
Waktu demi waktu telah berlalu tanpa kenal lelah. Setelah melewati malam yang panjang, pada akhirnya waktu sampai di pagi hari. Sang mentari masih malu menampakkan diri sehingga membuat suhu di Grindelwald cukup dingin. Akan tetapi semua itu tidak menyurutkan semangat Fayre untuk menghabiskan waktu di tepi danau.
Berbekal jaket tebal, syal, selontong tangan dan topi rajut, wanita cantik itu berjalan seorang diri menuju tepi danau. Tangan kanannya membawa peralatan lukis yang ia dapatkan kemarin malam saat jalan-jalan bersama Arvin di sekitar Grindelwald. Meski tempat ini disebut pedesaan, akan tetapi fasilitas umum di sini cukup lengkap, mengingat banyak wisatawan yang datang ke desa ini.
"Haaah!" Fay membuang napasnya kasar setelah sampai di tepi danau. Ia tak henti mengamati setiap keindahan yang tersuguh di hadapannya.
"Lebih baik aku melukis di sana saja," ucap Fay setelah melihat pohon rindang yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
Fay pergi ke tempat ini tanpa pamit kepada Arvin, karena suaminya itu masih terlelap dalam alam mimpi. Hanya secarik kertas berisi tulisan tangan Fay yang tertempel di kaca meja rias sebagai petunjuk di mana keberadaannya saat ini. Sebelum berangkat, Fay sempat sarapan roti tanpa dipanggang.
Kanvas berukuran kecil telah terbentang di spanram. Beberapa perlengkapan lainnya telah disiapkan oleh Fay. Mulai dari pensil, penghapus, cat, palet cat dan yang paling penting adalah kuas.
Objek pemandangan Grindelwald lah yang akan diabadikan di atas kanvas tersebut. Tangan kanan itu mulai menggerakkan pensil di atas canvas untuk membuat sketsa terlebih dahulu. Kalau sudah begini Fay sangat fokus dengan kanvas dan objeknya. Tidak perduli meski perutnya lapar atau ada yang memanggilnya. Bahkan, suhu dingin di desa ini pun diacuhkan olehnya.
Matahari terus merangkak naik ke peraduan. Perlahan hawa dingin di sana mulai terkikis karena sinar hangat itu telah datang. Beberapa orang yang sempat bersembunyi di dalam rumah, kini, mulai melakukan aktivitas. Ada yang sedang berolahraga dan ada yang berangkat bekerja.
Seiiring dengan berjalannya waktu, sketsa yang dibuat Fay dengan konsentrasi yang tinggi akhirnya selesai. Wanita cantik itu meregangkan tubuh untuk sesaat, sebelum berkutat dengan cat yang akan mewarnai kanvas tersebut. Fay melepas jaketnya agar dirinya merasa nyaman. Fay membiarkan jaket dan syal nya tergelatak di atas rumput. Kali ini ia harus mulai mencampur cat agar mendapatkan hasil yang diinginkannya.
Warna hijau, itulah yang menjadi warna pertama di kanvas tersebut. Tangan itu terus menggerakkan kuas untuk mendapatkan hasil sempurna. Beberapa kali Fay tersenyum tipis saat merasakan jika hasil lukisannya seperti nyata. Lukisan yang dibuat sepenuh hati dengan tema keluarga. Fay sangat berharap suatu saat nanti bisa memiliki kehidupan damai seperti karyanya kali ini.
Dua pria dewasa, dua wanita dewasa serta tiga anak kecil terlihat dalam sketsa yang dibuat oleh Fay. Bisa dikatakan itu adalah lukisan tentang bagaimana harapannya di masa depan. Dua pria dewasa itu tak lain adalah Arvin dan pak Bram sedangkan dua wanita yang ada di sana adalah dirinya dan bu Linda. Sementara ketiga anak kecil yang ada di sana adalah anak-anaknya di masa depan. Fay tak henti tersenyum ketika membayangkan momen itu terwujud di masa depan. Sungguh, ia tidak sabar lagi untuk menanti saat itu tiba.
"Oh, rupanya kamu di sini!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja terdengar suara Arvin di belakang tubuh Fay saat ini. Namun, semua itu tidak membuat Fay mengalihkan pandangan dari kanvas di hadapannya. Ia masih sibuk dengan cat dan kuas agar tidak terlalu lama saat menyelesaikan lukisan ini.
"Ih! Jangan mengganggu!" ujar Fay ketika Arvin menyentuh pundaknya, "lebih baik kamu olahraga sana! Biar semakin kuat kalau malam!" ujar Fay saat menengadahkan kepala agar bisa menatap Arvin.
"Terlalu kuat tidak baik untukmu, Fay. Kamu tuh yang harus rajin olahraga biar kuat menghadapi serangan sanca!" ujar Arvin dengan diiringi senyum smirk.
"Udah! Pergi sana! Main sama anak kecil-kecil tuh!" Fay menunjuk beberapa anak kecil yang sedang asyik di tepi danau.
Akhirnya, Fay fokus kembali dengan lukisannya setelah Arvin mengikuti saran darinya. Senyum yang sangat manis kembali mengembang dari kedua sudut bibirnya setelah Arvin berada di antara anak-anak penduduk desa setempat. Ada perasaan hangat yang menyelinap dalam hati ketika membayangkan jika Arvin sedang bermain dengan anak-anaknya nanti.
"Ah, lebih baik aku fokus pada lukisan ini," gumam Fay setelah sadar jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
****
"Akhirnya, selesai!" Fay tersenyum puas setelah memberikan sentuhan terakhir dalam lukisan yang sejak tadi pagi dia kerjakan.
Bertepatan dengan itu, Arvin keluar dari dalam rumah sambil membawa dua cangkir cokelat hangat. Ia duduk di salah satu kursi kayu yang tidak jauh dari tempat Fay berada saat ini.
"Minum dulu, Fay," ucap Arvin setelah melihat Fay membersihkan peralatan lukisnya.
Sejak tadi siang, Fay memilih pindah tempat karena di tepi danau terasa panas. Ia menyelesaikan satu lukisannya di teras rumah yang ditempati oleh pak Bram dan bu Linda selama di sini. Sementara Arvin memilih mengurung diri di kamar sepanjang hari. Jalan-jalan seorang diri pun rasanya sangat tidak nyaman.
"Terima kasih," ucap Fay setelah duduk di kursi yang ada di sisi Arvin. Ia meraih cangkir keramik berisi cokelat hangat, tak lupa ia meniup cokelat itu sebelum diminum.
__ADS_1
"Aku sebenarnya menyesal pergi ke tempat ini!" ujar Arvin dengan pandangan lurus ke depan.
Fay mengernyitkan keningnya setelah mendengar ucapan Arvin. Ia tidak tahu kemana arah pembicaraan suaminya itu, "kenapa? Masa iya kamu menyesal ketemu Mami dan Papi," tanya Fay sambil membersihkan tangannya dengan tissu.
"Aku menyesal karena kamu asyik sendiri di sini. Padahal yang ada dalam bayanganku, kita akan menghabiskan waktu bersama, jalan-jalan berdua dan ...." Arvin menghentikan ucapannya, ia menghela napasnya saat menatap Fay.
"Dan menikmati hari-hari di dalam kamar dengan berbagai gaya!" Fay melanjutkan ucapan Arvin yang sempat tertunda.
"Nah itu kamu tahu!" Arvin berdecak kesal setelah melihat sikap Fay saat ini.
Fay tersenyum tipis setelah mendengar keluh kesah suaminya itu. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Arvin saat di atas ranjang. Bahkan, Fay tidak pernah menolak meski Arvin memintanya tanpa tahu waktu.
"Kamu ingin aku seperti apa lagi, Vin? Semuanya sudah kita lakukan loh! Cicak di dinding, menunggang kuda ..." Fay menyebut satu persatu gaya yang sudah mereka lakukan, "rasanya setelah pulang ke Indonesia, aku ingin sekolah lagi. Mau ambil jurusan pakar seksologi aja lah." Kali ini Fay berseloroh.
Arvin tersenyum kecut mendengar Fay berseloroh. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa dirinya tidak mau jauh dari wanita yang sedang sibuk membersihkan sisa cat di kukunya itu. Arvin kembali tersenyum manis setelah Fay mengucapkan kalimat panjang yang membuat irama jantungnya berdegup tak karuan.
"Mandi bareng, yuk! Kita main baby sitter dan bayi di bathup!" ujar Fay dengan tatapan mata penuh arti yang membuat Arvin menjadi semangat.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka🌹...
...Ada yang mau ikut main baby sitter dan bayi tak?ðŸ¤...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1