
Dua hari kemudian Zee kini telah di ijinkan oleh dokter untuk pulang, dengan catatan perbannya harus rutin di ganti sampai luka jahitannya benar-benar mengering.
Adam kini membantu Zee untuk mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pulang.
Adam pergi keluar untuk melakukan administrasi sedangkan Zee bersiap dengan memperbaiki hijabnya.
Karena menggunakan satu tangan itu membuat Zee agak kesulitan.
Saat sedang sibuk membenahi hijabnya hp nya tiba-tiba beedering.
"Halo assalamualaikum..."
Zee segera menjawab teleponnya tanpa melihat nama dari yang menelpon.
"Wa'alaikum salam, Zee..."
Zee terkejut karena suara yang menjawab salamnya itu tidak asing.
"Dita?!"
"Kok lo terkejut mendengar suara gue, kenapa?"
"Ee.. tidak tidak. Aku tidak terkejut"
"Lagi apa sih lo Zee bikin gue penasaran aja. Beberapa hari belakangan ini lo itu agak aneh deh"
"Aneh? Aneh gimana?"
"Ya aneh aja, gak kek biasanya"
"Perasaan aku biasa aja deh Dit, kamunya aja yang ngerasa aneh sendiri"
"Gak gak, lo sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dari gue"
"Ga ada Dita sayang, ga ada yang di sembunyikan dari dirimu. Oke"
"Gue ga percaya"
Dita lalu mengalihkan telponnya menjadi video call
"Aduh... Kenapa Dita malah ngajak video call sih, nanti ketahuan dong kalo tangan kiri ku ga bisa gerak. Mana aku masih di rumah sakit lagi"
__ADS_1
batin Zee
Terpaksa Zee menjawab video call nya dari pada membuat Dita semakin curiga dengannya.
"Hai..." Sapa Zee dengan wajah ceria nya
"Hm..." Dita menatap curiga sahabatnya itu dengan mengangkat sebelah alisnya
"Kok gitu?"
"Kok gue masih curiga ya sama lo"
"Curiga apa sih Dit, ini gue ada di kamar"
"Kok warna cat temboknya beda?"
"Hehe... "
"Sayang... Udah siap? Ayok pulang" panggil Adam yang baru datang dengan suaranya yang lantang
Zee seketika mematung. Adam pasti tidak tau kalau dia sedang telponan sama Dita.
Adam menghampiri istrinya yang membatu sambil men toel hidungnya.
"Pulang?"
Suara Dita yang berasal dari telepon kini membuat Adam langsung terdiam.
Ia menatap layar hp istrinya dan ada wajah Dita yang seperti kucing kelaparan yang akan memangsa ikan di hadapannya.
Zee langsung mengalihkan hp nya mematap Adam.
"Mas... Dita lagi telpon, gimana ini?"
"Ya udah bilang aja kalo kita lagi di rumah sakit. Sampai kapan kamu akan menyembunyikan ini sayang"
"Zee... Kok gelap sih. Lo masih denger gue ngomong kan? Zee... Oy mana sih" gerutu Dita dari telpon
Zee lalu mengambil hp nya.
"Apa sih, nge dumel dari tadi"
__ADS_1
"Kami lagi di rumah sakit"
"Rumah sakit? Kamu sakit? Sakit apa? Sejak kapan? Kok lo ga bilang-bilang sama gue sih. Pantes feeling gue ga enak."
"Hust. Kebiasaan deh kamu, satu-satu kalo mau nanya"
"Iya iya, ngapain di rumah sakit, lo sakit?"
"He'em" jawab Zee sambil mengangguk
"Tuh kan, pantes belakangan ini lo jarang ingetin gue sholat"
"Iya iya maaf, tapi sekarang udah sembuh kok. Tenang, mulai hari ini pasti aku ingatkan on time"
Zee mencoba menenangkan Dita yang mulai khawatir tentangnya dengan tersenyum ceria seperti tak ada apa-apa.
"Mentang-mentang udah ga bareng lagi, lo main rahasia rahasia an tentang kondisi lo dari gue"
"Bukannya gitu Dit, gue tau kamu di sana sibuk. Kamu ngurus semua pekerjaan kamu sendirian, aku takut kamu khawatir gini dan jadi ga konsentrasi sama pekerjaannya. Maaf ya..."
Ucap Zee dengan wajah memelas
"Oke oke, kali ini gue maafin lo, tapi kalo lo main rahasia rahasia an lagi gue bakal marah beneran sama lo"
"Iya iya buk Dita yang cantik dan baik hati. Terima kasih telah menjadi sahabat ku sekaligus keluarga untuk ku.
Udah dulu ya aku mau siap-siap pulang nih"
"Tunggu dulu, mana suami lo. Gue mau ngomong"
"Ngomong apa? Nih..." Zee mengarahkan kameranya
"Kamu tuh harus yang bener jagain Zee, jangan sampe dia masuk rumah sakit lagi!"
Adam sedikit tersenyum mendengar omelan dari Dita.
"Iya buk Dita, anak mu ini pasti aku jaga dan aku sayang selalu"
Zee tertawa mendengar suaminya memanggil sahabatnya itu dengan ibuk.
Mereka lalu mengakhiri telepon nya dan segera pulang.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️