
"Sorry sorry. Tadi pas gue mau berangkat gue papasan sama om Roy. Dia marah dan maksa gue buat bawa lo pulang"
"Om Roy? Kenapa?"
"Zee, pikiran gue selama ini tuh bener tentang om Roy. Dia protektif jagain lo bukan karena dia sayang atau peduli sama lo, tapi karena dia menganggap lo adalah mesin ATM nya" jelas Dita
"Maksud mu apa, Dit?"
Adam lalu memesankan minuman buat Dita yang sepertinya sangat ke hausan.
Setelah mimun dan nafasnya kembali beraturan, Dita lalu menceritakan bagaimana om Roy selama Zee off dari entertain sangat-sangat memaksa Dita untuk membawanya kembali.
Om Roy sebenernya mempunyai beberapa artus di tangannya, hanya saja popularitas Zee yang lebih menonjol dari pada yang lainnya.
Semakin padat jadwal si artis semakin, banyak tawaran pekerjaannya maka semakin banyak pula pemasukan yang om Roy dapat.
Karena itulah om Roy sangat memaksa Dita untuk membawa Zee kembali.
Tapi Dita sepertinya merasa lelah juga.
Melihat dan mendengar tentang kehidupan baru Zee di sini, berbeda 180° dari kehidupan yang sebelumnya.
"Sebelumnya gue maksa banget sama lo agar mau kembali ke Jakarta karna gue pikir hidup lo di sini menderita, tapi ternyata menderita itu jika hidup di kota" jelas Dita
"Terus kalo kamu ga mau di kota kamu mau kemana?"
"Ga tau. Mau di kota atau di manapun yang terpenting gue bebas dari jangkauan om Roy"
"Ya udah, itu pikirin belakangan. Sekarang kita pesan makanan dulu ya"
Zee lalu memesan makanan untuk mereka bertiga.
Adam sedari tadi hanya mendengar kedua hawa itu saling bercengkrama.
Setelah itu Dita memberikan laptop yang berisi laporan tentang usaha Zee di Jakarta. Seperti hotel, bar dan rumah makannya.
Setelah melihat hasil laporannya Zee berniat ingin menjualnya.
Sontak keinginan Zee itu membuat Dita terkejut, Begitupun Adam.
"Kenapa Zee? Perasaan semuanya ga ada masalah, bahkan provit nya meningkat" tanya Dita
__ADS_1
"Aku ingin menjual semua usaha ku di Jakarta, termasuk apartemen ku"
"Lo yakin Zee?!!"
Zee mengangguk lalu meletakkan laptop nya.
"Aku ingin lepas sepenuhnya dari Jakarta. Aku ingin hidup sederhana di sini, membangun usaha di sini, bersama suami dan ibu mertua ku"
Adam tidak menyangka kalau Zee akan melakukan itu demi dirinya.
Zee benar-benar ingin menjadi istri Adam sesungguhnya dan berbakti kepadanya.
Adam menatap lekat wajah Zee yang tertunduk malu lalu memegang tangannya.
"Pikirkan baik-baik, jangan membuat keputusan dengan terburu-buru" ucap Adam
"Aku udah pikirkan hal ini dari jauh-jauh hari mas. Aku ingin hidup sederhana bersama mu di sini"
Adam merasa sangat tersentuh. Dia semakin yakin kalau Allah tidak salah mengirimkan Zee untuk menjadi istrinya.
Zee meminta Dita untuk segera menjual semua asetnya di Jakarta.
Dita tak bisa memaksa Zee untuk mengubah keputusannya.
Sebagai sahabat, Dita harus mendukung semua keputusan Zee selama itu baik untuk nya.
"Lo makin cantik pake hijab Zee, lo udah berubah 180° dari Zee yang dulu" puji Dita
"Alhamdulillah... Aku bisa mendapat hidayah dari Allah berkat dari hubungan ini. Semoga kamu juga mendapat hidayah dari Allah"
"Aamiin..."
Karena sudah sore Dita pamit pulang dan mereka saling berpelukan.
Di perjalanan pulang Adam kembali kepikiran tentang keputusan Zee.
"Kamu punya usaha apa aja di Jakarta?" Tanya Adam
"Ada beberapa mas. Hotel, bar, tempat karaoke dan beberapa rumah makan"
"Bar...?"
__ADS_1
"He'em. Itu adalah usaha pertama yang aku bangun dari hasil kerja keras ku"
"Aku setuju kalau bar nya di jual karena itu merupakan tempat untuk menjual minuman haram, tapi kalau rumah makannya apa ga sayang?"
"Ga papa mas. Aku mau buka usaha di sini sama kamu"
Adam menepikan mobilnya dan berhenti.
Adam kali ini memberanikan dirinya untuk bertanya lebuh dalam tentang perasaan Zee terhadapnya.
"Kok berhenti mas?"
"Aku mau nanya sesuatu, boleh?"
"Boleh. Mau tanya apa?"
Adam menatap kedua bola mata Zee dengan serius
"Kamu jawab jujur ya. Sebenarnya apa kamu sudah bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya?"
Zee menatap balik Adam
"Aku sedang berusaha"
Jawab Zee lalu kembali menundukkan wajahnya
"Aku pun begitu, aku tau mungkin ini sedikit berat. Tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi imam yang baik untuk mu"
"Maafkan aku mas, karena masih belum bisa menjadi istri yang seutuhnya untuk mu"
Adam meraih tangan Zee dan menggenggamnya dengan erat.
"Tidak perlu meminta maaf, aku pun masih belum bisa menjadi suami seutuhnya untuk mu. Mari kita mulai sekarang sama-sama belajar, belajar mencintai apa yang sudah menjadi takdirnya kita. Karena Allah tidak pernah salah dalam memituskan takdir hambanya"
Zee tersenyum dan mengangguk.
Mereka kini sudah mulai saling terbuka tentang perasan mereka masing-masing.
Sejak saat itu mereka tak lagi menjaga jarak, mencoba bersikap lebih romantis layaknya pasangan.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1