Taubatnya Wanita Hina

Taubatnya Wanita Hina
100 Iri


__ADS_3

Dita menelepon Zee karena saking bahagianya karena kehamilannya.


"Suami kamu kemana?" tanya Zee


"Dia lagi keluar, olahraga. Gue masih belum memberi tahu suami gue kalo gue positif"


"Wow akulah orang pertama yang mendengar kabar baik ini? Sungguh Dita?"


Dita mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Gue bingung Zee gimana cara ngasih tau kabar ini sama suami gue"


"Oh gini aja Dit"


Zee memberikan saran pada Dita agar memberikan kejutan pada Choki. Namun sebelum itu Zee menyuruhnya untuk membuat Choki kesal dan marah.


Dan Dita oun menyetujui nya.


Zee adalah orang pertama yang Dita beri tahu sebelum suaminya.


Saat melihat Zee menangis Dita teringat kalau wanita pejuang garis dua perasaan nya lebih sensitif. Tapi beruntung lah Zee wanita yang kuat dan mampu menutupi kesedihannya itu dari Dita hingga Dita merasa lebih lega.


Setelah mereka menyusun rencana telpon pun berakhir.


Zee duduk di kursi dengan tangannya yang di lipat sebagai penopang wajahnya di atas meja.


Adam yang baru selesai mandi mendapati istrinya duduk di meja dengan wajah yang tertutup, dan roti yang tergelar begitu saja di bawah meja.


Adam segera berlari karena ia pikir Zee pingsan.

__ADS_1


"Sayang... Kamu kenapa? Ada apa sayang .."


Adam membuka rambut Zee yang menutupi wajahnya


Zee langsung bangun dan memeluk Adam dengan erat lalu menangis sejadi-jadinya.


Adam semakin bingung ada apa dengan istrinya.


Adam tetap diam membiarkan Zee menangis meluapkan apa yang ia rasa, meski sebenarnya Adam tidak tau Zee kenapa.


Adam membalas pelukan Zee sambil mengusap-usap kepalanya.


Barulah setelah tangisannya mereda Adam memberikan Zee air minum agar merasa lebih tenang.


"Ada apa sayang? kenapa kamu menangis? Apa yang membuat mu menangis sepagi ini?"


"Dita? Ada apa dengannya?"


"Ee... Dita... Dia.... Hamil mas" jawab Zee terbata-bata


Deg, rasanya seperti ada yang memukul dadanya.


Adam kini juga mulai merasakan apa yang istrinya rasakan.


Adam berhenti bertanya dan langsung memeluk erat kembali istrinya.


Setelah Zee puas dengan tangisnya, ia pun melepas pelukan Adam dan pelan pelan mulai mengatur nafasnya.


"Mas..." panggilnya dengan suara sendu

__ADS_1


"Iya sayang, apa"


"Apa aku salah kalo aku cemburu pada nasib Dita?"


"Cemburu? Maksud kamu apa sayang?"


"Aku yang lebih dulu menikah, tapi Dita yang lebih dulu hamil. Kenapa mas, kenapa? hiks hiks..."


"Kenapa kamu ngomongnya gitu sayang"


"Aku... Aku bahagia Dita hamil karena dia... dia adalah sahabat ku, tapi apa aku salah jika aku iri padanya? Dia lebih beruntung dari pada aku yang sudah lama menikah tapi tak kunjung hamil. Sementara Dita baru beberapa bulan dia menikah Allah langsung memberinya rizki kehamilan!" tanya Zee dengan terisak pada Adam


Sakit rasanya dada Adam melihat istrinya menangis hingga sesenggukan seperti itu.


Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa memeluk Zee berharap pelukannya bisa menenangkannya.


Tapi Zee malah menepis tangan Adam dan beranjak dari kursinya.


Zee lalu pergi ke kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat.


"Sayang mau kemana? sayang..."


Adam mengejar Zee dari belakang namun belum sempat ia meraihnya Zee langsung menutup pintu.


Adam mematung di depan pintu, ia tak lagi mengetuk pintunya dan membiarkan Zee sendirian di kamarnya.


Adam pergi ke kamar umi Fatimah dan duduk di menyendiri juga di sana


☀️☀️☀️☀️☀️

__ADS_1


__ADS_2