
Senyum hangat sang mentari mulai menyapa semua insan. Segala aktivitas pun telah dimulai. Jalanan kota mulai dipadati kendaraan hingga kemacetan tidak bisa terelakkan. Sebuah mobil hitam berhasil melewati pusat kemacetan setelah terjebak disana selama beberapa puluh menit lamanya. Ya, mobil hitam itu adalah milik Dira. Pemimpin perusahaan itu baru saja bertolak dari hotel tempatnya menghabiskan malam bersama Raka.
"Huh! Akhirnya sampai juga," gumam Dira dengan helaan napas yang berat. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumahnya.
"Pagi, Ma," sapa Dira setelah berada di dalam rumah dan bertemu dengan bu Lisa di ruang keluarga.
"Pagi Sayang." Bu Lisa menyambut kedatangan putrinya dengan sumringah, "bagaimana pestanya? Apa menyenangkan?" tanya bu Lisa seraya menatap putrinya.
Dira memang berbohong kepada bu Lisa. Kemarin malam dia pamit menghadiri pesta salah satu kolega yang bekerja sama dengan perusahaan dan Dira mengatakan jika akan menginap di salah rumah temannya. Tentu bu Lisa tidak curiga dengan hal ini karena Dira sendiri tidak pernah berbohong dalam hal seperti ini.
"Lebih baik kita sarapan dulu." Bu Lisa berjalan menuju ruang makan bersama Dira.
Namun, langkah keduanya harus terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu beberapa kali. Mereka berdua saling pandang untuk menerka siapa yang datang karena tidak biasanya ada yang mengetuk pintu cukup keras.
"Biar Mama lihat dulu siapa yang datang," ucap bu Lisa sebelum berlalu dari tempatnya. Wanita paruh baya itu mengayun langkah menuju ruang tamu untuk melihat tamu yang datang sepagi ini.
"Maaf mau mencari siapa?" tanya bu Lisa setelah melihat seorang wanita cantik yang sedang hamil besar. Mungkin wanita cantik berumur sekitar tiga puluh lima tahun.
Tatapan mata wanita cantik itu terlihat tajam hingga mampu membuat tubuh bu Lisa meremang, "saya ingin mencari Dira!" ujar wanita tersebut.
"Silahkan masuk, putri saya baru pulang," ucap bu Lisa sambil memberikan jalan kepada wanita berbadan dua itu.
Setelah mempersilahkan duduk di ruang tamu, bu Lisa segera masuk ke ruang keluarga untuk mencari Dira. Beliau mengatakan jika ada seseorang yang mencarinya. Tanpa curiga, Dira segera berjalan menuju ruang tamu.
"Selamat pagi," sapa Dira dengan senyum yang sangat manis setelah sampai di ruang tamu.
__ADS_1
Wanita berbadan dua itu langsung berdiri ketika melihat Dira berada di ruang tamu. Rahangnya mengeras seperti menahan amarah yang begitu besar dalam dirinya. Apalagi, setelah melihat penampilan Dira saat ini yang terlihat begitu sexy di matanya.
"Apa kamu wanita bernama Dira yang menjadi pemimpin perusahaan Xxxx?" tanya wanita tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Dira.
"Ya, benar. Saya Dira pemimpin perusahaan xxxx. Ada perlu apa ya mencari saya?" Sikap Dira terlihat sangat sopan dan ramah meski tamu yang berdiri tak jauh darinya terlihat sedang menahan amarah.
Wanita berbadan dua itu berjalan mendekat ke arah Dira. Dia berhenti dan berdiri tepat di hadapan Dira. Jarak keduanya sangatla dekat karena wanita itu seperti ingin menikam mangsanya. Namun, tanpa diduga sebelumnya, tiba-tiba saja wanita itu melayangkan sebuah tamparan keras di pipi mulus Dira.
"Pelakor gak tahu diri!" ujar wanita tersebut dengan suara yang lantang.
"Jaga ucapan Anda! Memangnya Anda ini siapa datang-datang menampar anak saya!" Bu Lisa keluar dari tempatnya setelah mendengar keributan di ruang tamu. Beliau berdiri di samping Dira seakan ingin melindungi putrinya.
"Saya bisa menuntut Anda ke jalur hukum karena berani mengganggu saya!" ancam Dira seraya menunjuk wanita berbadan dua itu dengan jari telunjuknya.
"Namaku Meylani Putri Nugroho. Aku adalah istri sah dari Owner Nugros Group, pemilik kerajaan bisnis di Kalimanta. Suamiku bernama Erico Adi Nugroho." ujar wanita berbadan dua itu dengan tegas, "jadi bagaimana, apakah kamu akan melaporkan aku ke polisi setelah mengetahui identitasku?" Wanita bernama Meylani itu tersenyum smirk.
Bagai tersambar petir di musim kemarau setelah Dira mendengar siapa sebenarnya wanita berbadan dua itu. Rasanya, Dira tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri tegak di hadapan wanita tersebut. Apalagi, di sampingnya ada ibu yang tidak tahu menahu tentang siapa wanita itu dan pria bernama Erico.
"Lalu apa alasannya sehingga Anda berani menampar anak saya?" Bu Lisa terlihat tidak terima atas tindakan yang dilakukan Meylani.
"Karena anak Anda yang cantik ini telah merusak rumah tangga saya! Dia adalah simpanan suami saya!" Meylani menatap bu Lisa penuh arti.
"Omong kosong macam apa ini!" ujar. bu Lisa seraya berkacak pinggang di hadapan Meylani.
"Oh, rupanya Anda tidak tahu ya, jika putri Anda ini sudah menjual diri kepada suami saya!" ujar Meylani dengan suara yang lantang, "akan saya tunjukkan bukti surat perjanjian di antara suami saya dan juga putri Anda!" Meylani membukan tas slempangnya dan mengambil secarik kertas yang dia ambil di ruang kerja sang suami.
__ADS_1
Tangan bu Lisa gemetar setelah menerima dan membaca surat tersebut. Air mata tiba-tiba saja mengalir dengan deras setelah tahu apa saja kesepakatan yang ditulis dalam surat tersebut. Sementara Dira hanya diam karena tidak mampu lagi membela diri di hadapan wanita berbada dua itu.
"Asal kamu tahu ya, Pelakor! Mas Rico itu hanya milikku dan anak-anak. Jangan harap kamu akan hidup senang dengan menikmati semua kekayaan suamiku! Apa kamu sudah tidak laku lagi sehingga nekat kencan dengan pria beristri?" Kata-kata yang terlontar dari bibir Meylani terdengar pedas dan mennyakitkan hati.
"Jika setelah ini kamu masih nekat melanjutkan hubungan ini, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu kepadamu!" ancam Meylani seraya menatap bu Lisa dan Dira bergantian.
Setelah puas mencaci maki Dira dan meluapkan semua amarah yang ada di hatinya, Meylani pergi begitu saja dari rumah tersebut. Dia merasa puas karena berhasil meluapkan emosinya kepada orang yang tepat. Meylani hanya melontarkan kata-kata pedas untuk pelakor bernama Dira itu, karena tidak mungkin jika dirinya melakukan kekerasan fisik karena dalam keadaan hamil besar.
Tubuh Dira tiba-tiba saja ambruk di lantai ruang tamu setelah kepergian Meylani. Dia menangis dengan kepala yang tertunduk. Rahasia yang tertutup rapat kini terbongkar sudah di hadapan ibunya sendiri.
"Dira! Kenapa kamu melakukan semua ini?" teriak bu Lisa setelah berjongkok di hadapan putrinya, "di mana harga dirimu? Kenapa kamu harus menjadi pelakor?" cecar bu Lisa seraya mencengkram kedua pipi Dira agar bisa menatap wajah putrinya.
Tangis bu Lisa pecah di sana karena tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini dari putrinya. Beliau shock karena Dira sudah berbuat memalukan dan mencoreng nama baiknya sendiri. Sakit. Ya, hati bu Lisa rasanya hancur dan berantakan setelah mengetahui perbuatan putrinya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini kepada Mama? Kenapa tidak kamu bunuh saja Mama mu ini agar tidak tahu semua perbuatan gilamu ini!" teriak bu Lisa di hadapan Dira.
Dira hanya menggeleng pelan setelah mendengar ucapan ibunya. Dia tidak menyangka jika bu Lisa mengatakan hal itu kepadanya. Padahal, semua ini terjadi bukan murni kesalahannya.
"Asal Mama tahu, aku melakukan semua ini karena ulah Mama dan Kak Reno. Kalau bukan karena kalian, aku tidak mungkin tenggelam dalam perjanjian bersama pria beristri. Aku terpaksa menjual diri agar Mama bisa hidup enak dan aku bisa menutup semua hutang kak Reno! Semua ini bukan salahku! Tapi salah Mama!" teriak Dira sebelum pergi meninggalkan bu Lisa di ruang tamu.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...Kita kupas satu persatu dulu yaπ...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1