
Wanita yang biasa ia lihat cantik hanya menggunakan make up tipis kini berubah bak ratu, dengan make up full dan riasan siger di kepalanya.
Semua mata tertuju pada Dita.
Suasana sakral pun begitu terasa.
Kebaya putih yang ia pakai semakin menambah kecantikannya.
Dita lalu duduk di samping Choki, di depan wali hakim.
Kini syarat pernikahan sudah sempurna mulai dari kedua mempelai, wali, saksi dan mahar.
"Bisa kita mulai akad nya?" tanya penghulu
"Bisa pak, langsung saja di mulai" jawab papa nya Choki
"Bismillahirrahmanirrahim... Saya sebagai wali hakim dari saudari Dita. Dengan ini saya nikahkan dan kawin kan engkau Choki Ibrahim dengan Dita Amalia dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan dan emas seberat 100 gram di bayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Dita Amalia dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"
Jawab Choki dengan mantap dan lantang dalam sekali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah...." jawaban kompak dari keluarga dan para tamu undangan
"Alhamdulillah..." ucap penghulu lalu melanjutkannya dengan doa.
Semua tamu undangan dan tentunya kedua mempelai turut meng amin kan doa.
__ADS_1
Perasaan lega dan bahagia bercampur menjadi satu.
Banyak dari mereka yang menitikkan air mata karena saking bahagianya.
Terutama Zee, bahagia bercampur haru menjadi satu. Terutama karena nasibnya yang di sama dengannya yaitu menikah tanpa adanya orang tua.
Acara selanjutnya ialah memberikan seserahan dari mempelai pria kepada mempelai wanita.
Dan saat prosesi sungkeman sama orang tua itu adalah hal yang paling membuat sesak di dada.
Saat Dita sungkem di pangkuan mama nya Choki, air matanya tumpah tak lagi ia bisa menahannya.
"Begini kah rasanya menikah tanpa adanya orang tua?" batin Dita
Bu Rahma (mamanya Choki) mengerti apa yang Dita tangisi.
"Jangan menangis sayang, jangan. Ini adalah hari bahagia mu, dan mulai hari ini aku adalah ibu mu dan kau adalah anak ku"
ucap bu Rahma lalu memeluknya
Proses sungkeman itu benar-benar mengandung bawang.
Banyak air mata bahagia sekaligus penuh haru menyertainya.
Setelah proses sungkeman selesai, kini sudah waktunya untuk bersua foto bersama.
Satu persatu dari keluarga maupun tamu undangan mulai sibuk berfoto-foto, sedangkan Zee dan Adam hanya duduk dimeja memperhatikan kebahagiaan sahabatnya itu.
Tiba-tiba ho adam berbunyi
__ADS_1
"Sayang aku angkat telepon dulu ya"
"Iya mas"
Adam pun pergi untuk menjawab telepon nya. Karena posisi mereka yang duduk di depan pelaminan membuat Adam kesulitan untuk mendengar.
Zee pun menikmati minuman yang di sediakan.
"Kenapa di sini? ga mau foto sama Dita?" tanya Airin
"Eh iya kak, bentar lagi"
"Kamu pasti teringat akan momen pernikahan kamu sendiri ya? Sama aku juga gitu. Apa lagi saat melempar bunga, teman teman ku sampe ada yang jatuh saking hebohnya" Airin bercerita sambil tertawa
Zee terdiam, karena apa yang Airin ceritakan tak pernah ia alami.
Pernikahan sekali seumur hidup, di rias dengan baju dan make up impian tak pernah ia rasakan.
Zee teringat akan pernikahan terpaksa nya dengan tanpa adanya kesiapan.
"Hei, kenapa melamun?"
"Ah.. ngak kok kak. Ee aku mau ke toilet dulu"
"Oh ya udah, habis itu foto-foto ya"
"Iya" Jawab Zee lalu pergi ke toilet.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1