
Kirana mengangguk lalu mengikuti Zee masuk ke rumah.
Zee mempersilahkan Kirana duduk, ia lalu pergi ke dapur untuk mengambilkannya minuman.
"Tidak usah repot-repot mengambilkan minuman, duduk saja" ucap Kirana
Zee kemudian berbalik dan duduk bersama Kirana.
"Maaf kalau aku menggangu mu"
"Tidak, sama sekali tidak mengganggu"
"Kamu sendirian?" Tanya Kirana
"Iya"
"Em... Mas adam nya kemana? Ke toko ya?"
"Iya"
Kirana melirik melihat sekeliling yang tampak sepi.
Kemudian tatapannya berhenti di frame foto Adam dan umi Fatimah.
Tak ada satu pun foto Adam dan Zee yang terpajang.
Zee teringat dengan pejelasan Adam dulu, kalau Kirana sempat di jodohkan dengannya.
Zee merasa kedatangan Kirana agak aneh, di tambah dengan sikap Kirana yang seperti sedang mengamatinya.
"Pernikahan kamu sama mas Adam udah berapa lama ya?" Tanya Kirana
"Alhamdulillah udah 8 bulan"
__ADS_1
"8 bulan? Cukupa lama ya. Tapi kok ga ada satu pun foto kalian yang di pajang?"
Zee semakin curiga dengan Kirana. Dari pertanyaannya, tatapan matanya, sepertinya ada maksud tersembunyi.
Tak ingin orang yang masih mencintai suaminya itu lama-lama disini, Zee langsung menanyakan apa tujuannya datang.
"Kalau boleh tau kamu ada keperluan apa ya kesini?" Tanya Zee
"Oh ini aku mau memberikan ini sama mas Adam" Kirana mengeluarkan undangan dan memberikannya pada Zee
"Undangan? Dari siapa?"
"Itu undangan pernikahan aku"
"O... Jadi kamu kesini mau ngundang mas Adam"
"Iya, apa kamu keberatan?"
"Oh tidak, tentu saja tidak. Tapi aku cuma mau kasih tau sama kamu, mas Adam ga akan datang jika tidak dengan ku. Dan undangan ini cuma buat mas Adam kan? Jadi maaf ya kalau mas Adam ga bisa datang"
"Oh ya kamu tadi nanya kenapa tak ada satu pun foto aku sama mas Adam? Kami terlalu sibuk menikmati masa pacaran setelah menikah, jadi belum sempat" jelas Zee dengan santainya sambil tersenyum lebar
Kirana semakin panas mendengarnya.
Nafasnya bahkan mulai tak beraturan.
Ia lalu bangun dan pamit pulang.
"Ya sudah, aku mau pulang" ucapnya dengan ketus
"Udah mau pulang? Ga mau sekian nunggu mas Adam nya pulang biar bisa kasih langsung undangannya?"
"Tidak, terima kasih, sampaikan saja salam ku padanya, assalamualaikum"
__ADS_1
"Baiklah, wa'alaikum salam..."
Zee melambaikan tangannya berbahagia karena kepulangan Kirana.
Zee lalu menutup pintu dan menguncinya.
Ia lalu mengambil undangan itu di atas meja.
"Salam buat mas Adam ya" ucap Zee menye menye menirukan logat bicara Kirana.
"Udah mau nikah juga masih aja sibuk mikirin laki orang. Astaghfirullah... Ya Allah. Se cinta apa sih dia sama mas Adam. Padahal sebentar lagi udah mau nikah masih belum juga ngelupain mas Adam"
Zee yang kini sudah mulai cemburu membuang undangan itu ke sembarang arah lalu masuk ke kamarnya.
Ia memilih menonton drama Korea dari hp nya dari pada kepikiran sama Kirana.
Sore harinya Adam pun pulang.
Zee yang sudah mandi dan wangi menyambutnya di pintu dengan ramah dan penuh senyuman.
Seketika lelahnya Adam karena bekerja hilang seketika melihat bidadari cantiknya di rumah.
Adam lalu duduk di sofa dan menepuk sebelahnya, isyarat agar Zee juga duduk bersamanya.
"Mas Adam capek banget ya, sampek kusut gitu mukanya" Zee membelai rambut pendek suaminya itu
"Ya lumayan sih. Tadi mesin di pabrik mengalami kendala untung saja cepat ketahuan, kalau tidak bisa bisa terjadi kecelakaan pada karyawan"
Jelas Adam yang lalu membaringkan kepalanya di pangkuan istrinya.
"Mau aku bikinin teh?"
"Ga usah sayang, kalo boleh pijitin aja kepala ku"
__ADS_1
Dengan senang hati Zee memijat lembut kepala suaminya itu.
☀️☀️☀️☀️☀️