Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Berita dari Tante Winda,


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,


"Ya, setelah ini aku mampir ke rumahmu," ucap Arvin sebelum panggilan bersama Toni terputus.


Setelah meletakkan ponselnya di atas meja kerja, padangan Arvin tertuju kembali pada layar monitor laptop. Dia harus segera menyelesaikan pemeriksaan laporan dari Kabag Marketing agar bisa pulang lebih awal. Nanti malam pria tampan itu harus menghadiri acara keluarga besarnya bersama Fay.


"Jika tante Winda ingin bicara denganku tanpa Fay, berarti ada hal yang sangat penting dan rahasia," gumam Arvin setelah menyelesaikan pekerjaanya.


Setelah menutup laptopnya, Arvin menyandarkan kepala di kursi. Tatapannya lurus ke depan dan terlihat sangat serius. Pria tampan itu mencoba menerka apa kiranya yang akan dibahas orang tua Toni tanpa sepengetahuan istrinya.


"Lebih baik aku menemui tante Winda sekarang juga," gumam Arvin sambil membereskan barang-barang pribadinya ke dalam tas.


Sebelum meninggalkan ruangannya, Arvin memberitahu Rofan terlebih dahulu, jika dirinya pulang lebih awal. Asisten pribadinya itu akan menghandle pekerjaan jika dirinya tidak ada di tempat.


Entah mengapa, perasaan Arvin mulai tidak enak. Dia menduga jika pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan hasil pemeriksaannya kemarin. Entah itu dirinya atau Fay yang bermasalah. Pastinya, saat ini pria tampan itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Lagu-lagu klasik dari grup band terkenal dari Amerika menemaninya selama dalam perjalanan menuju kediaman Toni. Setelah berada di jalanan kota setelah beberapa puluh menit lamanya, mobil hitam itu pun sampai di halaman rumah Toni. Sang pemilik segera keluar dari mobil dan berjalan menuju teras.


Tidak sampai satu menit, Arvin menunggu di depan pintu. Kedatangannya disambut hangat oleh Toni dan mereka segera masuk ke dalam rumah bergaya eropa itu. Arvin duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu, sementara Toni masuk ke dalam untuk memanggil ibunya.


"Selamat sore, Vin," sapa tante Winda setelah sampai di ruang tamu. Wanita seumuran dengan bu Linda itu duduk tak jauh dari tempat Arvin berada saat ini.


"Sore, Tante," balas Arvin dengan diiringi senyum tipis.

__ADS_1


Tidak lama setelah bu Winda duduk, Toni pun kembali ke ruang tamu dengan membawa minuman kaleng untuk sahabatnya itu. Toni memilih duduk di samping Arvin daripada berada di samping wanita yang melahirkannya ke dunia ini.


"Arvin, ada hal penting harus Tante bahas tanpa sepengetahuan istrimu," ucap tante Winda tanpa mengulur waktu karena setelah ini beliau harus pergi dinas ke rumah sakit.


"Silahkan, Tante," ucap Arvin sambil menegakkan tubuhnya.


Wanita paruh baya itu mengeluarkan kertas yang tersimpan dalam amplop bewarna putih. Lantas, tante Winda memberikannya kepada Arvin, "ini adalah hasil tes sperm* yang sudah kamu lakukan. Baca dan pahami hasilnya," ucap tante Winda seraya menatap Arvin penuh arti.


Sementara Toni terlihat tidak nyaman ketika melihat Arvin membaca selembar kertas tersebut. Dia hanya bisa diam dan menatap perubahan ekspresi wajah sahabatnya itu.


"Maaf, Tante ... saya belum paham kesimpulan hasil tes yang saya jalani. Tolong dijelaskan dengan rinci," pinta Arvin seraya menyerahkan kertas tersebut kepada tante Winda.


Sebelum menjelaskan isi dari hasil tertulis dari laboratorium, tante Winda menghembuskan napasnya yang berat. Beliau menatap Arvin dengan intens dan menjelaskan sesuatu yang tidak akan disukai oleh Arvin. Semua itu terlihat jelas dari mimik wajah pria tampan tersebut. Dia shock atas apa yang disampaikan oleh tante Winda.


"Tapi pada kenyataannya memang seperti itu, Vin," sesal tante Winda setelah menjelaskan semuanya. Terbesit rasa kasihan kepada pria yang seumuran dengan putranya itu, "maka dari itu, Tante menyuruhmu datang kemari sendiri," lanjut tante Winda.


Rasanya, apa yang tertulis di atas kertas tersebut berhasil menghancurkan dunia indah yang Arvin bangun saat ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana respon Fay nanti setelah mengetahui semuanya.


"Tolong rahasiakan semua ini, Tante. Jangan biarkan istri saya mengetahui semua ini. Tolong, usahakan semua baik-baik saja di hadapan istri saya. Tante paham 'kan maksud saya?" ujar Arvin seraya menatap tante Winda penuh arti.


Beberapa rencana disampaikan tante Winda kepada Arvin dan pria itu menyetujuinya, mengingat rencana tersebut tidak akan membuat Fay terluka lagi. Sebagai seorang sahabat, Toni pun memberi dukungan penuh kepada Arvin. Jujur saja, ia sedih melihat sorot mata kekecewaan yang terpancar dari mata sipit itu.


"Berapa persen kemungkinan program hamil ini akan berhasil?" tanya Arvin setelah terdiam beberapa menit.

__ADS_1


"Tidak lebih dari lima persen, Vin," jawab tante Winda.


"Program ini harus tetap berjalan. Setidaknya saya masih memiliki harapan lima persen," ucap Arvin dengan suara yang bergetar.


Ada rasa bersalah yang begitu besar saat mengetahui semua ini adalah hasil dari pola hidup yang tidak sehat serta efek dari minuman beralkohol yang selama ini dikonsumsinya. Apalagi, ketika teringat akan keinginan Fay yang menggebu untuk segera memiliki momongan.


"Apa ada yang ditanyakan lagi, Vin? Tante harus segera berangkat ke rumah sakit," ucap tante Winda saat melihat Arvin hanya diam dengan tatapan mata yang kosong.


"Tidak ada, Tan. Saya hanya minta tolong kepada Tante untuk menjaga perasaan istri saya. Tolong buatkan surat keterangan palsu yang menyatakan saya sehat."


Arvin pun menyampaikan rencana yang sempat terlintas dalam pikirannya. Ia hanya ingin yang terbaik untuk kebahagiaan istrinya. Sepertinya tante Winda dan Toni pun paham apa yang diinginkan oleh Arvin untuk ke depannya.


"Begini saja, Vin. Mumpung kita bertemu di sini, Tante akan memberimu obat dan vitamin yang bisa membantu untuk menyuburkan sperm*. Obatnya diminum satu kali sehari di saat pagi," ucap tante Winda setelah teringat obat yang beliau bawa dari rumah sakit, "Ton, ambilkan sebentar di ruangan Mama! Obatnya ada di kotak obat berwarna hijau," titah tante Winda seraya menatap Toni.


Tanpa banyak bicara Toni segera pergi menuju ruangan orang tuanya untuk mengambil obat yang dimaksud. Tak berselang lama, pria bertubuh tinggi itu kembali ke ruang tamu dengan menggenggam botol obat yang dimaksud oleh ibunya.


"Ini obatnya. Tolong disimpan baik-baik," ucap tante Winda saat menyerahkan obat tersebut kepada Arvin, "jika sudah habis, kamu bisa menghubungi Toni, nanti akan Tante bawakan," ucap tante Winda sebelum pamit berangkat pergi untuk Dinas.


Arvin pun pamit pulang karena setelah ini dirinya ada acara keluarga. Toni mengantar Arvin sampai di depan teras rumah. Ia melambaikan tangan saat mobil yang dikendarai Arvin mulai melaju keluar dari pintu gerbang.


"Semoga Tuhan selalu melindungi, Vin. Kamu pasti bisa melewati semua ini," gumam Toni yang sedang menyandarkan kepala di pilar rumahnya.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...

__ADS_1


__ADS_2