
Hari demi hari berlalu begitu cepat.
Minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan.
Perutnya kini semakin membesar hingga menimbulkan garis-garis di kulit perutnya.
Begitupun dengan pipinya yang kini mulai membulat seiring dengan bertambahnya berat badannya.
Mereka tidak melakukan cara 7 bulanan kehamilannya karena saat itu Zee tidak sehat.
Sejak kandungan Zee menginjak usia 6 bulan Zee menjadi rewel dan mudah sakit.
Mual muntah, panas bahkan sempat harus di infus karena kekurangan banyak cairan.
Hali itu menjadi alasan untuk tidak melaksanakan acara 7 bulanan.
Yang mana acara itu akan membuat Zee menjadi kecapekan karena banyaknya runtutan acara.
Mood nya pun sering berubah mendadak, dari wajah yang penuh senyuman tiba tiba berubah menjadi uring-uringan.
Bahkan tak jarang Adam pun sering kena marah meski hanya karena hal sepele.
Di usia kehamilannya yang kini sudah hampir 9 bulan, Zee selalu berjalan santai mengelilingi komplek di pagi bersama suaminya.
Hari ini sekitar jam 9 pagi mereka berangkat ke rumah sakit untuk melakukan periksa rutinan kehamilan.
USG kali ini Adam meminta yang 4D, bukan karena apa mereka sudah sangat tidak sabar untuk melihat calon buah hati mereka dengan lebih jelas.
Selama USG berlangsung Adam dan Zee sangat sangat memperhatikan.
Terlihat jelas bentuk hidung mungilnya, bibirnya yang sedang mengemut tangan kecilnya, juga kakinya yang tetap aktif menendang.
"Alhamdulillah pak bu, semakin hari perkembangan janinnya semakin baik. Berat badannya sesuai dengan usianya, air ketubannya juga bagus, posisi tali pusar dan plasentanya juga aman. Tapi..."
Penjelasan dokter terhenti.
Dokter melihat dengan seksama ke arah layar hingga membuat Adam dan Zee takut dan khawatir.
"Tapi apa dok, ada apa?" tanya Adam
"Sebentar pak, saya coba perhatikan dulu. Ini seperti...."
"Seperti apa dok, tolong jangan buat kamu khawatir. Janin saya baik-baik saja kan dok?" imbuh Zee
"Iya, janin ibu baik-baik saja. Tapi melihat ini, ini seperti bukan plasenta. Tapi,"
__ADS_1
"Dokter yang jelas dong, jangan putus-putus gini penjelasannya. Kami jadi khawatir"
"Eh maaf pak, bukan maksud saya membuat bapak dan ibu khawatir. Jadi gini, ini yang saya bilang plasenta tadi seperti bukan plasenta tapi seperti bayi juga" jelas dokter sambil memperjelas gambar apa yang ia maksud
"Maksud dokter saya hamil anak kembar?"
"Sebelum-sebelumnya setiap USG hanya 1 bayi yang terlihat, tapi kali ini seperti ada dua bayi. Dan ya kemungkinan ibu hamil kembar. Sebentar ya saya cek lagi"
Setelah memeriksa dengan lebih detil ternyata benar Zee sedang hamil kembar.
Dokter pun menjelaskan keadaan dari keduanya yang bisa di bilang ini kejadian ajaib.
Setelah usia kehamilan 8 bulan baru di ketahui bahwa ada 2 janin di dalam kandungannya.
Maka gak heran jika perut Zee terlihat sangat besar dengan tubuhnya yang mungil.
Meski begitu mereka tetap tidak mau dokter mengatakan apa jenis kelamin dari kedua buah hati mereka.
Mereka ingin hal itu menjadi kejutan saat hari kelahiran mereka tiba.
Setelah mengambil vitamin yang di resep kan oleh dokter, mereka pun pulang.
Pulang dengan wajah yang lebih ceria dan berseri karena saking bahagianya
Namun hingga sampai di rumah Dita tak kunjung membalas pesannya.
Awalnya Zee merasa aneh, karena tak biasanya Dita lambat membalas pesannya.
Tapi ia mencoba untuk tetap berpikir positif.
"Mungkin Dita lagi sibuk kali ya, ya udah deh ntar juga pasti di balas" batin Zee
*****
Keesokan harinya seperti biasa, Zee kini mempunyai rutinitas baru yaitu jalan santai di pagi hari.
Sebelum berangkat jalan pagi Zee mengecek hp nya lebih dulu siapa tahu sudah ada balasan chat nya dari Dita, tapi ternyata tidak.
Bahkan pesan yang ia kirim hanya centang satu.
"Kok Dita hp nya ga aktif sih? Tumben" batin Zee
"Sayang, ayo. Udah selesai belum?" panggil Adam yang sudah sedari tadi menunggu Zee di teras
"E.. iya mas, bentar"
__ADS_1
Zee kemudian beranjak lalu meletakkan hp nya.
"Biar aku telpon nanti aja deh, mungkin Dita masih sibuk"
Mereka kemudian berjalan santai menikmati sejuknya udara pagi dengan berkeliling komplek.
Karena janin di kandungannya sudah muali membesar, Zee jadi sangat mudah capek.
Mereka pun duduk di pinggir jalan sambil melihat banyak anak-anak berlalu lalang karena hendak pergi ke sekolah.
"Mungkin jika anak-anak kita sudah besar nanti pasti setiap pagi kita akan sibuk untuk menyiapkan segala keperluan mereka, iya kan sayang?" ucap Adam
"Hhaa .. ya ampun mas mas. Belum juga si kembar lahir kamu sudah memikirkan mereka sekolah. Perjalanannya masih panjang sayang..."
"Ya kan cuma membayangkan. Eh tapi pasti bakalan seru deh, aku memandikan mereka dan kau sibuk menyiapkan baju dan makanan mereka. Lalu kita sama-sama mengantar mereka pergi ke sekolah, iya kan?"
"Iya iya, pasti aku akan sangat sibuk mengurus ketiga bayi ku nanti"
"Hah? 3 bayi? Bukankah dokter kemarin hanya bilang 2, kenapa kamu bilang 3"
Tanya Adam tak paham
"Iya, karena yang ketiga adalah kamu. Hahaha..."
Zee mencubit hidung mancung suaminya itu
"Aku? Bagaimana mungkin aku kamu anggap bayi, hah?" Adam menatap gemas pipi tembam istrinya
"Sudah lah mas, jangan dulu kamu pikirkan anak-anak kita yang akan bersekolah. Pikirkan saja ketika mereka sudah lahir nanti, kamu mau tidur sama siapa?"
"Maksudnya?"
"Setelah melahirkan aku pasti akan sibuk untuk menyusui mereka sepanjang hari dan malam, jadi kemungkinan besar aku akan tidur bersama mereka bukan bersama mu. Apa lagi bayi kita 2"
Adam melotot dan mulai berpikir keras.
"Eh tidak tidak, jika kamu sepanjang hari dan malam hanya sibuk mengurus bayi-bayi kita, yang mengurus ku siapa. Tidak, ini tidak boleh terjadi.
Kedengarannya saja sudah sangat menyeramkan, apa lagi jika nanti terjadi. Tidak aku harus menyiapkan baby sitter untuk anak kita, aku tidak mau tidur sendirian"
Zee tertawa puas karena kepanikan suaminya.
Menurutnya itu sangat lucu melihat ekspresinya, dengan anaknya saja Adam seperti tak ingin membagi dirinya apa lagi dengan orang lain.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1