
Akhir pekan yang ditunggu oleh Fay akhirnya tiba. Sejak sore hari wanita bermata sipit itu merasa tidak tenang karena takut dengan segala diagnosa yang akan dikatakan oleh dokter kandungan nanti. Ia hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja.
"Sudah siap?" tanya Arvin setelah menghampiri Fay di walk in closet.
"Sebentar," ucap Fay sambil merapikan rambutnya.
Setelah menunggu selama satu menit, pada akhirnya mereka berdua berangkat menuju rumah sakit milik ibunya Toni. Mereka berdua sudah membuat janji dengan dokter bernama Winda itu.
"Kamu gugup gak sih, Vin?" tanya Fay setelah keluar dari rumah. Mereka segera masuk ke dalam mobil sport milik Arvin.
"Enggak. Biasa saja," jawab Arvin.
Jalanan kota cukup padat karena hari ini adalah akhir pekan. Kemacetan adalah makanan sehari-hari bagi mereka yang biasa hidup di Jakarta. Mereka tidak heran lagi jika di hari sabtu dan minggu sore banyak kendaraan roda empat memenuhi jalan.
Setelah menempuh perjalanan selama enam puluh menit, mobil yang dikendarai Arvin akhirnya tiba di halaman luas rumah sakit pribadi milik dokter Winda. Mereka berdua segera turun dan mengayun langkah memasuki rumah sakit mewah di sana. Langkah demi langkah telah mereka lalui hingga sampai di depan ruangan dokter Winda. Hanya menunggu selama sepuluh menit, mereka berdua sudah dipanggil oleh seorang suster.
"Silahkan masuk, Nyonya," ucap suster tersebut dengan sikap yang sangat sopan.
"Halo selamat datang," sambut dokter Winda ketika melihat sepasang suami istri itu berada di dalam ruangan, "silahkan duduk," ucap dokter Winda sambil menunjuk dua kursi yang ada di depan meja kerjanya.
Senyum manis tersungging dari kedua bibir sepasang suami istri itu. Mereka duduk di sana sambil mengatur napas yang memburu karena merasa tidak tenang.
"Jangan terlalu tegang. Santai saja," ucap dokter Winda sambil menatap Fay dan Arvin dengan ramah.
Konsultasi dimulai. Dokter Winda bertanya kepada Fay terlebih dahulu bagaimana siklus menstruasinya selama ini. Mulai dari keluhan yang dirasakan saat datang bulan atau mungkin saja Fay pernah merasakan nyeri di perut bawahnya.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang kita melakukan USG untuk melihat kondisi rahim. Silahkan berbaring di atas bed," ucap dokter Winda seraya menunjuk bed pasien yang berada tak jauh dari meja kerjanya.
Setelah Fay berbaring, seorang suster meminta izin untuk membuka blousenya. Perut rata itu akhirnya terlihat dengan jelas. Gel pelumas pun dioleskan di sana. Ada sensasi rasa dingin yang dirasakan oleh Fay setelah gel itu merata di bagian bawah perutnya. Dokter Winda akhirnya memulai melakukan pemeriksaan dengan menggerakkan alat pemindai atau transducer di kulit mulus berlapis gel tersebut. Tangannya bergerak ke kiri dan ke kanan dengan mata yang fokus pada layar monitor.
"Kondisi rahim baik-baik saja, sehat dan tidak ada diagnosa mengkhawatirkan. Indung telur aman dan tidak ada kista ataupun miom. Pemeriksaan keseluruhan, rahim Anda dinyatakan sehat," ucap dokter Winda tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. Beliau fokus mengamati hasil USG yang terbaca di layar monitor.
Setelah selesai melakukan USG, sepasang suami istri itu kembali ke tempat semula. Mereka duduk di kursi untuk melanjutkan konsultasi bersama dokter Winda.
"Apa tidak ada kondisi serius yang membuat istri saya harus minum obat, Tante?" tanya Arvin seraya menatap dokter Winda dengan intens.
"Tidak ada, Vin. Kemungkinan istrimu hanya perlu minum vitamin penyubur kandungan saja saat program hamil dimulai. Akan tetapi sebelum itu, kamu juga harus diperiksa. Setelah ini akan Tante buatkan surat pengantar untuk cek sp*rm* di Laboratorium. Tiga hari lagi kamu langsung datang ke laborat saja dengan membawa surat pengantar dari Tante." ucap dokter Winda seraya menatap Arvin.
"Kenapa saya harus dicek, Tan? Lalu kenapa menunggu tiga hari lagi?" Arvin menaikkan satu alisnya karena tidak mengerti sama sekali perihal ini.
"Untuk alasan kenapa kamu baru bisa periksa sp*rm* tiga hari lagi, karena kamu harus puasa dulu. Maksudnya, puasa untuk tidak melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu sampai waktu tes tiba."
Dokter Winda menjelaskan dengan detail apa saja yang harus dilakukan Arvin nanti. Setelah semua jelas mereka pamit keluar dari ruangan dengan membawa hasil cek rahim Fay dan surat pengantar untuk Arvin. Mereka berjalan sambil menerka bagaimana prosedur cek sp*rm*.
"Coba kamu cek di internet, Fay! Bagaimana cara cek sp*rm* itu? Apakah diambil langsung pakai alat atau dengan cara lain?" ujar Arvin seraya saat berjalan keluar dari rumah sakit.
"Iya. Nanti setelah masuk ke dalam mobil," jawab Fay dengan santai.
Wanita cantik itu terlihat bahagia setelah mengetahui jika dirinya sehat dan tidak ada kendala apapun. Dia berharap setelah ini program hamil yang akan dijalankan berhasil dan berbuah manis. Sungguh, Fay tidak sabar akan hal itu.
"Jangan lupa buka internet!" Arvin mengingatkan Fay setelah mereka masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Iya, iya! Bawel banget, sih!" Fay menatap Arvin sinis karena sikap tidak sabaran suaminya itu.
Seperti yang diminta sang suami tercinta, Fay segera membuka ponselnya untuk mencari artikel terpercaya bagaimana prosedur pengecekan sp*rm*. Satu hal yang membuat Fay tiba-tiba tertawa lepas adalah karena wanita itu membaca saran yang tertulis di artikel tersebut.
"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?" Arvin penasaran saja melihat sikap aneh sang istri.
"Aduh! Pasti kamu berpikir dua kali, Vin, setelah membaca artikel ini," ucap Fay seraya menunjukkan ponsel ke dekat Arvin.
Mungkin karena rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Arvin memilih untuk berhenti di salah satu area parkir ruko kosong. Ia harus segera membaca artikel tersebut agar semua rasa penasarannya terjawab.
"Gila! Sumpah ini Gila!" Arvin menggeleng pelan setelah membaca artikel tersebut, "apa tidak ada cara lain selain melakukan hal itu? Jujur saja aku merasa jijik jika melakukannya sendiri!" Arvin bergidik ngeri saat membayangkan bagaimana dirinya nanti pada saat melakukan pemeriksaan.
Dalam artikel tersebut tertulis poin terakhir bagaimana tata cara pengambilan sp*rm* sebelum dites. Caranya tak lain adalah dengan mengeluarkannya sendiri atau biasa disebut dengan istilah m*str*b*si.
"Ya mau gimana lagi, Vin? Memang seperti itulah prosedurnya. Memangnya kamu mau bagaimana?" tanya Fay setelah puas menertawakan suaminya.
Arvin termenung untuk sesaat. Ia membayangkan bagaimana dirinya nanti saat berada di toilet laboratorium. Sesuatu yang selama ini dihindarinya tidak akan mungkin dia lakukan, apalagi di tempat umum seperti laboratorium.
"Gak! Aku gak mau periksa! Kalau pun aku harus periksa. Kamu harus ikut! Kamu yang harus mengeluarkannya!" bantah Arvin seraya menatap Fay yang sedang terkekeh.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
...Jika ada kesalahan tentang prosedur yang othor tulis, silahkan komen ya😀Soalnya othor melakukan pemeriksaaan sama seperti Fay🤭Ya, bisa jadi ini pengalaman othor sendiri🤣...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1