Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Berburu nasi goreng,


__ADS_3

"Sayang ... aku pulang!" ujar Arvin setelah membuka pintu kamarnya.


Wajah sumringah serta senyum yang lebar mendadak pudar setelah melihat sosok yang sedang meringkuk di atas ranjang. Ada rasa khawatir yang menyelinap masuk ke dalam hati, karena tidak biasanya Fayre terlihat lemas seperti itu.


"Fay, kamu baik-baik saja?" tanya Arvin setelah duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur untuk menyentuh kening dan pipi sang istri, "kamu sakit? Kita ke dokter yuk!" ajak Arvin karena melihat sang istri hanya diam saja sambil mengedipkan kelopak matanya beberapa kali.


Sebelumnya Fayre tidak pernah seperti ini, tentu keadaan ini berhasil membuat Arvin khawatir akan kesehatan istri dan janin yang ada di dalam kandungan. Dia mengusap perut tersebut beberapa kali sambil menunggu jawaban dari sang istri.


"Peluk aku. Aku lemes gara-gara gak lihat kamu seharian ini," pinta Fayre dengan suara yang sangat lirih.


Arvin menggaruk tengkuknya setelah mendengar permintaan tersebut, karena alasan yang diucapkan Fayre menurutnya sangat aneh dan tidak masuk akal, "aku mandi dulu ya, aku kan baru pulang kerja," tolak Arvin dengan cara yang lembut agar sang istri tidak tersinggung dan marah.


"Jangan lama-lama," ucap Fayre dengan suara yang lirih.


"Enggak. Tenang saja." Arvin tersenyum simpul sebelum beranjak dari tempatnya. Satu kecupan mesra mendarat di kening sang istri sebelum dirinya pergi menuju kamar mandi.


Selang beberapa puluh menit, Arvin telah kembali dari ruang walk in closet dengan pakaian santai. Celana pendek dipadukan dengan kaos oblong berwarna putih melekat di tubuhnya. Pria tampan itu segera naik ke atas ranjang dan meraih tubuh sang istri ke dalam dekapannya.


"Kamu ingin makan apa, Sayang?" tanya Arvin seraya membelai rambut cokelat sang istri dengan penuh kasih.


"Aku ingin nasi goreng yang ada di pinggir jalan yang biasa kita lewati sebelum masuk komplek. Aromanya udah terbayang-bayang sejak tadi siang padahal aku mencium aromanya kemarin malam," gumam Fayre dengan suara yang lirih.


"Nanti malam kita beli yuk! Mau gak?" tanya Arvin dengan tangan yang tak henti membelai rambut tersebut.


"Mau banget," jawab Fayre dengan suara yang manja.

__ADS_1


"Sekarang katakan padaku, apa yang membuatmu menjadi lemas seperti ini. Apa kamu mual muntah lagi?" tanya Arvin lagi.


"Aku tuh dari tadi kangen berat sama kamu, Vin. Tiba-tiba badanku lemes aja setelah seharian gak lihat kamu. Apalagi, gak mencium aroma parfum yang biasa aku endus di sini!" ujar Fayre. sambil menyentuh ketiak Arvin.


Arvin mengulum senyum setelah mendengar pengakuan itu. Meskipun alasan tersebut terkesan mengada-ada, akan tetapi pada kenyataannya sang istri telah mengalaminya dan dia melihat sendiri bukti nyata saat ini.


"Kamu harus menjaga kesehatan agar anak kita tumbuh dengan baik. Aku lebih suka jika kamu berada di rumah, istirahat dengan tenang agar tidak terjadi sesuatu kepada anak kita nanti," ucap Arvin dengan tutur kata yang terdengar lembut dan menenangkan untuk Fayre.


Sepertinya wanita berbadan dua itu sedang mencerna penuturan yang baru saja diucapkan oleh Arvin. Ya, saran tersebut tentunya tidak salah karena semua ini demi kebaikan janin yang sedang tumbuh di dalam rahim. Fayre menengadahkan kepala seraya mengamati wajah yang membuat keadaannya menjadi lemas.


"Tapi kalau aku pengen lihat wajahmu bagaimana?" tanya Fayre dengan suara yang berat.


"Kita bisa melakukan video call, Sayang," ucap Arvin dnegan diiringi senyum yang manis.


Arvin berusaha membujuk sang istri agar tidak mengikutinya lagi. Tentu dia menggunakan tutur kata yang lembut dan meyakinkan. Selain risih dan tidak nyaman, Arvin sendiri mengkhawatirkan kondisi janin yan sedang tumbuh itu. Mungkin, dia harus melayangkan bujuk rayu yang bisa membuat sang istri luluh.


"Pakai jaket dan jangan pulang terlalu malam loh! Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu, Sayang. Lagi pula, kalian juga harus memperhatikan bagaimana cara masak dan kebersihan warung nasi gorengnya. Jangan sampai nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Bu Linda memberikan nasihat panjang lebar setelah melihat anak dan menantunya akan pergi berburu nasi goreng untuk makan malam.


Fayre tertegun setelah mendengar kalimat panjang yang diucapkan oleh sang mertua. Dia hanya menelan ludah karena tidak habis pikir dengan sang mertua yang terlalu berlebihan menurutnya.


"Iya, Mi. Kami berangkat dulu kalau begitu," pamit Fayre seraya tersenyum manis. Dia harus segera berangkat sebelum mendengar penuturan panjang sang mertua.


"Eh tunggu dulu! Ada yang ketinggalan!" ujar bu Linda setelah melihat anak dan menantunya bersiap berangkat.


"Ada apa lagi, Mi?" Kali ini Arvin yang bertanya karena dia sendiri tidak tahan mendengar kalimat panjang sang ibu.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu mendekat ke telinga sang menantu, lantas beliau berbisik saat mengingatkan Fayre satu hal yang penting, "jangan lupa usap perutmu sambil bilang 'amit-amit jabang bayi' kalau bertemu hal-hal yang aneh atau gak bener, seperti yang Mami ajarkan tadi siang," bisik bu Linda hingga membuat Fayre harus mengulum senyum.


"Iya, Mi, nanti saya akan melakukan seperti yang Mami perintahkan." Fayre tersenyum manis saat menjawab petuah tersebut.


Malam ini sepasang suami istri itu pergi dengan menggunakan motor matic yang ada di garasi, karena tidak ada tujuan selain mencari nasi goreng yang ada di luar komplek. Fayre tersenyum bahagia karena bisa menikmati malam yang indah sambil memeluk pinggang sang suami.


"Untung sepi itu warungnya," gumam Fayre sambil menunjuk warung nasi goreng yang dimaksud. Motor yang dikendarai Arvin pun berhenti di depan warung tersebut.


Fayre mencari tempat duduk yang nyaman untuknya, sementara Arvin berdiri di dekat gerobak nasi goreng untuk memesan dua porsi nasi goreng. Kali ini, Arvin memilih air mineral dalam kemasan untuk minumannya karena dirasa lebih aman untuk sang istri.


"Kamu melihat apa sih?" tanya Arvin setelah menemui sang istri di mejanya. Dia merasa aneh saja saat melihat sang istri sampai tak berkedip.


"Itu, Vin! Menggoda banget tau gak sih!" ujar Fayre bersemangat sambil menunjuk pedagang nasi goreng yang sedang berkutat dengan spatula dan penggorengan.


"Apanya? Nasi gorengnya?" tanya Arvin penasaran, karena dia tidak menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Bukan!" elak Fayre tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Terus?" Arvin menautkan alisnya karena penasaran.


"Abang nasi gorengnya. Itu brewoknya bikin aku gemes. Aku pengen ngusap brewoknya deh, Vin!" pinta Fayre. Kali ini dia menatap sang suami penuh harap.


Arvin ternganga setelah mendengar permintaan tersebut. Dia tidak menyangka saja jika Fayre akan meminta hal gila itu, "gak! Gak akan aku biarkan!" tolak Arvin dengan tegas. Dia tidak mau mengabulkan keinginan gak masuk akal sang istri.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2