Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Mulai persiapan


__ADS_3

Persiapan pernikahan mulai dilaksanakan. Sesuai dengan permintaan Fay, acara lamaran diselenggarakan secara private di salah satu hotel di Jakarta selatan. Hanya orang-orang tertentu yang hadir dalam acara tersebut.


Bukan tanpa sebab, Fay meminta hal itu. Ia tidak mau jika bu Lisa ataupun Dira mengetahui jika dirinya akan menikah. Mereka pasti tidak akan diam saja saat melihat Fay dipinang oleh putra konglomerat terkenal di negara ini.


Setelah dilamar secara resmi oleh Arvin. Pihak pak Bram pun segera mengurus pernikahan mereka ke gereja. Mereka berdua harus mengikuti beberapa kegiatan pra nikah sesuai dengan ketentuan yang ada selama ini. Satu persatu proses tersebut harus mereka lewati untuk bisa melaksanakan pemberkatan.


Fay memutuskan tetap tinggal di Apartment pak Bram bersama bi Atin sebelum dinyatakan sah menjadi istri Arvin. Beberapa kali bu Linda memintanya untuk tinggal satu rumah dengan beliau, agar Fay tidak kesepian. Permintaan calon mertuanya itu pun ditolak Fay dengan cara yang halus. Ia beralasan jika lebih suka tinggal di apartmen.


Selama beberapa waktu ini, Fay tidak bisa bergerak bebas di luar. Ia takut jika bertemu dengan bu lisa atau orang-orang suruhan ibu tirinya itu, karena kabar yang didapatkan Fay dari temannya yang tinggal di Amerika, ada dua orang pria yang datang ke apartmentnya beberapa kali. Pasti kedua orang tersebut adalah orang-orang suruhan bu Lisa.


"Nak, jangan melamun di sini!"


Fay terkejut setelah ada tangan yang menepuk bahunya. Ternyata, ada bi Atin yang datang ke tempat Fay berada saat ini. Balkon. Seulas senyum tipis terbit dari bibirnya setelah melihat ART tersebut membawa satu piring cheese cake kesukaannya.


"Bibi lihat, akhir-akhir ini, kamu sering melamun, Nak? Ada apa?" tanya bi Atin setelah duduk di samping Fay saat ini.


"Saya hanya takut saja, Bi, Ibu tiri saya datang dan menggagalkan pernikahan," ucap Fay tanpa menatap bi Atin.


"Tenanglah! Ada tuan Bram yang melindungimu. Lagi pula kenapa kamu tidak mau membalas dendam kepada wanita jahat itu?" Suara bi Atin terlihat kesal saat mengucapkan hal itu. Beliau sudah tahu jika semua harta Fay diambil oleh bu Lisa.


Tidak ada jawaban yang terdengar di sana. Fay kembali termenung memikirkan beberapa tawaran dari Arvin dan pak Bram, jika mereka siap membantu merebut hak waris Fay. Akan tetapi Fay tidak tertarik dengan semua itu. Ia enggan untuk berseteru dengan wanita jahat bernama Lisa itu.


Sebenarnya, Fay hanya menginginkan satu hal. Ia hanya ingin rumah kenangan bersama orang tuanya kembali dalam genggamannya. Namun, ia tidak enak hati untuk meminta hal itu kepada pak Bram. Baginya bertemu dengan orang baik seperti pak Bram dan bu Linda sudah lebih dari cukup.


"Saya hanya ingin ibu tiri saya tahu, jika saya sudah menikah. Mungkin, dengan mengirim undangan pernikahan, itu lebih dari cukup, Bi," ucap Fay seraya menatap bi Atin.

__ADS_1


Bi Atin segera beranjak dari tempat duduknya, setelah melihat kehadiran Arvin di sana. Kini, tinggallah sepasang calon pengantin itu di balkon tersebut. Seperti biasa, Fay lebih banyak diam saat bertemu dengan Arvin.


"Ada apa?" Fay memulai obrolan karena Arvin sibuk bermain ponsel.


"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan," ucap Arvin setelah meletakkan ponsel di sisinya.


"Kemana?" tanya Fay tanpa mengalihkan pandangan dari Arvin.


"Bagaimana kalau kamu ikut aku Clubbing? Aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku," tanya Arvin seraya menatap Fay dengan senyum tipis.


Arvin sangat berharap jika kali ini Fay mau ikut dengannya. Ia ingin mengenalkan Fay kepada Raka dan kedua teman yang lain. Mungkin, dalam pikiran Arvin, setelah sah menjadi tunangannya, Fay bersedia diajak jalan berdua. Namun, sepertinya semua itu hanya sebuah angan.


"Ogah! Sudah aku katakan 'kan jika aku tidak suka pergi ke club malam!" sergah Fay dengan tatapan tidak suka.


"Tenang saja! Aku tidak akan mengajakmu mabuk." Arvin berusaha membujuk calon istrinya itu, "apa kamu tidak takut jika nanti ada wanita malam yang menemani ku di sana?" Kali ini Arvin mencoba untuk memancing Fay dengan hal itu.


"Ya sudah, sewa saja! Aku tinggal lapor tante Linda," jawab Fay hingga membuat senyum Arvin pudar begitu saja.


Ancaman konyol yang dilayangkan Arvin nyatanya tidak bisa membuat Fay luluh. Ia menghela napasnya panjang karena hal itu. Sulit sekali mengajak Fay untuk mencari hiburan di club malam, seperti yang biasa ia lakukan bersama Raka dan dua teman yang lain.


"Ya sudah, kalau kamu menolak. Aku pergi sendiri. Jangan menyesal jika ada wanita yang menuangkan minum untukku." Arvin tersenyum smirk ketika melihat perubahan ekspresi di wajah calon istrinya.


Pukulan keras mendarat begitu saja di lengan bergelombang itu. Fay kesal melihat ulah calon suaminya itu. Ia tidak habis pikir saja, kenapa Arvin suka pergi ke club malam. Sesuatu hal yang tidak ia sukai sedikitpun.


"Pergi sana!" ujar Fay sebelum mengubah posisi membelakangi Arvin. Ia kembali mengamati gedung-gedung menjulang tinggi yang menjadi objek tatapannya sejak beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi, Arvin beranjak dari tempat duduknya. Tak lupa ia memasukkan ponsel ke dalam jaket miliknya. Untuk sesaat, Arvin menatap wanita yang sedang termenung itu. Lantas ia berpamitan sebelum pergi meninggalkan Fay.


"Jangan lupa, besok pagi kita harus ke Gereja! Awas saja kalau kamu terlambat menjemputku!" ujar Fay sebelum Arvin berlalu pergi.


...🌹Selamat Membaca🌹...


Nih aku kasih visual untuk Fayre dan Arvin😀Kalau tidak sesuai boleh membayangkan siapa aja kok🤭Ini hanya visual yang menjadi objek inspirasi othor😀



Kyomi Fayre






Arvin Axelle



__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2