
Siluet jingga terbentang di cakrawala barat. Sinarnya terlihat sangat damai dan menenangkan saat membaur menjadi satu bersama langit yang redup. Akan tetapi kedamaian itu justru membuat mata sipit seorang pria mulai berembun padahal tidak ada mendung yang bisa mendatangkan hujan lebat.
Setetes bulir air mata tak bisa lagi terbendung di pelupuk mata. Bulir air mata itu mulai turun membasahi pipi. Rupanya gemuruh yang ada dalam hati yang membuat semua ini tejadi. Genggaman tangan pada setir bundar itu sangatlah erat. Seakan dia sedang menahan sesuatu yang menyesakkan dada.
"Aagrhh!" Arvin memukul setir mobilnya beberapa kali untuk meluapkan semua rasa sesak di dada.
Harapan dan impian wanita yang menjadi pendampingnya selama ini terlintas begitu saja dalam ingatan. Arvin semakin sedih saat mengingat bagaimana ekspresi wajah bahagia Fayre saat melukis di Grindelwald kala itu. Mana mungkin, Arvin tega menghancurkan semua harapan itu dengan kenyataan yang sedang menimpa dirinya.
"Kenapa harus aku yang mengalami semua ini!" teriak Arvin di dalam mobilnya. Pria tampan itu sedang mengeluarkan semua rasa sakit yang ada di hatinya. Sungguh, hasil pemeriksaan itu bukanlah yang dia inginkan.
Mobil sport yang dikendarai Arvin pada akhirnya sampai di halaman luas rumahnya. Setelah memastikan bola matanya tidak lagi memerah dan tidak ada mata sembab lagi, pria tampan itu segera keluar dari mobilnya. Tak lupa dia menenteng tas kerjanya saat berjalan memasuki rumah.
"Selamat datang, suamiku," sambut Fay ketika melihat sang suami berjalan lunglai menuju ruang keluarga, di mana tempatnya berada saat ini.
"Ada apa?" tanya Fay setelah Arvin duduk di sampingnya. Pria tampan itu duduk bersandar di Sofa dengan kepala yang menengadah. Sementara tangannya tak henti memijat pelipis tersebut.
Hembusan napas yang berat terdengar di sana. Hal itu semakin membuat Fay penasaran dibuatnya. Akan tetapi Fay mencoba untuk tetap tenang sambil menunggu Arvin menceritakan masalah yang di hadapinya.
"Aku sangat lelah tadi sempat ada masalah di kantor," kilah Arvin tanpa berani menatap Fay karena dia tidak sanggup untuk menceritakan semua yang sudah disampikan oleh dokter Winda.
"Kamu yakin hanya itu saja?" selidik Fay tanpa melepaskan pandangan dari wajah yang terlihat lelah itu.
"Ya. Jangan terlalu khawatir." Arvin tersenyum tipis sambil mengusap paha sang istri dengan lembut.
"Kalau begitu kita tidak usah datang ke acaranya Rista. Kita bisa memberikan kadonya minggu depan," ucap Fay dengan tegas.
__ADS_1
"Kita harus datang, Fay! Tenanglah! Aku baik-baik saja." Arvin mencoba untuk bersikap tenang agar sang istri tidak mengendus kebohongannya.
Fay beranjak dari tempatnya setelah Arvin meminta dibuatkan minuman yang segar dan tidak lama setelah itu, wanita berparas cantik itu kembali ke ruang keluarga dengan membawa segelas jus stroberi yang terlihat menggoda. Dia meletakkan minuman itu di atas meja, lantas kembali duduk di samping Arvin.
"Setelah ini bersiaplah. Nanti kita makan malam di luar saja," ucap Arvin setelah minum jus tersebut.
"Oke, kalau begitu aku ke kamar dulu," pamit sebelum pergi dari ruang keluarga.
Arvin kembali menghempaskan diri di sandaran sofa setelah melihat Fay pergi. Dia menengadahkan kepala sambil menatap lampu hias mewah yang tergantung di sana. Angannya terbang jauh entah kemana, membayangkan segala hal yang sudah pernah dia lalui bersama Fay.
"Seharusnya kamu tidak mendapatkan suami sepertiku, Fay," gumam Arvin dengan suara yang sangat lirih.
...π π π π ...
Detik demi detik terus berlalu. Gemerlap bintang menghiasi malam karena sang rembulan lebih memilih untuk menghilang. Jalanan kota mulai dihiasi lampu-lampu di sepanjang jalan, hal itulah yang membuat pemandangan kota semakin indah.
"Ya, kita bisa datang lagi di lain waktu," ucap Arvin saat mengarahkan setir mobilnya keluar dari area restoran tersebut.
Perjalanan menuju kediaman sepupu Arvin pun dimulai. Sepertinya perjalanan ini cukup panjang karena rumah yang akan dikunjungi ada di daerah Jakarta pusat. Mereka akan menghadiri acara perayaan kelahiran anak pertama sepupu Arvin yang bernam Rista. Kado spesial telah disiapkan Fay untuk putra pertama Rista.
"Semoga kita enggak telat, ya," gumam Fay setelah melihat arloji di tangannya.
"Telat juga gak masalah. Enak kita gak usah lama-lama di sana," jawab Arvin asal.
Fayre tak lagi merespon ucapan suaminya itu. Ia lebih memilih diam sambil mendengarkan lagu yang terputar di sana. Sesekali Fayre ikut bernyanyi saat lagu dari band favoritnya terdengar di dalam mobil.
__ADS_1
"Yes! Akhirnya sampai!" Binar bahagia terlihat jelas di wajah cantik tersebut setelah mobil yang dikendarai Arvin memasuki halaman luas rumah bergaya Amerika itu.
Kado yang sudah disiapkan oleh Fay telah dikeluarkan Arvin dari mobil. Mereka berdua segera masuk dengan bergandeng mesra. Senyum keduanya tampak sumringah saat mendapat sambutan hangat dari keluarga besar adik kandung pak Bram itu.
"Selamat datang," sambut Rista sambil merentangkan tangannya menyambut tubuh yang terbalut dress simpel dan elegan itu, "silahkan masuk. Nikmati semua hidangan di dalam ya, jangan sungkan," ucap Rista setelah mengurai tubuhnya.
Kedatangan mereka berdua berhasil mengalihkan tatapan keluarga inti yang ada di ruang tamu. Mereka sepertinya mencari keberadaan pak Bram dan bu Linda. Beberapa keluarga Arvin ada menanyakan di mana ayah dan ibunya tinggal.
"Hmmm ... mereka betah sekali di sana!" jawab Tante nya Arvin atau ibunya Rista.
"Tau nih, Tan. Papi sama Mami jualan kopi di sana," ucap Arvin asal sambil menatap wanita paruh baya tersebut.
"Astaga! Ada aja kelakukan ayahmu itu! Di sini punya banyak bisnis malah jualan kopi di sana!" Wanita paruh baya itu menggeleng tak percaya setelah mendengar cerita dari Arvin, "Kenapa, Fay? Pengen gendong dia kah?" tanya wanita tersebut setelah melihat Fay terus mengamati bayi yang tidur pulas di atas stroller.
Fay hanya mengangguk pelan dan setelah itu dia menyerahkan tas selempangnya kepada Arvin. Fay menyambut bayi menggemaskan yang baru saja dipindahkan dari stroller ke atas pangkuannya. Senyum yang sangat manis pun mengembang dari bibirnya.
"Kalian sudah cocok nih!" kelakar keluarga yang lain saat melihat Fay dan Arvin.
"Iya, Tante. Kami sedang menjalankan program hamil. Mohon doanya biar cepat berhasil," ucap Fay dengan tutur kata yang lembut dan sopan.
Namun, jawaban tersebut rupanya berhasil menusuk hati pria yang ada di sampingnya. Arvin merasakan nyeri di dada saat melihat harapan yang begitu besar dari sorot mata sang istri. Apalagi saat melihat bagaimana betapa bahagianya Fay saat menimang putra pertama Rista itu. Sungguh, Arvin tidak sanggup jika melihat semua harapan yang terselip di balik senyum manis Fayre harus hancur karena dirinya.
"Tersenyumlah, Sayang! Tersenyumlah! Mungkin, setelah ini aku tidak bisa membuatmu tersenyum seperti ini! Apalagi saat nanti kamu mengetahui semua hasil laboratorium!" Arvin hanya bisa meluapkan semua kepedihan ini dalam hatinya.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...