
Langit gelap telah hilang ditelan waktu. Matahari sudah naik ke permukaan untuk menampakkan kuasanya. Akan tetapi, kuasanya tidak bisa menembus tirai di kamar bernuansa abu-abu itu, hingga tidur nyenyak pria penghuni kamar itu pun tidak terganggu sama sekali.
Suara dering ponsel beberapa kali berhasil mengusik tidur nyenyak Arvin. Ia meraba sisi lain tempat tidurnya untuk mencari ponsel. Kelopak matanya belum terbuka sempurna karena rasa pusing masih menghantam kepala.
"Hallo," ucap Arvin dengan suara yang lirih setelah mengangkat telfon. Suara Rofan terdengar di sebrang sana.
"...."
"Ya. Saya baik-baik saja! Tidak sakit," ucap Arvin dengan suara paraunya.
Arvin terkesiap setelah mendengar penuturan asistennya itu. Ia terhenyak dari posisinya saat ini, mata sayupnya mengedarkan ke sekeliling, untuk melihat suasana di dalam kamar tersebut.
"Nanti saya kabari lagi. Saya cek dulu di rumah," ucap Arvin sebelum meletakkan ponselnya di atas nakas.
Arvin shock setelah melihat kondisi ranjangnya. Berantakan. Ia menyingkap selimut tebal itu untuk memastikan satu hal. Benar saja, Arvin terkejut setelah melihat kondisi tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Bercak darah terlihat mengering di sprei putih itu. Sungguh, hal ini semakin membuat kepala Arvin menjadi pening.
"Bodoh!" Arvin mengumpati dirinya sendiri sambil memijat pangkal hidungnya.
Rentetan kejadian mulai terputar dalam memori otaknya. Arvin menggeleng pelan, setelah ingat jika dirinya telah melanggar perjanjian. Tragisnya, Arvin melakukan hubungan itu dengan paksaan. Lebih tepatnya jika ia memperk*sa istrinya sendiri.
"Kemana dia sekarang?" gumam Arvin setelah sadar jika tidak ada sang istri di kamar tersebut.
Arvin segera turun dari ranjang dan memakai celananya kembali. Ia harus memastikan di mana keberadaan Fay saat ini, karena Rofan baru saja memberikan kabar jika Fay meninggalkan rumah sejak tadi malam. Rofan mendapat laporan dari petugas keamanan yang melihat Fay keluar rumah sejak tadi malam dan sampai sekarang belum kembali.
"Fay!" teriak Arvin sambil membuka kamar mandi. Akan tetapi tidak ada siapapun di sana. Ia memeriksa walk in closet dan membuka almari pakaian milik sang istri.
__ADS_1
"Bahkan aku tidak tahu apa saja isi almari ini!" gumam Arvin. Lantas ia membuka pintu almari lain untuk mencari koper, "satu koper tidak ada di tempatnya," gumam Arvin setelah melihat koper berwarna hitam tidak ada di tempatnya.
Arvin segera keluar dari kamar dan menuju ruang kerja untuk mencari tahu lewat rekaman CCTV di rumah ini. Monitoring CCTV ada di ruang kerja yang dulu ditempati oleh pak Bram.
"Sial! Dia kabur!" ujar Arvin setelah melihat rekaman jika Fay pergi menggunakan mobil bu Linda.
Rasa pusing yang masih melanda, kini, semakin bertambah. Kali ini Arvin harus menemukan di mana keberadaan Fay, karena tidak mungkin bukan jika ia tidak tahu di mana Fay saat ini. Bisa-bisa pak Bram kembali ke Indonesia hanya untuk menggantungnya.
"Kamu kemana Fay," gumam Arvin setelah berada di dalam kamarnya. Ia mencoba menghubungi sang istri akan tetapi nomor ponsel Fay di luar jangkauan.
Arvin mencoba berpikir kemana sebenarnya sang istri. Ia mulai menerka tempat yang mungkin menjadi tujuan sang istri. Rumah bu Lisa rasanya tidak mungkin. Lalu, kemana sebenarnya Fay saat ini. Pada akhirnya, Arvin lebih memilih menelfon Rofan untuk meminta bantuan.
"Istri saya tidak ada di rumah. Dia ternyata kabur sejak tadi malam. Tolong, bantu saya mencari Fay. Mungkin saja, Fay pergi ke bandara," ujar Arvin saat panggilan mulai terhubung.
"Ternyata dia masih suci?" Arvin bergumam lirih, "jadi, semua pradugaku salah? Dia benar-benar tidak pernah berhubungan dengan pria lain," lanjutnya tanpa mengalihkan pandangan dari objek tersebut.
Arvin kembali merebahkan diri di sana. Ia mencoba untuk menyatukan semua informasi yang sudah ia terima dan kenyataan yang sebenarnya. Lalu, bagaimana dengan penjelasan Raka dan pemilik club tersebut? Mungkinkah mereka berdua berbohong? Ya, pertanyaan itu terus menari-nari dalam ingatan.
"Bodoh kamu, Vin! Bodoh!" Arvin menarik rambutnya setelah teringat apa saja yang sudah ia tuduhkan kepada Fay tadi malam.
"Hanya Mami dan Papi yang bisa meluruskan semua ini," gumam Arvin.
Segera ia meraih ponselnya lagi untuk menghubungi bu Linda ataupun pak Bram. Akan tetapi, Arvin mengurungkan niatnya setelah sadar jika semua ini berisiko tinggi. Memberi tahu mereka sama halnya dengan memasang ranjau untuk diri sendiri.
"Lalu, kenapa dia kerja di club malam?" gumamnya lagi saat mengingat video yang tersimpan di ponsel Toni. Video beberapa detik saja saat Fay masuk ke dalam room sambil membawa minuman.
__ADS_1
"Sial! Bodoh lu, Vin!" Sekali lagi Arvin mengumpati dirinya sendiri.
Apa yang terjadi tadi malam kembali memenuhi pikirannya. Arvin mengusap wajahnya kasar saat teringat bagaimana Fay memohon kepadanya dengan air mata yang berlinang. Arvin tidak bisa membayangkan betapa terlukanya Fay saat ini.
"Lebih baik aku berendam saat ini." Arvin turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
Bathup telah terisi penuh dengan air hangat. Busa telah menggelembung di sana dan Arvin pun segera masuk ke dalam bathup tersebut. Ia menengadahkan kepala dan tak lama setelah itu, ia menutup kelopak matanya. Bayang-bayang wajah penuh air mata Fay kembali menghantui pria tampan itu.
"Bagaimana nanti jika aku sudah menemukanmu, Fay. Apakah kamu bisa memaafkanku," gumam Arvin dengan tatapan yang tak lepas dari langit-langit kamar mandi.
Arvin sangat berharap jika Fay segera ditemukan. Ia harus minta maaf kepada istrinya itu karena sudah melanggar perjanjian. Ia tidak mau jika Fay sampai menjauh ataupun membencinya. Sungguh, Arvin tidak bisa membayangkan hal itu.
"Apa-apaan ini! Apa mungkin aku mulai nyaman dengan dia," gumam Arvin setelah sadar jika dirinya begitu kehilangan atas kepergian Fay dari rumah ini.
"Gak mungkin!" Arvin menyangkal apa yang ada dalam pikirannya.
Pagi telah berlalu. Hari minggu pun hampir lewat setengah hari. Kabar tentang keberadaan Fay belum ada yang tahu, padahal Rofan sudah mengerahkan anak buahnya. Ponsel Fay tidak bisa dilacak melalui GPS. Entah kemana sebenarnya Nyonya muda keluarga Bramasta ini. Dering ponsel Arvin kembali menggema di ruang keluarga, segera ia mengangkat telfon tersebut untuk mengetahui kabar terbaru.
"Mobil yang dipakai Nyonya Fayre ditemukan di parkiran Bandara. Nama Nyonya Fayre tidak ditemukan dalam penerbangan hari ini." Inilah informasi yang disampikan oleh Rofan, hasil pencarian Fay di Bandara Soetta.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Hmmm ... kapok lu, Vin! Emang enak ditinggal istri😆😝...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1