak dari tempatnya. Ia segera berlari ke dapur untuk membuat kopi yang kedua kali. Ancaman dari Arvin adalah jurus ampuh bagi Fay.
Sementara itu, di pinggi pagar pembatas lantai dua, bu Linda dan pak Bram tersenyum penuh arti setelah melihat pemandangan indah di ruang keluarga. Mereka berdua bernapas lega setelah melihat sendiri bagaimana kedekatan putranya dan Fay. Bu Linda tak henti tersenyum karena hal ini.
__ADS_1
"Sepertinya mereka semakin dekat, Pi," gumam bu Linda sambil menatap Arvin yang sedang menunggu kedatangan Fay.
"Ya, Mami benar. Berarti setelah ini kita bisa bulan madu ya, Mi," ucap pak Bram seraya menatap sang istri penuh arti.
"Ih, apa sih, Pi!" Bu Linda tersipu malu mendengar hal itu, "kita bukan bulan madu, tapi liburan!" ujar bu Linda sambil mencubit lengan suaminya.
Ya, memang benar, sepasang suami istri itu sudah merencanakan hal ini sejak dulu. Mereka akan tinggal di suatu tempat yang asri, setelah Arvin menikah dan semua perusahaan sudah dialihkan kepada Arvin. Mungkin, ini bisa disebut dengan liburan tanpa usai, karena tidak ada yang tahu kapan sepasang suami istri itu kembali ke rumah ini.
"Kalau begitu mulai sekarang, Mami siap-siap deh," ucap pak Bram setelah membalikkan tubuhnya.
"Papi yakin mau liburan selama itu dan membiarkan Arvin mengurus perusahaan sendiri?" tanya bu Linda.
"Ya, Papi sangat yakin. Biarkan nanti Arvin belajar sendiri dengan Rofan," ucap pak Bram sebelum meninggalkan sang istri di tempatnya.
Sepeninggalan pak Bram, bu Linda kembali mengamati Arvin dan Fay di ruang keluarga. Beliau kembali tersenyum setelah melihat aktifitas anak dan menantunya di sana. Ada perasaan lega di dalam hati setelah melihat senyum bahagia putra semata wayangnya.
"Arvin, Arvin. Gitu aja pakai gak mau menikah! Sekarang nyaman dan enak kan punya istri! Dasar anak muda jaman sekarang!" gumam bu Linda tanpa melepaskan pandangan dari ruang keluarga.
...🌹Selamat membaca🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Weekend akan segera berakhir nih😎Kuy gunakan sisa waktu di hari libur ini dengan membaca novel super duper keren berjudul My Upside Down World karya author Irish_kookie❤️Jangan sampai gak baca ya😍
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1