
Keesokan harinya seperti biasa setelah sholat subuh Zee berdzikir dan mengaji sembari menunggu suaminya pulang dari masjid.
Sambil menunggu penjual sayur datang Zee menyiram tanaman hias di ters dan di halaman rumah.
"Loh, ini apa?"
Zee melihat undangan di atas meja lalu mengambilnya
"Undangan pertunangan? Dari siapa ini?"
Karena penasaran Zee segera membukanya.
Tapi belum juga Zee membacanya penjual sayur pun datang.
Zee meletakkan kembali undangan itu dan segera berbelanja. Selagi ibu-ibu komplek belum datang Zee segera menyelesaikan belanjaanya dan segera masuk ke rumah.
Ia tidak mau kejadian yang dulu terulang kembali.
Begitu Zee masuk ke dapur, Adam datang.
"Assalamualaikum...."
"Wa'alaikum salam...." Zee meletakkan belanjaanya dan menghampiri Adam
"Ini dari siapa sayang?" Tanya Adam yang sedang memegang undangan
"Aku juga ga tau mas. Tadi pas aku keluar emang udah ada di meja depan"
"Tapi kok udah kebuka?"
"Iya, barusan aku yang buka tapi belum sempat kebaca eh tukang sayurnya udah dateng, jadi aku langsung belanja dan ga sempet baca, hehe ..."
__ADS_1
Adam mencubit gemas pipi istrinya lalu membuka undangan nya
"O... Ini dari Kirana dek, ternyata Kirana mau bertunangan"
"Oh ya, coba aku lihat mas. Oo... Berarti kemaren pas masih di Turki dia nelpon itu dia mau kasih ini ke kamu mas"
"Mungkin iya"
"Tapi kok pas mas Adam tanya ada apa dia kok bilangnya ga ada apa-apa"
"Iya juga ya, ah biarlah. Kamu ikut juga ya?"
"Ikut? Kemana?"
"Ya ke pertunangan Kirana sayang...."
Zee langsung terdiam. Ia takut kalau dirinya ikut nanti Adam akan di permalukan oleh orang-orang karena dirinya mantan DJ, terutama kalangan ibu-ibu.
"Aku ga usah ikut deh mas"
"Loh, kenapa sayang. Ada apa?"
"Aku ga mau mas Adam nanti malah di permalukan di depan banyak orang"
"Di permalukan? Maksud kamu apa sayang?"
"Mas Adam kan tau sendiri aku ini dulunya apa. Aku yang dulunya hidup di dunia malam menikah dengan seorang yang agamis. Aku mantan DJ, pakaian ku selalu terbuka. Banyak orang yang beranggapan kalau aku itu seperti pelac*r"
"Hust...!!" Adam segera menutup mulut Zee dengan tangannya
"Apa yang kamu katakan dek? Aku mau menikahi mu bukan untuk masa lalu. Menikah dan hidup bersama mu untuk masa depan dan akhirat ku. Tak peduli seberapa buruk mereka menjelekkan mu, bagi ku kamu adalah bidadari"
__ADS_1
Mendengar itu tak terasa air mata Zee jatuh membasahi pipi, Adam langsung memeluknya dengan erat dan menciumi keningnya berulang ulang.
"Aku tidak peduli orang-orang mau berkata seburuk apapun tentang mu, aku tak peduli sayang...."
"Tapi bagaimana jika nanti mas Adam di permalukan?"
"Aku tidak malu, menikah dengan mu bukan aib. Aku mencintai mu, sangat sangar mencintai mu"
"Aku juga mencintai mu, mas... Hiks hiks..."
"Sudah sudah... Berhentilah menangis, jangan buang lebih banyak air mata mu untuk menangisi hal-hal yang tidak penting" ucap Adam sambil mengusap air matanya
Bbrrrtttt....
Suara dari perut Zee terdengar begitu keras.
Mereka pun tertawa mendengar bunyi itu.
Zee lalu pergi ke dapur untuk segera memasak karena perutnya memang sudah terasa sangat lapar.
Selesai memasak, Zee lalu memanggil Adam untuk sarapan bersama.
Kemudian membuatkan Adam bekal untuk makan siang.
Adam setiap hari selalu pergi ke pabrik dan toko untuk mengecek segalanya.
Hari ini Zee memilih di rumah saja untuk beberes rumah karena sidah beberapa hari di tinggal ke Turki.
Ia juga sekalian akan beresin koper barang dan belanjaanya kemarin.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1