
Tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundaknya hingga membuatnya sadar dari lamunannya.
"Bagaimana keadaan istri mu, nak?"
"Pak RT?"
Adam terkejut ketika melihat sudah banyak orang di sekelilingnya.
Mereka adalah para tetangga yang datang untuk membesuk Zee dan kedua bayinya.
Adam berdiri menyambut mereka lalu menyapa.
"Istri saya ada di dalam pak"
"Kami datang kemari ingin melihat istri dan bayi mu, boleh?"
"Boleh pak, boleh. Tapi bergantian ya, kata dokter maksimal 3-4 orang"
"Ya sudah ga papa, yang penting kami bisa melihatnya"
Pak RT lalu mengajak istrinya dan bu Eka untuk masuk bersama, setelah itu gantian dengan yang lainnya.
Bu Fitri, bu Risma dan bu Endang menunggu di luar sambil mengintip dari kaca pintu.
Bu Risma meski orangnya sangat julid dan tak bisa menyaring omongan, tapi jiwa sosialnya tinggi.
Ya meski tak jarang membuat orang yang ia besuk tersinggung.
Setelah bergantian masuk dan melihat Zee, mereka lalu duduk bersama di luar.
"Apa kata dokter tadi tentang istri mu nak?" tanya bu Fitri
"Kata dokter dia koma, karena saat operasi mengalami pendarahan hebat"
"Lalu di mana bayi mu, kami boleh lihat?"
"Mereka ada di ruangan khusus bayi, karena mereka harus masuk inkubator"
"Oh jadi beneran hamil kembar ya istri kamu?" tanya bu Risma kepo
"Iya bu, Alhamdulillah Allah memberi kami bayi kembar"
"Biasanya kalo bayi kembar itu sejak lahir harus di pisah dulu beberapa hari, karena takutnya ada yang kalah salah satunya" imbuhnya
Bu Endang mencubit lengan bu Risma
"Hust! Bu Risma ini ya masih aja tetap julid di manapun dan kapan pun. Setidaknya tau sikon lah bu, masa iya besuk orang sakit malah ngomongnya gitu"
"Ih sakit, kenapa kau cubit aku. Aku itu cuma kasih tau Adam" elaknya
"Itu cu ma M I T O S, faham. Jaman udah modern gini masih aja percaya mitos jaman leluhur"
__ADS_1
"Sudah sudah, hentikan ibu ibu. Ini rumah sakit jangan membuat kegaduhan di sini" bu Fitri mencoba melerai perdebatan mereka.
"Benar kata bu Fitri, kalo kalian masih mau lanjut berdebat di luar saja jangan di sini" imbuh pak RT
Adam hanya diam karena ia sudah faham betul dengan sifat dari tetangganya.
Untuk memperbaiki suasana Adam mengajak mereka untuk melihat kedua bayi nya.
Meski hanya dari luar tapi wajah keduanya terlihat jelas.
"Apa jenis kelamin mereka?" tanya bu Eka
"Alhamdulillah, laki-laki dan perempuan". jawab Adam dengan senyumannya yang melebar
"Wah benar benar Allah ganti lengkap ya penantian mu, selamat ya"
"Iya Alhamdulillah, terima kasih"
Tak lama setelah puas melihat bayi kembar Adam, pak RT dan ibu-ibu lainnya kemudian pamit untuk pulang.
Setelah baru Adam melunasi administrasi nya dan kembali ke ruangan istrinya.
5 hari setelah kepergian Dita, Zee masih tetap tidak sadarkan diri dari koma nya.
Tak jarang bu Rahma menelpon Adam sekedar bertanya bagaimana kabar Zee, melihat kedua bayi nya lewat video call.
Bu Rahma dan pak Beni sudah sangat terluka dengan kepergian Dita, juga putranya yang tak kunjung ada perkembangan dari koma nya.
Mereka berpesan agar Adam tak memberi tahu Zee dulu tentang Dita sebelum kondisi Zee benar-benar pulih.
Kini kedua bayi Adam dan Zee sudah bisa keluar dari inkubator, karena berat badan mereka kini sudah normal semua.
Adam kini bisa melihat langsung bahkan sudah bisa menggendong nya.
Adam meletakkan box bayinya di samping Zee, agar istrinya itu bisa mendengar langsung suara tangisan dari buah hatinya.
Siapa tahu dengan begitu Zee bisa cepat terbangun dari koma nya.
Tapi tidak mungkin kedua bayi nya tetap ada di rumah sakit menunggu ibunya yang tidak tahu kapan akan terbangun.
Adam menyewa 2 orang baby sitter untuk mengurus putra-putri mereka di rumah.
Selain itu ibu ibu tetangganya pun bergantian mengunjungi dan juga membantu mengasuh bayi kembarnya.
2 minggu sudah Zee terbaring koma.
Dengan setulus hati setiap hari Adam selalu menemaninya, pulang pergi untuk melihat buah hatinya di rumah.
Setiap kali Adam menyeka tubuh istrinya, Adam kembali teringat saat pertama kali menyentuhnya.
Zee yang selalu risih dan geli ketika Adam menyentuh bagian dadanya, kini hanya diam tak bereaksi.
__ADS_1
Adam mengelap tubuhnya dari atas hingga ujung kakinya setiap hari sambil terus berharap dan berdo'a.
Setelah itu ia menggantikan pakaiannya.
"Aku rindu senyum mu sayang, caramu berbicara dengan manja, tatapan mu yang teduh....
Segeralah bangun sayang, karena bukan hanya aku yang menunggu mu saat ini tapi kedua buah hati kita. Mereka menunggu mu di rumah...."
Tangisan Adam kembali pecah, ia duduk di sampingnya menunduk sambil memegang erat tangannya.
Rindu se rindu rindunya kian menyiksa setiap harinya.
Bahkan Adam tak sempat hanya untuk mencukur brewoknya, karena semua waktunya habis untuk pulang pergi demi si kecil dan mengurus istrinya di rumah sakit.
Bahkan jika Allah mengijinkan, Adam ingin bertukar posisi dengan Zee.
Karena kedua buah hatinya lebih membutuhkan Zee dari pada dirinya.
Adam duduk termenung menatap cincin di jari manis istrinya.
Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini, tatapannya kosong seperti tak ada gairah untuk hidup.
Tiba-tiba gerakan kecil dari jari Zee membuatnya sadar.
Matanya langsung terbuka lebar dan mulai berbinar.
Secercah harapan akan kesembuhan istrinya kini mulai merekah.
"Sayang... jari mu... Sayang kamu dengar aku kan? A.. aku di sini sayang. Aku tau kamu akan segera sembuh, a aku tau"
"Dokte.... dokter... Istri saya dok...."
Adam langsung berlari memanggil dokter.
Setelah di periksa Zee memang mengalami kemajuan pesat, tubuhnya kini perlahan sedikit demi sedikit bisa di gerakkan.
Dan kini matanya pun perlahan ia buka.
Secercah cahaya mulai bisa ia lihat, dengan pandangannya yang masih buram namun Zee masih bisa melihat dengan jelas bahwa orang yang di depannya adalah Adam suaminya.
"Mas...." panggilnya dengan suara lirih
Kini Adam benar-benar menangis.
Tangisan bahagia hingga membuatnya tak mampu berkata-kata.
"Alhamdulillah ya Allah.... Engkau kabulkan doa hamba...
Sayang.... Aku rindu...." Adam memeluk tubuhnya dengan erat.
Tak peduli meski ada dokter di sampingnya, Adam tetap menangis.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️