
Kini Adam pun juga menangis.
Jujur, lebih dari pada Zee Adam juga menginginkan seorang anak.
Adam menangis sambil memegang bingkai foto almarhumah umi Fatimah.
"Umi.... Istri ku tidak salah bukan jika ia sering menangis menginginkan anak? Karena aku pun sama sepertinya, hanya saja aku masih bisa menahannya selama ini.
Tapi melihat istri ku saat ini yang menangis hingga histeris aku tidak tega umi..."
Adam menceritakan semua isi hatinya.
Berharap setelah itu ia bisa merasa sedikit lebih lega.
Adam mengusap air matanya yang menjatuhi bingkai foto tersebut.
Setelah merasa sedikit lebih lega, ia lalu meletakkan bingkai fotonya dan pergi ke kamar mandi.
Adam pergi ke dapur untuk membuatkan makanan untuk Zee.
Toktoktok....
"Sayang... buka pintunya. Sayang aku boleh masuk?" panggil Adam dari luar pintu.
Adam terus berdiri di depan pintu menunggu Zee membukanya.
"Sayang... Aku-"
"Aku mau sendiri mas, boleh kan?" tanya Zee dari dalam kamar
"Bileh sayang, tapi kamu harus makan dulu. Dari pagi kamu belum sarapan, ayo buka dulu pintunya sayang ini aku bawain makanan"
"Aku ga lapar mas, mas Adam aja yang makan"
"Tapi sayang-"
__ADS_1
"Mas! Aku butuh waktu sendirian"
Karena Adam tak kunjung berhasil membujuknya, akhirnya Adam pun pergi.
Ia meletakkan kembali makanannya di atas meja lalu Adam duduk mencari angin di kebun samping rumahnya.
Adam duduk di gazebo sambil menikmati percikan air mancur di kolam ikannya.
Jam dua siang Zee keluar dari kamarnya dengan mata yang sembab dan hidung yang kemerahan akibat menangis.
Ia mencari di mana suaminya kini.
Zee berkeliling rumah, mencari di setiap kamar namun tak juga menemukan Adam.
Di meja makan Zee menemukan makanan yang masih utuh.
"Ya Allah mas Adam belum makan juga, astaghfirullah... Ya Allah mas..."
Zee menutup kembali makannya dan kembali mencari Adam.
Dan akhirnya Zee menemukan Adam yang sedang tertidur pulas di gazebo.
Duduk di sampingnya sambik terus memandanginya.
"Mas..." panggil Zee dengan pelan sambil memegang pundaknya
Adam pun langsung terbangun.
"Kok tidur di sini?" tanya Zee
"Aku ketiduran sayang" jawab Adam sambil mengucek matanya
"Mas Adam belum makan?"
"Sudah, kamu udah makan juga?" tanya balik Adam
__ADS_1
Zee menggelengkan kepalanya.
"Loh kok belum makan, udah jam berapa ini?"
Adam melihat jam tangannya dan terkejut karena sudah jam 2 siang tapi belum sholat dhuhur.
"Ya Allah udah jam 2 sayang kamu masih belum makan? Ayo makan"
Adam menarik tangan tangan Zee membawanya ke meja makan.
Adam menarik kursi untuk Zee duduki, lalu mengambilkan makanan untuknya.
"Ayo sayang, makan. Aku mau sholat duhur dulu ya, kamu udah sholat?"
"Udah mas"
"Ya udah, kamu makan ya. Habis sholat aku kesini lagi"
Zee mengangguk dan Adam pun pergi berwudhu dan sholat.
Sambil menunggu adam sholat, Zee hanya diam dan tidak memakan makanan yang sudah Adam siapkan.
Hingga Adam datang, dan terkejut karena nasi di piring nya masih utuh.
"Loh kok nasinya masih utuh? kamu ga mau makan? Kenapa sayang?" tanya Adam lalu menarik kursi dan duduk di sampingnya
"Aku nungguin kamu mas. Mas Adam pasti belum makan juga kan?"
"Aku sudah makan, ayo makan"
Adam menyendok nasinya dan menyuapi Zee
Setelah beberapa suapan Zee mengambil sendok dari tangan Adam dan menyuapi Adam balik.
"Aku tau mas Adam belum makan juga, ayo buka mulutnya" ucap Zee
__ADS_1
Adam tersenyum lalu membuka mulutnya, dan mereka pun makan bersama.
☀️☀️☀️☀️☀️