Taubatnya Wanita Hina

Taubatnya Wanita Hina
24 Meninggalnya Umi Fatimah


__ADS_3

Selang dua minggu Dita menelepon Zee dan mengajaknya bertemu.


"Ini semua hasil dari terjualnya semua aset aset lo di Jakarta"


Dita memberikan beberapa cek padan Zee.


"Terima kasih Dit, mulai sekarang kamu bukan lagi asisten ku, kamu adalah sahabat terbaikku"


Ucap Zee sambil memegang tangan Dita


"Iya sama-sama. Oh ya Zee, gue ngajak lo ketemuan karena gue sekalian mau pamit"


"Pamit?! Mau kemana??"


"Gue mau pindah ke bali"


"Bali? Kenapa harus bali?"


"Ya. Karena di sana banyak orang yang tidak mengenal gue. Gue akan punya kehidupan baru, dengan orang orang baru yang pastinya dengan jalan hidup yang baru"


"Kamu pindah untuk menenangkan diri saja atau bagaimana?" Tanya Zee lagi


"Gue akan menetap di sana"


"Sama seperti mu yang selalu mendukung keputusan ku, aku pun juga begitu. Selama itu membuat mu lebih baik, aku dukung"


Zee lalu memberikan sebuah cek untuk Dita sebagai hadiah perpisahan.


Meski sebenarnya Dita tidak mau, tapi karena Zee memaksa maka Dita menerimanya.


Setelah itu mereka pun berpisah.


Jarak dan tempat mungkin telah memisahkan mereka, tapi tidak dengan komunikasi dan rasa sayangnya.


Zee lalu pulang dan menceritakan semuanya pada Adam.


Adam mencoba menenangkan Zee yang sedih karena berpisah dari Dita.


"Keputusan mu benar. Selama itu baik untuk Dita, teruslah mendukungnya" ucap Adam


Setelah tenang, Zee lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.


"Biasanya jam segini umi sudah ada di dapur. Umi kemana? Apa mungkin umi tidur" Zee bertanya dalam batinnya.


"Ya udah. Kasihan umi pasti kecapekan. Hari ini aku mau masakin kesukaan umi biar capeknya hilang"


Zee kemudian lanjut memasak dengan sepenuh hati. Baru selesai memasak adzan dhuhur berkumandang.

__ADS_1


Adam segera bersiap pergi ke masjid.


Karena umi Fatimah tak juga keluar kamar Zee mengetuk pintunya untuk membangunkannya.


Karena tidak ada jawaban Zee membuka pelan pintunya dan ternyata umi Fatimah sedang tertidur.


"Pasti umi tidurnya nyenyak banget, sampe suara adzan saja tidak bisa membangunkannya. Ya sudah aku sholat sendiri saja, setelah itu aku coba bangunin umi"


Zee lalu pergi ke kamarnya dan menunaikan sholat dhuhur.


Setelah itu dia kembali ke kamar umi Fatimah untuk melihat apakah sudah bangun atau tidak.


Tapi ternyata umi Fatimah masih tetap tidur.


Zee akhirnya mendekat dan hendak membangunkan.


Tapi saat Zee menyentuh tangannya,


"Astaghfirullah umi... Badan umi panas. Umi sakit?..."


Umi Fatimah tidak menjawabnya dan itu semakin membuat Zee panik.


Zee terus berusaha membangunkannya sambil menunggu Adam pulang.


Zee mengambil segelas air untuk di oleskan di bibir umi Fatimah.


"Ya Allah umi, umi bangun umi. Umi..."


Zee menangis disampingnya karena panik.


Tak lama Adam pun datang


"Assalamualaikum..."


Begitu suara Adam terdengar Zee langsung berlari keluar kamar menghampiri Adam


"Mas... Mas Adam.... Umi mas. Umi..."


"Ada apa? Kenapa kamu panik, umi kenapa?"


Zee langsung menarik tangan Adam membawanya ke kamar umi Fatimah.


"Umi panas mas, umi ga sadar. Kita harus bawa umi ke dokter"


Adam segera memopong umi nya membawanya ke mobil untuk segera di bawa ke rumah sakit.


Selama di perjalanan tak henti hentinya mereka berdua bertasbih, memohon agar keadaan umi Fatimah tidak memburuk.

__ADS_1


Di rumah sakit umi Fatimah segera masuk ke UGD dan langsung di tangani oleh dokter.


Adam dan Zee menunggu do luar dengan keadaan cemas.


"Sejak kapan umi demam?" Tanya Adam


"Aku juga ga tau mas. Pas aku mau bangunin umi buat sholat dhuhur umi udah ga sadar, gimana ini...."


Zee menangis dan sesekali melihat ke arah pintu UGD berharap dokter keluar dengan membawa kabar baik.


Meski umi Fatimah adalah mertuanya, tapi Zee menyayanginya seperti ibu kandungnya sendiri.


Terlihat jelas dari raut wajahnya kalau dirinya begitu khawatir pada umi Fatimah.


Melihat istrinya yang terus menangis, Adam sejujurnya juga tak kuasa melihat kondisi umi nya saat ini, tapi Adam mencoba terlihat lebih kuat di depan Zee.


Adam menarik Zee ke dekapannya mencoba menenangkan dengan mengelus elus kepalanya.


Meski sebenarnya Adam juga merasakan apa yang Zee rasakan.


"Jangan menangis, umi pasti baik-baik saja. Jangan berhenti berdoa ya..."


Zee mengangguk dan membalas pelukan Adam.


Setelah setengah jam menunggu, akhirnya dokter pun keluar.


Adam dan Zee segera menanyakan keadaan umi Fatimah.


"Bagaimana keadaan umi saya dok, umi baik-baik saja kan?" Tanya Zee


"Iya dok, bagaimana kondisinya umi sekarang? Apakah sudah sadar?" Tanya Adam juga


Melihat dari raut wajah dokter sebenarnya sudah bjsa di tebak bagaimana keadaan umi Fatimah saat ini.


"Dokter kenapa diam? Jawab dok! Bagaimana umi sekarang?" tanya Adam


"Mohon maaf, kami hanya bisa berusaha dan selebihnya Allah yang menentukan. Kalian yang sabar, umi kalian sudah berpulang"


Deg!!


Mendengar itu Adam tertegun tak bisa berkata. Air matanya langsung menetes membasahi pipinya, begitu pun Zee.


Seketika tubuhnya menjadi lemas dan terjatuh ke lantai.


"Umi..... Umi....." Teriak Zee


Adam langsung memeluk Zee yang menangis histeris.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2