
Langit telah berubah menjadi gelap setelah sang mentari kembali ke singgasananya. Gemerlap bintang menghiasi malam karena sang dewi malam enggan menampakkan diri. Mobil hitam milik pak Bram baru saja memasuki gerbang yang menjulang tinggi itu, mereka segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah megah tersebut.
Bu Linda berjalan bersama Fay terlebih dahulu. Mereka meninggalkan para pria yang masih berbincang di depan mobil. Pandangan Arvin tak lepas dari punggung wanita yang ada di sisi ibunya. Ia merasa lega karena pada akhirnya bersedia pulang ke Jakarta.
Rombongan keluarga Bramasta bertolak dari bandara Juanda sekitar jam empat sore. Sebelum pulang, tentunya mereka pamit kepada keluarga bi Atin saat berkumpul di ruang inap Mia. Bu Linda sangat berterima kasih karena mantan ART yang bekerja di rumahnya dulu, menyambut kehadiran Fay dengan baik. Sebelum meninggalkan rumah sakit, Arvin memberikan beberapa lembar rupiah di dalam amplop cokelat kepada bi Atin. Ia berdalih jika itu untuk tambahan biaya pengobatan Mia. Tentunya, isi amplop itu bernilai fantastis bagi bi Atin.
Bu Linda mengantar Fay sampai di depan kamarnya. Meskipun ragu, Fay tetap saja membuka pintu tersebut. Seperti yang dikatakan bu Linda tadi pagi, ia harus bisa melawan rasa takut itu untuk bisa menjadi wanita yang kuat. Fay menghentikan langkahnya saat sampai di dekat ranjang. Ia tertegun tatkala melihat pigura berukuran besar menggantung di dinding yang ada di atas ranjangnya. Sebuah foto dirinya dan Arvin setelah pemberkatan pernikahan terbingkai indah di sana.
"Sejak kapan foto Ini ada di kamar?" Fay bergumam lirih saat mengamati foto tersebut.
Cukup lama Fay memandang foto tersebut. Pandangannya tak lepas dari sosok pria tampan yang berdiri di sisinya itu. Pria yang sudah membuatnya kabur dari rumah ini.
"Apa kamu tidak suka dengan fotonya?"
Fay terkesiap ketika mendengar suara Arvin di belakangnya. Ia tidak tahu jika Arvin sudah masuk ke dalam kamar. Fay menghela napasnya untuk mengatur napas yang tidak beraturan itu. Ada rasa takut ketika berada di kamar ini hanya berdua dengan Arvin. Memori malam itu kembali hadir dalam ingatan.
"Suka." Hanya itu jawaban yang lolos dari bibir Fay, itupun dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Fay melangkahkan kakinya ke walk in closet untuk menghindari Arvin. Sepertinya, ia harus tidur cepat agar tidak berdekatan dengan Arvin terlalu lama. Setelah mendapatkan pakaian yang dirasa cocok untuknya, Fay segera keluar dari ruangan tersebut dan masuk ke kamar mandi. Ia hanya diam saja saat melihat Arvin duduk di tepi ranjang.
"Aku harus ngapain ya? Dia dingin banget," gumam Arvin setelah melihat sikap Fay kepadanya.
Sejak bertemu di rumah sakit hingga duduk bersanding saat di dalam mobil tadi, Fay lebih banyak diam. Itupun hanya pertanyaan dari bu Linda dan pak Bram yang dijawab. Sementara ketika Arvin yang bertanya, ia hanya mengangguk dan menggeleng. Sungguh, situasi ini begitu rumit bagi Arvin.
Arvin memutuskan keluar dari kamar untuk mencari suasana baru di teras belakang. Mungkin kehadirannya di dalam kamar akan membuat Fay menjadi tidak nyaman.
Beberapa puluh menit kemudian, Fay keluar dari kamar mandi dengan piyama lengan panjang. Ia melihat kopernya ada di dekat ranjang. Fay baru ingat jika ponselnya tersimpan di sana, ia lupa jika sudah lama menonaktifkan ponsel tersebut.
"Kira-kira siapa ya yang sudah mengirim pesan," gumam Fay setelah mengeluarkan ponselnya dari koper. Ia duduk di tepi ranjang sambil menghidupkan benda mahal itu.
"Banyak juga yang mengirim pesan," ucap Fay setelah membuka aplikasi chat berwarna hijau di sana. Ada Arvin, bu Linda hingga pak Bram yang berusaha menghubunginya.
Ratusan pesan dari Arvin terlihat di sana. Mungkin karena penasaran, Fay akhirnya membuka pesan tersebut. Ia membaca satu persatu pesan yang dikirim oleh suaminya itu. Senyum tipis mengembang dari bibirnya saat membaca satu persatu pesan tersebut. Kini, Fay tahu, jika Arvin mengkhawatirkan dan berusaha mencarinya. Ia menyimpulkan jika Arvin menyesal sudah melakukan semua ini. Semua angan tentang tentang Arvin hilang begitu saja, ketika Fay dikejutkan getaran dari ponselnya. Ada satu pesan masuk yang membuatnya penasaran. Nama Arvin terlihat jelas di atas notifikasi tersebut.
Jika rindu bilang saja, maka aku akan datang. Hanya membaca pesan dari seorang pria tampan, tidak akan bisa mengobati rasa rindumu❤️
Fay berdecak setelah membaca pesan tersebut. Ia merasa jika Arvin begitu percaya diri saat menulis pesan tersebut. Bukannya membalas, Fay malah meletakkan ponsel tersebut di atas nakas, sementara dirinya mulai menata bantal dan membaringkan tubuh.
__ADS_1
Tak berselang lama, Fay mendengar handle pintu yang ditarik. Ia segera menutup kelopak mata dan pura-pura tidur. Ia tidak siap jika malam ini Arvin akan membahas masalah rumah tangganya. Fay kembali membuka kelopak matanya, setelah mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup. Namun, tidak lama setelah itu, Fay kembali menutup kelopak mata setelah mendengar derap langkah Arvin keluar dari kamar mandi.
"Dia mau ngapain, sih!" Fay hanya bisa membatin setelah merasakan gerakan di ranjangnya. Ia tahu jika Arvin naik ke atas ranjang meskipun posisinya membelakangi Pria tersebut. Fay mencengkram bagian dalam selimutnya dengan erat ketika merasakan belaian lembut di rambutnya. Ia harus kuat berpura-pura seperti ini untuk mendengarkan setiap kata yang terlontar dari bibir Arvin.
"Fay, apa yang harus aku lakukan untuk menyembuhkan semua luka di hatimu? Jujur saja, aku bingung menghadapi sikapmu yang dingin. Aku harap kamu tetap seperti ini meskipun bicara denganku saat bangun tidur nanti. Kamu tetap duduk di sampingku tanpa harus menghindar,"
"Selama kamu pergi, setiap malam aku tidak bisa tidur. Aku selalu memikirkan keadaanmu. Aku sangat takut jika ada bahaya di sekitarmu. Sekarang aku bersyukur, akhirnya kamu kembali ke rumah ini meski dengan membawa banyak luka dariku," ucap Arvin tanpa menghentikan belaiannya.
"Syukurin lu! Aku bahagia tuh di Mojokerto. Situ sedih di rumah, aku malah menghabiskan uang di Benteng Pancasila bersama Mia," jawab Fay dalam hatinya setelah mendengar semua ucapan Arvin.
Fay menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri setelah merasakan kembali pergerakan di ranjang. Ia mencoba menerka kemana lagi Arvin akan pergi. Akan tetapi ia bingung harus bagaimana mengetahui keberadaan Arvin saat ini. Ia terlanjur berpura-pura tidur.
Setelah tiga puluh menit tidak merasakan kehadiran Arvin di atas ranjang. Fay mengubah posisinya. Perlahan ia membuka kelopak mata itu untuk memastikan situasi dalam kamar. Ia mengerutkan keningnya ketika tidak melihat bantal yang biasa dipakai oleh Arvin. Hal itu membuat Fay beranjak dari tempatnya.
"Jadi, dia tidur di sofa?" gumam Fay setelah melihat Arvin terlentang di sofa panjang itu.
...🌹Selamat Membaca 🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1