
Warna gelap mendominasi cakrawala setelah bola raksasa berwarna jingga tenggelam di ujung barat. Gemerlap bintang mulai hadir untuk menghiasi kegelapan yang ada. Sama halnya dengan gedung resepsi yang akan di tempati Fay dan Arvin nanti, gedung tersebut berhiaskan lampu-lampu hias, bunga segar dan beberapa ornamen lain. Pelaminan yang indah nan megah berdiri kokoh, sangat cocok untuk ditempati raja dan ratu yang sedang berjalan beriringan menuju singgasana.
Semua tamu undangan yang sudah hadir, berdiri untuk menyaksikan prosesi yang sedang berlangsung saat ini. Senyum menawan terlukis jelas di wajah sepasang pengantin tersebut. Gaun mewah dengan belahan dada rendah melekat di tubuh Fay saat ini. Sungguh, malam ini para MUA yang bertugas berhasil membuat penampilan Fay menjadi sempurna.
Sepasang pengantin itu pun duduk di atas pelaminan. Para tamu undangan dipersilahkan duduk kembali di tempat masing-masing. Ternyata, di antara banyaknya tamu yang hadir, ada bu Lisa dan Dira yang sedang tercengang setelah melihat siapa pengantin wanitanya. Mereka shock karena tidak menyangka jika nama Kyomi Fayre, yang tertulis di undangan adalah Fay, gadis yang dibuang kala itu.
"Ma, rasanya, Dira sesak napas, Ma," ucap Dira tanpa melepaskan pandangan dari pelaminan megah itu. Beberapa kali tangannya mengusap bagian atas dadanya karena merasakan sesak.
"Mama mau pingsan, Dir." Bu Lisa tak mengalihkan pandangan dari objek yang membuat beliau tercengang.
Sedikitpun bu Lisa tidak pernah menyangka, jika gadis yang beliau buang kala itu, kini, mendapatkan nasib yang baik. Tentu, beliau pun tahu bagaimana sepak terjang keluarga Bramasta. Ada rasa tidak terima yang menjalar dalam hati ketika melihat gadis yang sangat dibenci itu, ternyata menjadi menantu konglomerat. Niat hati ingin memberikan pelajaran kepada Fay, malah beliau sendiri yang membukakan jalan untuk Fay bahagia.
"Sial! Rencanaku gagal! Harusnya Dira yang menjadi menantu Bramasta! kenapa harus gadis sialan itu!" umpat bu Linda sambil mencengkram ujung gaunnya.
"Ma, lebih baik kita pulang saja ya! Nanti kita bisa malu loh, Ma." Dira beranjak dari tempat duduknya, ia bersiap pergi dari gedung ini, akan tetapi tangannya ditarik bu Lisa.
"Kita harus menemui mereka!" ujar bu Lisa tanpa menatap putrinya.
Wanita yang sedang memakai gaun berwarna salem itu beranjak dari tempatnya. Beliau menarik tangan Dira agar mengikuti beliau untuk menemui pengantin yang sedang tersenyum manis itu. Mata bu Lisa menjadi merah karena menahan emosi yang akan meledak di dada.
__ADS_1
"Selamat malam pak Hardi," sapa bu Lisa setelah berdiri di depan pak Hardi, "pernikahan macam apa ini? Saya sebagai ibunya kok tidak tahu jika putri saya menikah?" sarkas bu Lisa seraya menatap pak Bram dan bu Linda bergantian.
"Ibu macam apa yang tega membuang putrinya karena harta. Dasar gak tahu malu!" Bu Linda kali ini tidak mau diam saja setelah mendengar ucapan bu Lisa.
Dira terbelalak setelah mendengar ucapan bu Linda. Wajahnya semakin merona karena menahan malu dan amarah yang menjadi satu, "ayo, Ma! Kita pergi saja!" ujar Dira seraya menarik tangan Bu Lisa.
Bukannya mengikuti ajakan putrinya, bu Lisa malah berjalan ke tempat Fay berada saat ini. Beliau berdiri tepat di hadapan Fay dengan sorot mata penuh amarah. Apalagi, setelah melihat wajah tampan Arvin dari dekat, api amarah pun semakin berkobar dalam dirinya.
"Oh, ternyata kamu menjual diri kepada pria kaya, Fay! Hebat sekali!" ujar bu Lisa dengan senyum smirk.
"Jaga ucapan Anda, Nyonya!" Arvin tidak terima dengan tuduhan wanita yang ada di hadapannya itu.
"Kalian berdua memang gak punya sopan santun! Apa kalian tidak bisa datang memberitahu saya, jika kalian akan menikah! Ingat Fay! Saya ini sudah berjasa dalam hidupmu!" Bu Lisa mengarahkan jari telunjuknya ke dekat wajah Fay.
"Jika sudah selesai, silahkan Anda pergi! Masih banyak tamu yang ingin menemui saya!" ujar Fay dengan tegas.
Fay bernapas lega setelah bu Lisa dan Dira berlalu pergi dari hadapannya, tanpa kata apapun. Ia sangat bahagia karena pada akhirnya, bu Lisa tahu jika dirinya sudah menikah. Fay tak melepaskan pandangan hingga kedua wanita tersebut hilang dari pandangan.
"Semoga setelah ini, kalian berpikir matang sebelum bertindak," gumam Fay dalam hati.
__ADS_1
Waktu terus berjalan tanpa kenal lelah. Tamu undangan yang datang semakin banyak dan hampir memenuhi semua kursi. Teman-teman Arvin pun sudah datang dan mencari tempat masing-masing tak terkecuali Raka, Toni dan Fabi. Mereka mendapatkan tempat duduk di meja paling depan.
"Gue sepertinya gak asing sama istrinya si Arvin," celetuk Fabi saat mengamati wajah cantik Fay.
"Dia wanita asli 'kan? Bukan wanita jadi-jadiannya Thailand!" Toni pun ikut berkomentar.
Sementara itu Raka hanya diam saja, ia sedang mengingat di mana pernah bertemu wanita yang ada di sisi Arvin itu. Sepertinya, ia pun tidak asing dengan wajah cantik tersebut. Sepanjang berjalannya acara tersebut, Raka hanya diam saja, sambil mengingat di mana pernah bertemu dengan Fay. Namun, sampai detik ini, Raka tak kunjung menemukan jawabannya hingga mendengar celetukan Toni,
"sepertinya itu gadis baru yang sok suci kala itu deh. Dia macam anak buahnya tante Nella." Toni terlihat sangat yakin dengan ucapannya.
Senyum smirk tiba-tiba saja mengembang dari bibir Raka. Ia seperti menemukan sebuah cara untuk merusak kebahagiaan sepasang pengantin baru itu.
"Lihat saja, tidak lama lagi, aku akan melancarkan aksiku, Vin!" gumam Raka dalam hati.
...πΉSelamat membacaπΉ...
ββββββββββββββββ
Aku ada rekomendasi karya keren yang bisa dibaca saat weekend gini lohπKuy kepoin karya dari author Eni Pua dengan judul Mengejar Cinta Casanova. Jangan sampai ketinggalan setiap episodenya yaπ€
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...