
Ketika makanan sudah tersaji di meja umi Fatimah kembali.
"Wah... Baunya aja enak, bikin lapar"
"Silahkan duduk umi" Adam menarik kursi untuk umi Fatimah duduk.
Mereka sarapan bersama layaknya keluarga pada umumnya.
Hanya saja antara Adam dan Zee masih saling canggung untuk berbicara.
"Kamu hari ini tidak ke toko?" Tanya umi Fatimah
"Iya mi, agak siangan"
"Kamu ajak juga istri mu biar dia ga bosen di rumah terus"
Zee melirik Adam dan Adam juga balik meliriknya.
"Zee ga ikut juga ga papa umi, biar Zee nemenin umi aja di sini"
"Kok malah mau nemenin umi, udah kamu ikut Adam aja ke toko sekalian kamu bisa keliling daerah sini"
Zee kembali melanjutkan makannya dan tidak lagi menjawab.
Adam mengerti, mungkin Zee menolak ikut dengannya karena takut Adam merasa keberatan.
Selesai sarapan Zee langsung membereskan meja dan lanjut mencuci piring.
"Udah biar umi yang lanjutkan, kamu siap-siap sana"
"Siap siap? Mau kemana umi?"
"Lah, kan kamu mau ikut Adam ke toko"
"Emangnya ga papa?" Tanya Zee pelan
"Ga papa. Kamu siap-siap dulu, aku tunggu di depan" saut Adam dari belakang.
Zee terkejut dan merasa sedikit malu.
Umi Fatimah tersenyum dan mengambil alih pekerjaan Zee.
Zee lalu pergi ke kamarnya untuk bersiap.
__ADS_1
"Apa yang harus aku siapkan? Aku tidak ada baju lain selain gamis ini dari umi" ucap Zee
Akhirnya Zee hanya mengambil tasnya dan keluar menghampiri Adam.
"Sudah siap?" Tanya Adam
Zee mengangguk.
"Hijab nya mana?"
Zee mendongak menatap Adam dan menggelengkan kepalanya.
"Aku ga bisa pake hijab" jawabnya pelan
Adam mengangkat sebelah alisnya sambik tersenyum.
"Ambil hijab mu biar aku bantu pakaian"
Zee menurut dengan perintah Adam untuk mengambil hijabnya di kamar.
Adam menyuruhnya untuk duduk lalu mengikat rambut Zee. Sejujurnya Adam sangat grogi, tapi Adam mencoba untuk menguasai perasaannya agar tetap terlihat tenang.
Adam sengaja membantunya sebagai langkah awal memulai pendekatan.
Bagaimana pun Adam harus memperlakukan Zee selayaknya seorang istri.
Dengan hati-hati adam memasang peniti agar tidak mengenai kulit istrinya itu.
"Maa sya Allah... Kamu terlihat lebih cantik dengan hijab"
Puji Adam yang membuat Zee tersipu malu. Pipinya tiba-tiba memerah mendengar pujian dari Adam.
Adam keluar lebih dulu sedangkan Zee masih pangling akan wajahnya sendiri di cermin.
Zee melenggang di depan cermin dengan semyuman yang lebar sebelum ia keluar menyusul Adam.
Mereka lalu pergi ke toko sedangkan umi Fatimah tetap berada di rumah sendirian.
Umi Fatimah menyibukkan diri dengan merawat kebun sayur mininya di belakang rumah.
Adam mempunyai toserba warisan dari abahnya.
Dahulu sebelum menikah, abahnya Adam membeli sepetak tanah dari hasil kerjanya sendiri lalu membangun toko kecil.
__ADS_1
Dan setelah menikah dengan umi Fatimah toko itu semakin maju dan semakin besar dan lengkap.
Abah nya Adam bernama Arif Firmansyah. Beliau meninggal karena kecelakaan saat Adam baru berusia 11 tahun.
Umi Fatimah lalu melanjutkan usaha toko itu sendirian. Hingga bisa memberi pendidikan tinggi bagi Adam.
Selain dari toserba orang tuanya, Adam juga membangun pabrik tahu tempe untuk membantu warga yang menganggur.
Dari dua usaha yang ia pegang, Adam bisa menghasilkan banyak uang.
Membangun rumah yang ia tempati sekarang bersama umi nya, membeli mobil dan tanah.
Adam sebenarnya adalah orang kaya, namun ia sudah terbiasa hidup sederhana.
Sesampainya di toserba nya, Adam di sambut baik oleh para karyawannya.
Mereka sudah tau tentang gosip kenapa Adam bisa sampai menikah, tapi para karyawannya itu tidak mempercayai semua itu.
Adam lalu memperkenalkan Zee pada karyawannya.
Adam meminta salah satu karyawatinya untuk menemani Zee berkeliling melihat-lihat apa saja yang ada di dalamnya.
Sedangkan Adam sendiri mememriksa laporan barang dan keuangan toko.
"Wah... Ini mah udah kek supermarket ternama, lengkap banget" ujar Zee
"Benar bu, pak Adam membuat toko ini seperti supermarket tapi versi yang low budget. Toserba ini memberikan harga murah tapi dengan kualitas mewah" jelas karyawati itu
Zee mengangguk dan tersenyum. Dalam batinnya ia merasa sangat kagum terhadap pemikiran Adam.
Di usia yang masih terbilang muda Adam mampu memberikan lapangan pekerjaan pada masyarakat.
Setelah selesai berkeliling toko, Adam mengajak Zee keluar untuk berkeliling komplek.
Sesekali Adam membuka pembicaraan agar bisa lebih akrab dengan Zee.
Zee orangnya memang humble, trus selalu nyambung di ajak berbicara oleh siapa saja.
Adam berhenti di depan warung mie ayam langganannya.
"Kok berhenti?" Tanya Zee
"Aku mau kamu tau rasa dari mie ayam di sini. Ayo turun" ajak Adam
__ADS_1
Zee membuka safety beltnya dan menyusul Adam.
☀️☀️☀️☀️☀️