
Sudah dua hari sejak kejadian itu Choki dan Dita tetap di ruangan ICU.
Semua keluarga hanya bisa melihat mereka dari luar jendela.
Sore harinya dokter kembali mengecek kondisi mereka.
Suasana berubah menegang karena dokter di dalam meminta perawat untuk memanggil beberapa dokter lagi.
"Suster ada apa? Bagaimana kondisi adik-adik saya di dalam?" tanya Anggun pada perawat
"Kedua pasien saat ini mulai melemah, terutama pasien wanita. Dia kini mengalami pendarahan dari hidung dan mulutnya. Maaf bu, saya harus memanggil dokter Exel karena keadaan saat ini sangat mendesak. Permisi"
Dengan cepat suster pergi meninggalkan Anggun yang kini mulai mematung mendengar penjelasannya.
Ferdi, suami Anggun mendekatinya lalu bertanya
"Apa yang suster barusan katakan, mereka di dalam baik-baik saja kan sayang?"
"Engak mas, kondisi mereka memburuk terutama Dita" jawab Anggun dengan suara pelan.
"Jangan beri tau mama dan papa ya, biar dokter sendiri nanti yang kasih tau"
"Iya mas, aku... aku ga sanggup buat beri tahu mereka, aku ga sanggup..."
Anggun menyandarkan kepalanya, air matanya tumpah di dada suaminya.
"Kuatkan dirimu sayang, kuatkan dirimu. Sudah sudah, jangan menangis nanti mama sama papa pasti curiga" Ferdi mengusap air mata Anggun serta mencium keningnya.
Karena kondisi mereka berdua yang sama-sama memburuk hingga harus memerlukan beberapa dokter sekaligus.
Semua keluarga pun panik, terutama bu Rahma.
Beliau kini sudah tak mampu berdiri karena sudah merasa tak memiliki otot dan tenaga.
Anggun dan Anggi berusaha menenangkan mama mereka meski mereka sendiri pun juga merasa panik.
__ADS_1
Saat semua anggota keluarga hening sembari menyaksikan bagaimana dokter berusaha keras di dalam, hp Alfan tiba-tiba berdering.
"Siapa yang telpon pa?" Tanya Airin
"Adam ma. Aku angkat dulu ya"
"Iya, jangan lama-lama ya"
Alfan pergi sedikit menjauh untuk menjawab telponnya.
"Halo, assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam bang. Gimana keadaan Choki sama Dita bang?" tanya Adam dari seberang telpon
"Darurat Dam, kondisi Choki dan Dita seperti sangat darurat. Beberapa dokter sedang menangani mereka saat ini"
"Allah Akbar... Ya Allah bagaimana ini bang. Mendengar kabar mereka saat ini aku semakin merasa bersalah pada istriku"
"Istri kamu sekarang di mana?" tanya Alfan
"Sebaiknya kamu beri tahu Zee sekarang dengan pelan. Minta dia untuk berjanji agar tidak bereaksi berlebihan, demi kandungannya"
"Ya Allah mana bisa bang, dari mimpi buruk saja istri ku sudah stres begitu apa lagi aku beri tau yang sebenarnya bang. Ya Allah... Bagaimana ini"
Alfan terus berusaha meyakinkan Adam untuk segera memberi tahu Zee.
Bagaimanapun Zee berhak tau. Apa lagi dengan kondisi Dita yang terus memburuk.
"Ya sudah bang, jika ada perkembangan segera kabari aku ya bang"
"Iya oke, assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam"
Beru saja Adam mematikan hp nya ia terkejut karena ada bayangan di sampingnya.
__ADS_1
"Bayangan? Apa dia mendengar kan aku dari tadi?" batin Adam
Ketika Adam menoleh ke belakang, firasatnya benar.
Zee berdiri di belakangnya dengan mata merah dan tangannya yang mengepal.
"Sayang, ka.. kamu udah selesai mandinya?"
"Apa yang membuat mu se tega ini sama aku mas? Apa!!" terlihat jelas bahwa saat ini Zee sangat kesal
"Tega? A apa maksud mu sayang, a aku ga ngerti" Adam pura-pura dan mendekati nya
"Apa yang kamu sembunyikan dari ku mas, kebenaran apa?"
Adam memjamkan matanya dan menarik panjang nafasnya
"Jawab mas, jangan diem aja"
Zee menarik lengan Adam meminta jawaban
"Mas...!! Ada apa dengan Dita? Katakan mas, katakan"
"Iya iya sayang, aku bakal jelasin semuanya. Tapi tolong kendalikan dirimu, tenang sayang tenang..." ucap Adam sambil memegang bahunya
"Bagaimana aku bisa tenang, Dita sahabatku mas"
"Iya sayang aku tau. Sini duduk dulu, ayo..."
Setelah Zee duduk di sampingnya Adam lalu memberinya minum.
"Sudah, sekarang cepat katakan ada apa dengan Dita mas?"
"Oke, tapi kamu harus janji kamu akan tetap tenang ya, demi mereka sayang" Adam mengelus perutnya
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1