
Dulu kita menikah secara baik-baik, maka dari itu perpisahan ini pun harus dengan cara yang sama. Mari hadir di sidang pertama kita. Jangan menjadi seorang pengecut yang bersembunyi di balik pengacara.
Ya. Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Fayre sebelum pulang dari apartement kemarin malam. Selama seharian penuh Fayre berada di apartment itu untuk menghabiskan waktu berdua dengan Arvin. Entah berapa kali mereka meneguk rasa nikmat dari kegiatan panas yang berlangsung di dalam kamar.
"Aku harus segera berangkat," gumam Arvin setelah selesai sarapan.
Arvin sangat optimis jika sidang akan dimenangkan olehnya karena kemarin malam dia sudah meminta kepada Fayre agar menerima semua gugatannya. Wanita yang masih sah menjadi istrinya itu pun bersedia untuk melakukan hal itu. Ada rasa kecewa yang sempat hadir saat Fayre begitu tenang menghadapi perceraian ini. Tidak ada lagi tatapan sendu ataupun rasa sakit yang ditunjukkan oleh Fayre kemarin.
Pagi ini Arvin diantar oleh sopir pribadinya. Selama dalam perjalanan menuju pengadilan negeri Jakarta selatan, dia hanya diam saja. Mempersiapkan diri untuk menghadapi sidang bersama wanita yang dicintai. Tentu semua ini tak mudah bagi Arvin. Dia harus menyembuyikan perasaan yang sesungguhnya di hadapan semua orang, tak terkecuali hakim.
Setelah menempuh jarak beberapa kilometer dan waktu yang cukup panjang, pada akhirnya Arvin sampai di Pengadilan Negeri. Kedatangannya disambut oleh pengacara yang akan mendampinginya di persidangan. Dari jauh, Arvin melihat Fayre sudah hadir di depan ruang persidangan. Dia datang seorang diri tanpa didampingi siapapun.
"Hai," sapa Fayre setelah Arvin sampai di hadapannya. Tidak ada raut wajah sendu ataupun takut. Dia tetap tenang di tempat duduknya saat ini.
"Sudah lama?" tanya Arvin tanpa berani menantap Fayre. Dia duduk di samping Fayre sambil menunggu panggilan.
"Tidak. Sekitar dua menit yang lalu," ucap Fayre dengan diiringi senyum yang sangat manis.
Suara panggilan sidang atas nama Arvin axelle dan Kyomi Fayre terdengar di sana. Keduanya segera masuk ke dalam ruang sidang diikuti pihak pengacara Arvin. Keduanya dipersihlakan duduk di kursi yang sudah disediakan. Semua orang yang mengikuti persidangan duduk di tempat masing-masing.
"Sidang gugatan cerai dengan nomor regristasi 133.234/Jaksel/567/CR dimulai. Apakah saudara penggugat dan tergugat siap melaksanakan sidang ini?" tanya Hakim ketua sambil menatap Arvin dan Fayre bergantian.
__ADS_1
Keduanya sama-sama menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang. Beberapa pertanyaan sebelum sidang dimulai telah diajukan oleh Hakim, termasuk identitas dan keadaan tergugat dan penggugat saat ini dan beberapa hal lain.
Keduanya terlihat sangat tenang saat hakim membacakan surat gugatan cerai yang diajukan oleh Arvin. Beberapa nasihat pun telah diucapkan hakim tersebut untuk mendamaikan sepasang suami istri itu. Mulai dari hukum secara agama dan beberapa dampak yang akan diterima pasca perceraian.
"Saudara Arvin Axelle, anda sebagai penggugat telah mengajukan perceraian di pengadilan ini dengan alasan karena Anda tidak mencintai istri Anda. Pernikahan terjadi karena sebuah perjodohan dan Anda terpaksa melakukannya. Selama ini Anda sudah berusaha untuk mencintai tergugat ...." Hakim membaca semua alasan yang ditulis Arvin di hadapan semua orang yang hadir dalam sidang tersebut.
"Benar yang Mulia, sampai saat ini perasaan saya tetap sama seperti saat surat gugatan cerai tersebut saya layangkan," jawab Arvin dengan tegas.
"Saudari Kyomi Fayre, Anda sebagai tergugat, apakah Anda menerima gugatan cerai dari suami Anda yang bernama Arvin Axelle?" tanya hakim ketua kepada Fayre.
"Tidak, Yang Mulia." Fayre menatap hakim tersebut dengan intens, "saya tidak menerima gugatan perceraian ini, karena saya sangat mencintai suami saya dan saya pun tidak tahu jika suami saya tiba-tiba menggugat cerai saya. Selama ini hubungan kami berjalan dengan baik. Suami saya sangat mencintai saya, Yang Mulia," ucap Fayre dengan berani.
Arvin tercengang setelah mendengar jawaban tersebut. Dia tidak menyangka jika Fayre akan mengatakan semua jawaban itu. Jelas saja ini bukanlah rencana yang sudah disusun kuasa hukumnya. Ya, Fayre telah membohongi Arvin. Dia bertekad untuk membatalkan perceraian ini.
Hakim tersebut bertanya kepada Arvin terlebih dahulu tentang bukti jika sudah tidak menginginkan Fayre lagi. Akan tetapi bukti dari Arvin kurang kuat di mata hakim yang menangani kasus ini.
"Saya memiliki bukti rekaman pengakuan suami saya, jika dia masih mencintai saya. Bahkan, kami kemarin menghabiskan waktu bersama layaknya sebagaimana suami istri pada umumnya," ucap Fayre tanpa menatap Arvin.
"Saudari Tergugat, apakah saya bisa melihat bukti yang Anda maksud?" tanya hakim tersebut. Kemudian Fayre beranjak dari tempat duduknya dan menyerahkan ponselnya kepada hakim.
Suara pengakuan Arvin setelah meneguk manisnya sebuah rasa terdengar di sana. Tentu hal ini membuat semua orang yang ada di sana tercengang, termasuk Arvin dan pengacaranya. Ada beberapa bukti yang ditunjukkan oleh Fayre kepada hakim ketua dan sepertinya mereka sedang menimbang bukti dari Fayre.
__ADS_1
"Saudari Tergugat, apakah ada yang ingin Anda sampaikan sebelum saya bertanya kepada Penggugat?" tanya hakim kepada Fayre.
"Terima kasih, Yang Mulia, karena bersedia memberi saya waktu untuk bicara," ucap Fayre dengan diiringi senyum yang manis.
"Saya Kyomi Fayre selaku istri sah Arvin Axelle yang disebut sebagai tergugat ingin menyampaikan kebenaran yang saya ketahui. Saya memiliki satu bukti lagi, jika suami saya sangat mencintai saya. Perceraian ini bukanlah keinginan kami berdua, melainkan karena kesalahpahaman di antara kami."
Fayre mengungkap semua kebenaran yang sudah disembunyikan oleh Arvin. Dia memberikan rekaman percakapan di antara Fabi dan Arvin tempo lalu yang menyatakan jika pria itu terpaksa melayangkan gugatan cerai.
Arvin menggeleng tak percaya atas semua yang sudah diketahui oleh Fayre. Dia tidak menyangka jika Fayre memiliki rekaman dirinya dan Fabi kala itu. Jika sudah seperti ini, maka, peluang perceraian tidak akan terkabul dan sepertinya Fayre yang akan memenangkan sidang ini.
Pengacara Arvin dibuat kalang kabut atas bukti kuat yang sudah dikumpulkan oleh Fayre. Pengacara tersebut harus memutar otak untuk memenangkan sidang ini.
"Maaf yang Mulia, saya merasa keberatan jika bukti dari tergugat hanya sebuah rekaman. Saya meragukan kebenaran dari bukti tersebut. Bukankah rekaman bisa direkayasa?" Pengacara tersebut mencoba membela kliennya.
"Saudari Tergugat, apakah Anda memiliki saksi yang bisa menguatkan semua bukti Anda?" Hakim tersebut bertanya kepada Fayre.
Kali ini Fayre tidak bisa berkutik karena tidak memiliki saksi yang diminta oleh Hakim. Dia termenung dan berpikir untuk mencari cara agar hakim berpihak kepadanya.
"Maaf Yang Mulia, Saya terlambat dalam persidangan ini. Saya adalah saksi yang mengetahui jika sepasang suami istri itu saling mencintai." Tiba-tiba saja ada suara seorang wanita yang masuk ke dalam ruang sidang tersebut diikuti dua orang pria.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...