
Keramaian ibu kota serta padatnya jalan raya adalah perihal yang biasa terjadi di kala senja. Semua orang ingin sampai lebih cepat menuju rumah masing-masing untuk bertemu keluarga. Sama halnya dengan mobil putih yang dikendarai sopir pribadi Dira, beliau mengarahkan setir mobil ke arah jalan alternatif agar sang nona muda segera sampai di rumah.
"Kalau bisa lebih cepat ya, Pak," ucap Dira karena sudah tidak tahan lagi dengan dengan kondisi tubuhnya yang mendadak terasa tidak enak.
"Siap, Nona," ucap sopir tersebut.
Usia kandungan Dira sudah memasuki minggu ke sebelas. Perutnya mulai terlihat karena janin yang ada dalam rahimnya tumbuh dengan baik. Sampai saat ini bu Lisa tidak tahu tentang kondisi putrinya karena Dira selalu memakai pakaian model oversize untuk menyamarkan bentuk tubuhnya yang mulai mengembang.
"Akhirnya sampai juga." Dira menghela napas panjang setelah mobilnya berhenti di halaman luas rumah megah tersebut. Dia segera turun setelah sang sopir membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih, Pak," ucap Dira sebelum berjalan menuju teras rumah.
Langkah demi langkah telah dilalui wanita cantik itu hingga sampai di ruang keluarga. Dia menghempaskan tubuh di sana untuk melepas rasa lelah. Sesekali Dira mengusap perutnya beberapa kali saat merasakan kram.
Kala itu setelah mendapatkan penolakan dari Raka, Dira sempat mempunyai pikiran untuk aborsi. Namun, setelah mengikuti ibadah minggu di gereja, dia mengurungkan niatnya. Wanita itu bertekad untuk menghadapi semuanya meski dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi setelah bu Lisa mengetahui kebenarannya.
"Ini Mama buatkan cokelat hangat untukmu," ucap bu Lisa setelah meletakkan cangkir keramik beserta tatakannya di atas meja.
"Terima kasih, Ma." Dira berusaha bangun dari tempatnya saat ini dan tanpa sengaja kakinya menendang tas hitamnya hingga jatuh ke lantai berlapis karpet bulu itu.
Dira tercengang setelah melihat isi tas itu berantakan tepat di kaki bu Lisa. Apalagi, setelah melihat buku berwarna merah mudah sudah berada di tangan bu Lisa. Dia hanya bisa menggeleng beberapa kali setelah bu Lisa membaca sampul buku kesehatan ibu dan anak itu atas nama dirinya.
__ADS_1
"Kenapa buku ini atas namamu, Dira?" tanya bu Lisa dengan suara yang sangat lantang.
Dira hanya bisa menggeleng pelan karena tidak tahu harus menjawab bagaimana. Rasa lelah yang sempat menerpa kini hilang begitu saja berganti dengan rasa takut yang begitu besar.
"Katakan kepada Mama sejak kapan kamu menyembunyikan semua ini?" tanya bu Lisa setelah membaca catatan pemeriksaan yang ada di sana.
"Ma ... Ma." Dira hanya menggeleng pelan setelah melihat ekspresi wajah bu Lisa.
"Jangan bilang anak itu hasil hubunganmu dengan suami wanita lain?" tuduh bu Lisa seraya beranjak dari tempatnya.
Dira hanya bisa menelan ludah setelah bu Lisa berdiri di hadapannya. Wanita berbadan dua itu harus menahan rasa sakit saat bu Lisa mencengkram kedua pipinya dengan erat. Air mata pun mulai mengalir deras karena perasaan yang membuncah di dada.
"Siapa ayah dari janinmu?" tanya bu Lisa sekali lagi. Wajah wanita paruh baya itu menunjukkan rona merah karena sedang menahan emosi yang begitu besar dalam diri, "apa Erico ayah dari janin itu?" Bu Lisa semakin mencengkram rahang putrinya dengan erat.
"Lalu siapa, Dira? Pria mana lagi yang tidur denganmu?" Bu Lisa semakin emosi setelah mendengar pengakuan putrinya.
"Ra ... Raka!" Akhirnya Dira mengakui Raka sebagai ayah dari janin yang ada dalam kandungannya saat ini.
Jantung bu Lisa seakan berhenti berdetak setelah mendengar pengakuan putrinya. Napasnya mulai tersengal karena shock atas kabar yang disampaikan oleh putrinya. Tentu bu Lisa tahu jika Raka saat ini sedang mendekam di penjara. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab dengan semua ini? Sesak, ya rasanya napas wanita paruh baya itu semakin sesak.
"Tidak ... tidak mungkin," gumam bu Lisa setelah melepaskan cengkraman tangannya. Wanita paruh baya itu memundurkan langkahnya.
__ADS_1
Bruk! Bu lisa tak sadarkan diri. Tubuhnya ambruk di lantai dengan posisi terlentang. Dara berteriak meminta pertolongan orang-orang yang ada di rumah. Tangis pun pecah di sana karena takut terjadi sesuatu dengan ibu tercinta. Dira terus berusaha membangunkan bu Lisa dan tidak lupa dia memeriksa denyut nadi dan urat leher wanita paruh baya itu.
***
Air mata seakan tidak ada habisnya karena jiwa yang terguncang. Duduk seorang diri di depan ruang ICU sambil menangisi keadaan kritis wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Ya, Dira merasa rapuh karena harus melawan semua ini seorang diri. Sesekali dia mengusap perutnya yang terasa kram karena mungkin kelelahan.
"Tuhanku, tolong selamatkan mama. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain mama," gumam Dira di sela-sela isak tangisnya.
Bu lisa harus dirawat secara intensif di ruang ICU karena serangan jantung akut. Beliau belum sadarkan diri hingga saat ini. Beberapa alat medis pun terpasang di tubuhnya agar bisa bertahan hidup walau dokter sendiri tidak bisa menjamin akan hal itu.
Rasa sesal tentu dirasakan oleh Dara. Kali ini dia lah yang menjadi penyebab atas keadaan yang sedang terjadi saat ini. Kesalahan yang dilakukan Dira begitu fatal hingga menyebabkan wanita kuat yang selalu melindunginya itu berada di titik yang paling lemah. Bukankah memang seperti itu, ibu mana yang rela melihat putrinya hamil tanpa ada yang bertanggung jawab. Apalagi Dira bukanlah wanita biasa, dia seorang pemimpin perusahaan. Mungkin saja bu Lisa tidak siap menerima keadaan putrinya yang bisa mencoreng nama baik keluarga.
"Kenapa beban ini semakin berat? Aku harus bagaimana setelah mama sadar?" Lagi dan lagi Dira hanya bisa menangis ketika mengatakan hal itu.
Dira mengusap perutnya beberapa kali karena merasa tidak nyaman. Bahkan, dia sendiri tidak tahu harus bagaimana setelah ini. Menjadi ibu tunggal tanpa sebuah pernikahan tentu akan membutuhkan mental yang sangat besar. Dira semakin tergugu saat membayangkan betapa berat perjuangannya nanti setelah bayi yang ada dalam kandungannya lahir tanpa seorang ayah.
"Maafkan ibu ya, Nak. Maaf." Dira bergumam lirih karena merasa bersalah atas semua yang sudah terjadi, "kamu harus kuat meski tanpa ada sosok ayah yang menemanimu," gumamnya lagi sambil mengusap perut itu beberapa kali.
Sampai saat ini Dira belum mengunjungi Raka lagi. Dia belum siap jika harus mendengar kata-kata pedas dari pria yang memenuhi isi hatinya. Dira pun tidak bisa hidup tenang karena pria bernama Erico itu masih menghantuinya meski mereka sudah tidak pernah bertemu lagi. Erico terlanjur nyaman bersama Dira untuk melampiaskan kelainan seksual yang selama ini dialaminya. Erico tidak bisa melakukan hal itu kepada istrinya karena sedang hamil besar maka dari itu dia mencari partner untuk memenuhi kebutuhan batin yang tak biasa.
Terkadang kita tidak tahu jika sedang menuai hasil apa yang sudah kita tanam. Lalu apakah bijak jika menyalahkan jalan hidup penuh duri yang harus kita lalui?
__ADS_1
...🌹Selamat hari minggu🌹...
...🌷🌷🌷🌷...