
Langit gelap perlahan berubah menjadi cerah seiiring dengan berjalan waktu. Sinar sang mentari menerobos masuk ke dalam kamar bernuansa abu-abu, setelah tirai itu terbuka lebar. Fay sengaja membuka semua kain yang menutupi kaca besar di kamarnya itu, agar Arvin segera bangun.
"Tutup tirainya, Fay!" teriak Arvin seraya menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
Tak tinggal diam, Fay segera berjalan menuju ranjang setelah melihat respon suaminya. Ia menarik selimut itu dan membuangnya ke lantai. Tubuh yang terbalut piyama itu mengubah posisi membelakangi jendela kaca.
"Bangun, Vin! Ini sudah siang!" ujar Fay seraya menarik pakaian suaminya, "kamu gak ke kantor?" tanya Fay sambil berusaha untuk menganggu tidur nyenyak itu.
"Cium dulu!" ujar Arvin sambil menepuk pipi nya.
Inilah drama yang dilakukan Arvin setiap pagi. Sebelum mendapatkan kecupan mesra dari Fay, ia tidak mau bangun meski waktu sudah mendekati jam masuk kantor. Sejak pulang dari Bali, pria tampan itu tak mau jauh dari istrinya.
"Nah, dari tadi gitu dong!" ucap Arvin seraya membuka kelopak matanya. Ia segera turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Sementara Fay masuk ke dalam walk in closet untuk menyiapkan pakaian Arvin. Ia memilih setelan jas berwarna navy untuk dipakai Arvin hari ini. Tidak lupa Fay mengambil dasi yang cocok untuk suaminya nanti.
Tidak butuh waktu yang lama, Arvin keluar dari kamar mandi. Ia segera masuk ke dalam walk in closet untuk menemui sang istri yang sedang berkutat di sana. Arvin pun mulai mengambil pakaian yang sudah disiapkan sang istri.
"Nunduk!" ucap Fay saat akan membantu Arvin memasangkan dasi di kemeja Arvin.
Tatapan penuh kasih terlihat jelas dari sorot mata yang sedang mengamati objek indah tak jauh darinya itu. Kedua sudut bibir itu pun mengembang sempurna setelah beradu pandang dengan mata indah sang istri.
"Oh, ya, Vin. Hari ini aku mau pergi Mall sekaligus ke galeri seni lukis milik seniman di daerah sini. Boleh ya aku membawa mobil sendiri? Karena nanti mungkin aku mampir ke beberapa tempat. Aku lagi mencari referensi untuk lukisan baru ku," ucap Fay setelah selesai membantu Arvin memasang dasi.
"Kenapa tidak diantar sopir saja?" tanya Arvin saat berdiri di depan meja rias. Ia sedang sibuk mengatur rambutnya.
__ADS_1
"Aku ingin pergi sendiri. Sudah lama aku tidak pernah melakukan itu," ucap Fay seraya menatap wajah Arvin dari pantulan cermin besar itu.
Suasana mendadak hening karena Arvin belum menjawab permintaan sang istri. Ia masih sibuk mempersiapkan diri sebelum berangkat ke kantor. Ada rasa kasihan saat melihat sorot penuh harap dari mata indah itu.
"Ya sudah, kamu boleh pergi sendiri tapi kamu harus berbagi lokasimu denganku setiap waktu," ucap Arvin setelah keluar dari ruang walk in closet diikuti oleh Fay.
Fay mendengus kesal setelah mendengar jawaban dari Arvin. Ia tidak memiliki kebebasan setelah Arvin menyatakan semua perasaannya. Mau tidak mau Fay harus mengikuti permintaan itu agar bisa pergi sendiri tanpa sopir.
"Oke, deh. Nanti aku aktifkan GPS ku saja. Biar kamu bisa tahu aku di mana tanpa harus aku bagikan," ucap Fay seraya menatap Arvin, "aku harus membawa mobil yang mana?" tanya Fay lagi.
"Terserah kamu. Pilih saja di garasi," ucap Arvin sebelum menarik handle pintu kamarnya.
"Kalau begitu aku naik motor saja. Boleh ya?" Pertanyaan itu berhasil membuat Arvin berhenti berjalan.
"Tidak usah kemana-mana! Cukup di rumah saja," jawab Arvin sebelum meninggalkan Fay di depan kamarnya.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
Sebuah mobil Mercedes-Benz berwarna hitam berhenti di depan galeri seni lukis. Wanita berparas cantik itu keluar dari mobil dan segera memasuki gedung yang menyimpan banyak lukisan itu. Tidak banyak pengunjung yang datang ke tempat tersebut. Hal ini lah yang membuat Fay bahagia. Ia suka tempat sepi seperti ini.
"Selamat pagi, Pak," sapa Fay kepada seorang pria yang sedang berkutat dengan cat dan kuas di sudut ruangan. Kemungkinan pria itu adalah pemilik tempat ini.
"Selamat pagi, Nona," jawab pria tersebut tanpa mengalihkan pandangan dari canvas di hadapannya.
"Boleh saya melihat Bapak melukis?" tanya Fay seraya menatap pria tersebut.
__ADS_1
"Silahkan, Nona," ucap pria tersebut seraya menatap Fay.
Tatapan mata indah itu tak lepas dari canvas yang sudah dipenuhi banyak warna. Fay mengamati dengan detail teknik yang digunakan pelukis tersebut. Sesekali ia bertanya jika ada perihal lain dalam teknik tersebut.
"Terima kasih sudah mengizinkan saya melihat Bapak melukis di sini," ucap Fay setelah cukup lama berdiri di sana.
"Nona suka dengan lukisan ini?" tanya pria tersebut seraya menunjuk lukisan yang belum jadi itu.
"Ya, saya suka. Nilai seni dalam lukisan ini sangat tinggi. Bapak benar-benar seniman yang hebat," puji Fay dengan diiringi senyum yang manis.
"Kalau begitu tulis saja alamat lengkap Nona. Setelah lukisan ini selesai, maka akan saya kirim ke alamat Nona." Pria itu menatap Fay dengan tatapan teduhnya, "saya tahu, Nona pasti seorang pelukis dan saya pun tahu jika Nona melukis bukan untuk dijual," ucap pria tersebut seraya tersenyum tipis.
Fay termangu setelah mendengar ucapan tersebut. Tentu dengan senang hati ia menerima lukisan yang memiliki nilai sempurna itu. Fay segera menuliskan alamat lengkapnya di kertas dan setelah itu kertas tersebut diberikan kepada pria yang ada di hadapannya.
"Terima kasih banyak, Pak." Fay menjabat tangan pria paruh baya tersebut.
Setelah melihat semua lukisan yang ada di galeri tersebut, Fay segera pamit pulang. Setelah ini ia harus pergi ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa barang. Mobil hitam itu pun akhirnya keluar dari tempat parkir galeri tersebut.
Siang itu jalanan kota cukup padat meski cuaca panas sedang menyelimuti. Fay mengarahkan setir mobilnya memasuki area pusat perbelanjaan tersebut setelah membelah kepadatan kota selama beberapa puluh menit. Fay memilih parkir di basement mall. Ia segera keluar dari mobil dan mengayun langkah menuju mall.
Tatapan mata itu tak lepas dari barang-barang yang dipajang di setiap counter. Fay mencari beberapa barang kebutuhan untuk lukisan barunya. Akan tetapi langkahnya harus terhenti ketika berada di depan ruko khusus menjual underwear. Ada lingerie seksi yang memikatnya untuk masuk ke dalam ruko tersebut.
"Hallo, Fayre." Fay menghentikan langkahnya setelah mendengar suara seseorang yang dia kenal ada di belakangnya.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka🌹...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...