
Sedangkan bu Rahma duduk lemas menyaksikan pemakaman putranya, di temani Anggun dan Anggi di sisinya.
Pemakaman yang di letakkan tepat di samping milik Dita.
Begitu tumpukan tanah sudah menggunung mengubur Choki di dalamnya, semua keluarga menaburi bunga di atasnya.
Setelah ustadz memimpin doa, satu persatu pelayat pun mulai pergi.
Tinggallah hanya keluarga inti saja yang masih tetap duduk di samping batu nisan baru itu.
Beberapa saat kemudian, Ferdi suami Anggun pun datang.
Ia memberi kabar bahwa polisi kini sudah menetapkan hukuman seumur hidup bagi komplotan begal itu.
Meski keputusan itu tak bisa membuat Dita dan Choki kembali, tapi setidaknya bisa sedikit lega karena penyebab kematian putra dan menantunya kini sudah mendapat ganjarannya.
"Ayo kita pulang ma, pa. Biarkan Choki dan Dita beristirahat dengan tenang. Mereka pasti sudah bahagia karena sudah bisa bertemu kembali" ajak Ferdi
"Iya ma, pa. Mas Ferdi benar, kota harus pulang. Papa dan mama harus istirahat" imbuh Anggun
Pak Beni dan bu Rahma beserta anak-anaknya yang lain pun pulang ke rumah.
Karena melihat kondisi mereka kini benar-benar kelelahan, setelah berhari-hari menunggu di rumah sakit kini yang mereka tunggu sudah pulang ke pangkuan ilahi.
Hari setelah kepergian Dita sudah sangat menyulitkan mereka, kini di tambah dengan kepergian Choki.
Setiap kali Dimas menangis semua anggota keluarga yang lainnya pun ikut menangis.
Dimas yang usianya masih belum genap 2 tahun kini sudah yatim piatu.
Anggun dan Anggi memilih tinggal di bersama orang tua mereka setidaknya hingga 40 hari setelah kepergian Choki.
Selain untuk menemani kedua orang tuanya, juga untuk bisa menjaga Dimas yang sudah pasti akan terus mencari papa mamanya.
*****
Adam kini sudah menceritakan semuanya pada Zee, ia merasa lebih tenang karena Zee bisa mengontrol emosinya meski masih sangat terasa sesak di dadanya.
Menangis hanya itu yang Zee lakukan.
Penyesalannya adalah karena ia tak bisa bertemu dengan Dita untuk yang terakhir kalinya meski itu hanya lewat video call saja.
__ADS_1
Tak lain yang menjadi beban pikirannya adalah bagaimana dengan putra semata wayang Dita, yaitu Dimas.
"Pasti dia bertanya-tanya tentang papa mamanya mas, kasihan Dima..."
"Meski Dita dan Choki sudah pergi, tapi Dimas tak akan kekurangan kasih sayang. Dia mempunyai kakek nenek yang penyayang, juga bibi dan pamannya. Kita doakan Dimas semoga dia tumbuh jadi anak yang kuat dan sholeh, ya"
*****
Hari demi hari berlalu, meski masih menyisakan luka tapi semuanya harus tetap berjalan.
Hari ini adalah hari ke 40 setelah kelahiran Aisyah dan Yusuf yang mana hari ini juga bertepatan fengan 40 hari kematian Dita.
Adam dan Zee melakukan aqiqah untuk putra putrinya sekaligus juga acara mengaji bersama yang pahalanya di sedekahkan untuk Dita dan Choki.
Hal yang sama pun juga di lakukan di rumah duka di Bandung.
Perlahan seiring berjalannya waktu, pak Beni dan bu Rahma kini sudah mulai membaik.
Mereka sering melakukan video call dengan Zee meski hanya sekedar untuk menyapa anak kembarnya.
Beberapa tahun kemudian....
Kini Aisyah dan Yusuf sudah menginjak usia 5 tahun.
Aisyah yang lebih tua dari Yusuf wajahnya kini lebih mirip dengan Adam, sedangkan Yusuf lebih mirip dengan Zee.
Adam dan Zee membangun taman bermain di tanah bekas ruko yang terbakar.
Selain untuk tempat bermain putra putri mereka, juga untuk anak-anak sekitarnya.
Taman bermain yang di lengkapi dengan berbagai macam wahana itu di gratiskan, hanya ada 1 syarat yaitu menjaga kebersihan lingkungan taman.
Hampir setiap sore Zee mengajak kedua anaknya untuk bermain di sana sembari menunggu kepulangan abi mereka.
Dimas yang kini sudah berusia 7 tahun sudah mulai menginjak bangku sekolah.
Hari ini adalah hari pertama Dimas sekolah, Anggun dan Ferdi yang mengantarkannya sekolah.
Anggun mengirimkan foto dari Dimas yang sudah tampak rapi dan tampan dengan seragam sekolahnya.
Zee langsung melakukan panggilan video call dengan Anggun.
__ADS_1
"Hai onty...." sapa Dima begitu wajah Zee langsung tampak
"Hai anak ganteng, assalamualaikum..."
"Eh lupa, wa'alaikum salam onty. Onty Dimas mau sekolah nih"
"Wah... Dima udah besar ya, sekarang udah mau sekolah"
"Iya dong, Dimas kan emang udah besar. Aisyah sama Yusuf kemana onty?"
"Mereka masih tidur sayang, soalnya tadi subuh udah bangun terus tidur lagi"
"Yah... padahal dimana mau ngobrol sama mereka, Dimas kangen"
"Oh gitu, ya udah nanti kalo Dimas udah pulang sekolah langsung telpon onty ya, Aisyah sama Yusuf kangen juga sama Dimas"
"Oke onty, ya udah ya Dimas mau berangkat sekolah dulu. Om Ferdi udah nungguin di depan, dadah onty..."
"Sekolah yang pinter ya nak, dadah...."
"Ya udah ya Zee, aku mau anterin Dimas dulu" sambung Anggun
"Iya mbak, salam buat om dan tante"
"Iya, nanti aku sampein sama mama papa. Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
*****
Keluarga kecil dari Adam dan Zee semakin hari semakin bahagia.
Meski saat ini kedua anak mereka sudah besar, tapi Adam masih meminta Zee untuk menunda kehamilan.
Meski 10 tahun sudah berlalu Adam masih trauma dengan kondisi pasca Zee melahirkan, ya meski sebenarnya Zee sudah siap akan hal itu.
Aisyah dan Yusuf kini tumbuh menjadi anak yang pintar sholeh dan sholeha. Bahkan keduanya kini sudah bisa menghafal 10 juz Alquran.
Karena Adam dan Zee memang berkomitmen, bahwa mereka akan lebih cenderung untuk mendidik tentang agama lebih dari dari pengetahuan umum.
Pengetahuan umum bisa mereka dapatkan kapan pun dan dimana pun, tapi tentang agama itu tetap menjadi tanggung jawab mereka sebagai orang tua.
__ADS_1
TAMAT