Taubatnya Wanita Hina

Taubatnya Wanita Hina
44 Rumah Sakit


__ADS_3

"Ya Allah... Astaghfirullah.... Astaghfirullah...."


Adam mengusap kasar wajahnya.


Dengan terpaksa Adam menunggu di luar ruangan.


Dengan baju yang berlumur darah, wajah yang pucat karena khawatir Adam terus berdzikir dengan tangannya yang terus gemetar.


Satu menit terasa bagai satu jam, dan satu jam terasa seperti satu hari bagi Adam.


Sepuluh menit Zee di ruangan UGD, kini ia di bawa keluar untuk di pindahkan ke ruang operasi.


Dokter segera meminta Adam untuk bertandatangan sebelum akhirnya operasi di lakukan.


Operasi harus di lakukan karena peluru yang bersarang di lengan Zee ukuran nya cukup besar juga sudah berkarat.


Juga karena kehilangan cukup banyak darah hingga membuat kondisi Zee kritis.


Setelah menunggu di luar selama kurang lebih dua jam akhirnya dokter pun keluar dan memberi kabar pada Adam kalau operasi nya berjalan lancar.


"Alhamdulillah pak, operasinya berjalan lancar. Dan peluru yang berada di lengan istri bapak sudah bisa kami keluarkan" ucap dokter


"Alhamdulillah dok, Alhamdulillah... Terima kasih dokter terima kasih...."


Kini bisa sedikit bernafas lega meski Zee belum sembuh total setidaknya ia sudah melewati masa kritis nya.


"Apa saya boleh melihat istri saya sekarang, dok?"


"Belum bisa pak. Sebentar lagi istri bapak akan di pindahkan ke ruang rawat, baru setelah itu bapak boleh masuk menemui nya"


"Baik dok terima kasih..."

__ADS_1


Dengan tidak sabar Adam menunggu istrinya itu di pindahkan.


Setelah Zee selesai di pindahkan Adam langsung menghampirinya.


Dengan air mata yang tak mampu lagi di bendung Adam duduk di samping Zee memperhatikan tubuhnya dari ujung kaki hingga kepalanya.


Wajah yang biasanya selalu riang dan penuh senyuman, kini pucat pasi dan masih tak sadarkan diri.


"Mohon maaf pak, pasien saat ini masih sangat membutuhkan istirahat, mohon jangan menimbulkan suara yang keras agar tidak menggangu nya" jelas suster


"Baik sus, saya mengerti"


Suster pun keluar meninggalkan Adam dan Zee di dalam.


Adam memegang tangan istrinya dengan lembut agar tidak menggangu nya.


"Sayang..." Panggil Adam dengan lembut


"Maafkan aku sayang... Semua ini terjadi gara-gara aku. Jika saja aku menurutimu dan langsung pulang, mungkin ini tidak akan terjadi"


Rasa sesal, takut dan juga khawatir menjadi satu.


"Kenapa kamu bisa se nekat ini sayang, kenapa kamu tidak membiarkan aku saja yang tertembak. Melihat mu seperti ini rasanya lebih sakit dari tembakan itu...."


Meski masih dalam pengaruh obat bius dan juga belum sadarkan diri, tapi pendengarnya Zee masih berfungsi dengan normal.


Meski di bius sepertinya otaknya masih mengenal suara itu, hingga saat Adam bercerita air matanya ikut jatuh.


Adam terkejut melihat istrinya yang menitikan air mata meski dalam keadaan tidak sadar.


"Sayang... Aku tau, meski sekarang kamu masih belum sadar tapi kamu mendengar suara ku, kan? Cepatlah sadar sayang, cepatlah pulih...."

__ADS_1


Adam mengusap air mata Zee dan menciumi tangannya.


Tak lama kemudian beberapa warga datang untuk menjenguk keadaan Zee.


Mereka datang karena mengetahui kejadian itu dari penjaga makam.


Mereka adalah pak RT, pak lurah dan beberapa warga lainnya yang semuanya adalah bapak bapak.


"Bagaimana keadaan istri mu, nak?" Tanya lak RT


"Alhamdulillah... Dia baru saja selesai di operasi, tapi masih belum sadarkan diri"


"Bagaimana ini bisa terjadi nak, apa benar ini ulah Rian?" Tanya pak lurah


"Bagaimana bapak bisa tau?"


"Penjaga makam yang memberi tahu kami, diw melihat semuanya dengan jelas"


"Kamu yang sabar ya nak, ini pasti ujian dari Allah" sahut salah seorang warga


Adam menunduk sambil mengangguk.


"Jangan khawatir nak, kamu urus saja istri mu disini sampai benar-benar pulih biar soal Rian saya dan para warga yang akan mengurusnya" ucap pak lurah


"Terima kasih banyak pak"


"Ini nak saya sengaja membawakan kamu pakaian ganti biar kamu ga perlu pulang untuk ganti baju. Kasian kalau kamu ninggalin istri kamu sendiri an" ucap pak RT dengan memberikan kantong bajunya


"Terima kasih banyak pak sudah repot-repot"


"Tidak nak, tidak repot. Ya sudah kalau begitu kami pamit pulang"

__ADS_1


"Iya pak, terima kasih..."


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2