Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Sikap yang sama,


__ADS_3

"Lalu, apa kamu percaya dengan semua diagnosa dokter Winda?"


Ya. Pertanyaan dari Fayre terus berkeliaran dalam pikiran Arvin hingga larut malam. Dia tidak bisa tidur karena teka-teki yang diberikan sang istri. Entah sengaja atau tidak, Fayre tidak memberinya jawaban yang pasti. Wanita cantik itu seakan membiarkan dirinya menjadi penasaran.


"Seandainya diagnosa itu palsu, apa sebenarnya tujuan tante Winda melakukan semua itu? Aku kan tidak punya masalah dengan Toni," gumam Arvin saat menerka kemungkinan yang terjadi. Dia mencoba mengingat kejadian di masa lalu yang mungkin saja membuat Toni terluka.


"Hanya Raka yang terlihat tidak suka denganku. Apa mungkin dia juga terlibat dalam masalah ini?" gumamnya lagi.


Kedua hal itulah yang membuat Arvin masih terjaga hingga dini hari. Tangannya tak henti membelai rambut hitam sang istri. Ada perasaan hangat yang menyelimuti diri Arvin setelah Fayre kembali di sisinya, meskipun wanita cantik itu masih menyimpan rasa kecewa dengannya.


"Kamu adalah bidadari yang dikirim Tuhan untuk melengkapi kekuranganku, Fayre. Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa ada kamu." Tatapan mata Arvin kini beralih menuju wanita yang sedang terlelap itu. Wajahnya terlihat damai dan tenang hinggs membuat Arvin mengembangkan senyumnya.


Arvin mengamati wajah tenang yang sangat dekat dengannya. Jari telunjukny bergerak beraturan di pipi, rahang hingga berakhir di bibir yang terlihat menggoda itu. Rasa rindu akan sebuah rasa yang biasa tercipta di kala memadu kasih, semakin membuat Arvin gelisah. Pria tampan itu rasanya ingin sekali mencicipi bibir sexy yang sedang terbuka itu.


"Kenapa belum tidur?" Tiba-tiba saja Fayre membuka kelopak matanya. Mungkin tidur nyenyaknya terganggu karena ulah sang suami yang tak henti menyusuri wajahnya.


"Wajahmu terlalu indah untuk dipandang, Sayang, hingga rasa kantukku hilang karena pesonamu," ucap Arvin dengan suara yang terdengar sensual.


"Hilih! Ngomong apa sih?" Bukannya tersanjung dengan rayuan tersebut, Fayre malah mengusap kasar wajah yang ada di hadapannya. Lantas dia mengubah posisinya membelakangi Arvin.


"Sayang, jangan seperti ini dong!" Arvin mencoba merayu Fayre agar kembali menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Hmmm." Hanya itu saja yang menjadi jawaban Fayre.


"Masa iya aku cuma bisa lihat punggung aja," gerutu Arvin sambil merapatkan tubuhnya.


"Kalau gak mau lihat punggung, lihat pantat tuh!" Sepertinya Fayre mulai kesal kepada Arvin karena tidur nyenyaknya harus terganggu.


Pria tampan itu semakin mengeratkan pelukan tangannya di perut Fayre. Aroma vanila musk membuat Arvin tak henti mengecup tengkuk mulus itu. Sesekali Fayre mencoba menjaukan bibir Arvin dari pusat kelemahannya selama ini. Sungguh, Arvin benar-benar menyebalkan di mata Fayre karena terus mencari cara untuk membangunkannya.


"Tidur, Arvin! Tidur!" ujar Fayre sambil mendorong wajah Arvin agar menjauh darinya, "jangan ganggu aku! Atau aku pergi dari kamar ini!" ancam Fayre setelah mengubah posisinya menghadap Arvin.


"Jangan marah, Sayang. Udah bobo lagi deh, aku nina boboin sini," ucap Arvin tanpa rasa bersalah sedikitpun karena sudah merusak mimpi indah sang istri.


Beberapa menit setelah Arvin membelai rambut hitam itu, Fayre tertidur pulas. Begitu pun dengan Arvin, dia ikut terlelap setelahnya. Mungkin mereka berdua terbang menuju alam mimpi yang sudah menanti.


Sementara itu, di salah satu club malam, Raka dan Dira sedang menghabiskan waktu berdua. Mereka sedang asyik meliuk-liukkan tubuh mengikuti alunan musik yang sedang menggema di sana. Keduanya terlihat mabuk setelah menghabiskan beberapa botol wine untuk menghabiskan malam.


"Raka, kepalaku pusing sekali," bisik Dira saat tubuhnya masuk ke dalam dekapan hangat Raka. Entah sejak kapan hubungan mereka sedekat ini, yang pasti mereka sering menghabiskan waktu meski secara sembunyi-sembunyi.


Kehidupan Dira semakin tak karuan. Meskipun masih menjadi simpanan kontrak seorang pengusaha asal kalimantan, akan tetapi Dira pun berani menjalin hubungan bersama Raka. Gadis itu seperti kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Dia berbuat semaunya untuk melepaskan segala beban berat yang ditanggung.


"Bagaimana kalau kita nginep di hotel?" bisik Raka dengan tangan yang menelusup ke dalam kaos oversize yang dipakai oleh Dira.

__ADS_1


"Come on, Baby." Dira menyambut permintaan Raka dengan senang hati.


Berada bersama di dalam kamar hotel bersama Raka bukanlah yang pertama kalinya bagi Dira. Sudah lebih dari tiga kali mereka berdua melebur gairah seusai pulang dari clubbing dan selama itu pula tidak terjadi apapun kepada Dira. Pengusaha yang menyimpannya pun tidak tahu apa saja yang sudah dilakukannya bersama Raka. Ya, Dira melanggar perjanjiannya bersama pengusaha itu. Dia hanya mengikuti perasaan yang ada dalam hatinya dan perasaan itu hanya untuk Raka.


"Kamu memang yang terbaik, Baby," ucap Raka setelah mereka berdua keluar dari club malam. Raka membimbing Dira masuk ke dalam mobilnya dan tak lama setelah itu, Raka segera membawa mobilnya menuju salah satu hotel bintang lima yang ada di kota tersebut.


Suara gelak tawa keduanya terdengar di sana saat mereka membahas hal-hal intim yang akan dilakukan. Lebih dari satu kali Raka harus menghindari kendaraan lain saat diriny asyik bicara dengan Dira. Tangannya pun mulai aktif menjelajah paha mulus Dira karena rok jeans pendek itu tersingkap.


"Raka, stop! Jangan lakukan di sini!" sergah Dira ketika merasakan jari telunjuk Raka menemukan lembah miliknya. Jari itu bergerak aktif untuk mencari batu permata yang tersembunyi di sana.


"Aku ingin mendengar lenguhanmu di sini, Baby," ucap Raka seraya tersenyum simpul setelah merasakan batu permata itu basah karena ulahnya.


Gila. Ya, itulah yang dirasakan Dira saat ini. Sensasi yang diberikan Raka membuatnya tak karuan. Bahkan, Dira sampai mencengkram tangan Raka dengan kuat ketika sampai di puncak rasa hanya dalam kurun waktu beberapa menit saja.


"OMG, Raka! Gila! Kamu gila!" rancau Dira saat menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


Helaan napas berat terdengar di sana. Dira tidak habis pikir jika Raka akan melakukan hal itu tanpa tahu tempat. Sensasi lain yang diberikan pria bertubuh kekar itu semakin membuatnya mabuk kepayang.


"Kamu akan merasakan lebih dari ini, Baby. Aku masih memiliki banyak cara untuk membuatmu terbang menembus awan," ucap Raka setelah melihat Dira untuk sesaat.


Sungguh sangat disayangkan, Dira sudah berubah rusak semenjak memutuskan untuk menjadi simpanan seorang pengusaha. Demi uang dia rela menjadi seperti ini. Reno dan bu Lisa lah yang patut disalahkan atas semua yang terjadi kepada Dira selama ini. Setelah kepergian Reno, kini hanya tinggal bu Lisa yang akan menanggung beban jika semua ini terbongkar. Beban lahir batin setelah tahu jika putri kesayangannya telah menjual diri.

__ADS_1


Bukankah sepandai apapun kita menyembunyikan bangkai, pada akhirnya tercium jua?


__ADS_2