
Dua bulan kemudian,
Satu design bangunan hasil goresan tangan Fayre telah selesai. Entah mengapa akhir-akhir ini dia merasa bosan dengan dunia lukis. Wanita berbadan dua itu lebih suka berkutat dengan pensil dan beberapa peralatan lainnya untuk menggambar design bangunan. Seperti rumah, apartment dan beberapa tempat lainnya.
"Wah hasil yang sangat bagus," puji Arvin setelah melihat design villa yang baru saja diselesaikan oleh Fayre, "kamu hebat, Sayang!" Arvin mengecup puncak rambut Fayre dengan penuh kasih.
"Jangan memuji aja! Buatkan aku villa seperti ini dong!" ujar Fayre sambil menunjuk kertas yang ada di meja kerja Arvin.
"Pasti. Setelah anak kita lahir nanti, aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku sudah menyiapkan lahannya di Bandung," ucap Arvin.
Hari perkiraan lahir kurang beberapa hari lagi. Semua perlengkapan dan keperluan melahirkan sudah disiapkan jauh hari. Bahkan, untuk rumah sakit pun sudah dipesan Arvin sejak satu minggu yang lalu. Fayre akan melahirkan di rumah sakit terbaik tempat dokter Areta praktek.
"Aku mau ke kamar dulu, Vin. Capek duduk di sini," ucap Fayre seraya berdiri dari kursi kerja sang suami.
"Arvin ... Arvin! Panggil Daddy gitu kek," protes Arvin karena Fayre tetap memanggil seperti hari-hari biasanya padahal mereka akan menjadi orang tua.
"Daddy? Yakin?" Fayre mengernyitkan keningnya, "gak salah nih? Kamu tuh gak cocok dipanggil daddy, Vin. Orang tiap malam kamu selalu ny*su gitu," ujar Fayre dengan tatapan mengejek.
"Ya, kan sebelum anak kita lahir, Sayang. Kalau udah punya anak kan gak bisa," kilah Arvin setelah mendapat jawaban menohok dari Fayre.
"Alasan saja! Syukur dah kalau udah punya anak tapi masih begitu. Emang kamu mau rebutan gitu sama anak sendiri?" cibir Fayre sebelum pergi meninggalkan Arvin di ruang kerjanya.
Arvin hanya bisa menghela napasnya karena setelah ini, dia harus merelakan sang istri berbagi perhatian dengan anaknya nanti. Jujur saja, ada rasa tidak rela saat Arvin membayangkan Fayre akan melupakannya dan hanya fokus kepada sang buah hati.
"Lebih baik aku istirahat saja lah. Malas juga mau lembur kerja," gumam Arvin setelah melihat penunjuk waktu yang ada di ruang kerjanya.
__ADS_1
Pada akhirnya Arvin memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya. Dia menyusul Fayre menuju kamar untuk beristirahat. Sepertinya jauh lebih baik menghabiskan waktu berdua dengan Fayre di atas ranjang daripada di ruang kerja bersama berkas-berkas yang perlu disetujui.
"Jangan diangkat sendiri! Biar aku saja!" teriak Arvin setelah masuk kamar dan melihat Fayre mengangkat tas berisi beberapa perlengkapan untuk melahirkan.
"Sudah, kamu istirahat saja," ucap Arvin sebelum berlalu dari hadapan Fayre. Dia pergi menuju walk in closet untuk menyimpan tas tersebut.
Fayre tersenyum manis setelah melihat apa yang sudah dilakukan oleh Arvin. Dia merasa bahagia karena seiring dengan berjalannya waktu, Arvin sedikit demi sedikit berubah menjadi sosok pria yang lebih dewasa dan mengerti. Bahkan, dia sudah tidak pernah lagi pergi ke club malam ataupun mengkonsumsi alkohol seperti dulu. Kehadiran sang buah hati yang sebentar lagi akan launching itu benar-benar membawa berkah dan perubahan untuk putra tunggal bu Linda itu.
"Sayang, kamu udah nyiapin semuanya kan?" tanya Arvin setelah kembali ke tempat Fayre berada. Dia duduk di tepian ranjang yang ada di sisi Fayre.
"Sudah. Semuanya sudah aku kemas kok," jawab Fayre setelah mengingat barang-barang yang perlu dibawa saat melahirkan nanti.
"Kalau begitu tinggal angkut doang kan itu tas dan kopernya kalau kamu melahirkan nanti,"ucap Arvin.
"Iya. Kalau bisa besok pindahin aja di mobil. Biar enak, Vin." Fayre mengangkat kakinya ke atas pangkuan Arvin, "pijitin," ucapnya dengan suara yang sangat manja.
"Semoga anak kita nanti bisa menjadi sosok yang tangguh dan hebat." Begitulah harapan Fayre saat mengusap perut buncitnya beberapa kali.
"Pasti! Anak kita nanti pasti akan menjadi sosok yang hebat dan kuat seperti aku," ujar Arvin dengan percaya diri.
"Amit-amit jabang bayi ... jangan sampai anak kita seperti kamu, Vin!" Fayre buru-buru mengusap perutnya sambil mengucapkan sesuatu yang dulu pernah diajarkan oleh bu Linda.
"Hei! Apa maksudmu, Pay!" Arvin tidak terima setelah mendengar ucapan sang istri.
"Memang salahku di mana? Aku berkata benar loh ini," ujar Fayre lagi, "coba bayangkan jika anak kita laki-laki dan kelakuannya seperti kamu, apa gak kasihan istrinya di masa depan?" tanya Fayre dengan menautkan ujung alisnya.
__ADS_1
"Memangnya aku kenapa? Aku tampan, kaya, pekerja keras, keren dan tentunya baik hati." Arvin sangat percaya diri saat membanggakan dirinya.
"Itu kan kata kamu sendiri, Vin!" Fayre tidak terima saat Arvin memuji diri sendiri.
"Oke lah, aku akui kalau kamu tampan dan pekerja keras. Tapi aku tuh gak mau ya kalau anak kita sampai mirip kamu." Fayre menatap Arvin dengan intens, "memang kamu mau anak kita jadi pria yang bodoh, ceroboh, suka datang ke club malam, pemabuk dan tentunya mudah dibohongi orang lain. Terus bagaimana nanti kehidupan anak kita kalau mewarisi semua itu dari kamu, Vin!" jelas Fayre tanpa ragu ataupun takut menyinggung perasaan suaminya.
"Hei! Jangan ungkit kesalahan di masa lalu!" sungut Arvin seraya menatap Fayre dengan intens.
Namun, tidak lama setelah itu, Arvin hanya diam saja tanpa berkomentar apapun lagi. Bola matanya bergerak ke kiri dan kanan seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Eh, tapi iya juga ya. Kalau anak kita mewarisi genetik dariku bisa kasihan ya. Hmmm ... ya sudahlah, anak kita biar jadi dirinya sendiri, gak mirip aku ataupun kamu," ucap Arvin setelah berpikir cukup lama.
Fayre hanya mengulum senyum mendengar jawaban tersebut. Dia tidak mau lagi membahas perihal tidak penting ini bersama Arvin. Lebih baik merebahkan diri dan istirahat untuk mengisi energi karena tidak lama lagi, dia akan berjuang dan mempertaruhkan nyawa demi menyambut sang buah hati.
"Eh, Fay. Jangan tidur dulu dong!" cegah Arvin setelah melihat Fayre merebahkan diri.
"Ada apa lagi sih!" Fayre berdecak kesal karena Arvin berusaha mengganggu waktu istirahatnya.
"Kita harus mengerjakan proyek yang disarankan oleh dokter Areta loh! Kamu ingat kan jika kita disuruh bekerja sama untuk proyek pelebaran jalan tol agar proses persalinan lebih lancar," ucap Arvin dengan tatapan penuh arti. Beberapa kali dia mengedipkan mata ke arah sang istri.
"Ya sudah, aku terima jadi pokoknya! Kamu yang harus kerja keras sendiri karena aku sudah tidak sanggup terlalu banyak gaya saat ini!" ujar Fayre tanpa mengubah posisinya.
Tentu hal ini membuat Arvin tersenyum penuh kemenangan. Dia harus sering berkerja sama agar jalan tol menuju surga semakin lancar, apabila anaknya nanti lahir.
"Cukup diam dan rasakan sensasinya, Sayang," gumam Arvin setelah melepas kaos hitam yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·...