
Tanpa terasa air mata Zee juga mengalir di pipinya.
Demikian pun Adam, dia beranjak dan berdiri di samping jendela sambil menyeka air matanya.
"Sha, kalo kamu mau aku siap bantuin biaya kamu ke dokter. Kamu mau kan?" tanya Zee
"Ngak Zee, kamu ga perlu lakuin itu, percuma"
"Kenapa kamu ngomongnya gitu Sha"
"Percuma Zee, percuma. Dokter udah bilang kalo umur ku itu udah ga lama lagi. Aku udah 5 tahun hidup dengan penyakit ini, udah ga ada jalan Zee"
Mendengar Sasha berkata seperti itu semakin membuat air mata Zee semakin deras.
Rasanya seperti ada yang sakit di dadanya.
"Terima kasih karena kamu masih mengenalku. Terima kasih telah mau mendengarkan cerita ku. Kamu memang orang yang baik Zee, dan Tuhan memberi mu jalan untuk bebas dari dunia malam.
Sekarang aku pamit"
Sasha beranjak dari duduknya dan hendak pergi keluar.
"Sha, kamu mau kemana?" cegah Zee
"Aku mau pulang Zee, aku ga mau dengan keberadaan ku di sini kembali membuat kegaduhan"
"Tunggu bentar Sha"
Sasha tak menggubrisnya, ia membuka pintu dan berjalan keluar.
Saat menuruni anak tangga semua mata kembali menyorotinya.
Tapi Sasha tak peduli, ia tetap berjalan tanpa melihat kanan kiri.
"Mas, aku boleh minta uang ga. Aku mau kasih ke Sasha, kasihan dia mas dia ga punya uang untuk berobat" Zee merengek pada Adam
Adam mengangguk dan membuka brankas nya, ia mengambil sejumlah uang dan memberikannya pada Zee.
"Berikan padanya sayang, ga papa"
"Iya mas, makasih ya"
Zee segera berlari keluar menyusul Sasha.
Begitu saat hendak menuruni anak tangga, Adam langsung menarik tangan Zee yang hendak terpeleset.
"Sayang..."
"Aa.... Ya Allah, mas" Zee menghentikan langkahnya dan berpaling pada Adam
"Kenapa kamu berlari, apa kamu lupa dengan isi di perut mu, iya?" tanya Adam sambil mengernyitkan dahinya
"Ya Allah astaghfirullah mas, aku lupa"
"Berikan uang nya, biar aku sendiri yang kasih pada teman mu"
Zee memberikan kembali uang itu pada Adam.
Segera Adam menuruni anak tangga dan berhasil mengejar Sasha.
"Tunggu" panggil Adam
Sasha yang hendak membuka pintu seketika berhenti dan menoleh.
__ADS_1
"Ini dari istri ku untuk mu, terimalah"
"Apa ini?"
"Ambillah. Gunakan jika kamu perlu"
Sasha masih mematung dan belum mengambil nya.
Matanya memutar ke segala arah dan terhenti ketika melihat Zee yang berdiri di atas yang menatapnya dengan senyuman.
Zee mengangguk memberi isyarat pada Sasha agar mau menerimanya.
"Terima kasih. Meski aku hanyalah orang asing tapi istri mu begitu baik pada ku, entah itu dulu sampai sekarang. Mungkin doa ku tak mungkin di terima oleh Tuhan, tapi aku tak akan berhenti untuk terus mendoakan kalian agar selalu bahagia"
"Terima kasih atas doanya, semoga doa baik mu juga kembali pada mu"
"Aku permisi" Sasha menatap dalam-dalam Zee dan tersenyum, sebelum akhirnya ia keluar dan pergi entah kemana.
Setelah Sasha pergi, Adam kembali ke atas untuk menuntun Zee menuruni anak tangga.
Tapi wajah Adam sedikit aneh, ia seperti sedang kesal.
Zee mengerti itu, mungkin Adam kesal karena ia hampir jatuh dari tangga karena berlari tadi.
Sepanjang perjalanan pulang, Adam hanya diam dan fokus mengemudi.
"Mas..." panggil Zee sambil memegang tangan Adam
"Hm..."
"Mas Adam marah ya sama aku?"
"Ngak"
Adam mengangguk tanpa menjawab.
"Mas..."
"Hm"
"Mas Adam maafin aku kan?"
"Iya"
"Tapi mas Adam kok-"
"Aku udah maafin kok, aku harus fokus mengemudi"
Zee melepas tangan Adam, ia menunduk sambil memainkan jemarinya.
Zee yang merasa bersalah karena kecerobohannya ia mencoba merayu Adam dan meminta maaf.
Ya, Adam memang mengatakan sudah memaafkan, tapi tidak dengan raut wajahnya yang tetap seperti sedang kesal.
Hingga tiba di rumah Adam tetap tak berbicara, namun masih tetap menjaganya dalam diam.
Setelah sholat isyak dan masih menggunakan mukenah nya, Zee duduk di teras menunggu suaminya pulang dari masjid.
Bagaimana pun ia harus bisa di maafkan oleh Adam malam ini juga, ia tak mau Adam mendiaminya hingga esok.
Kejadian tadi membuat pikirannya tak tenang, hatinya terus saja gelisah apa lagi dengan sikap suaminya yang seperti itu.
Namun Adam tak kunjung pulang, Zee bolak balik melihat jarum jam yang kini mulai menunjukkan pukul 9 malam.
__ADS_1
Hatinya semakin gelisah, pikirannya mulai aneh-aneh.
"Ya Allah ga biasanya mas Adam pulang hingga malam gini, mas Adam kemana ya?"
Karena angin yang berhembus semakin kencang, Zee memilih menunggu Adam di dalam.
Sesekali ia melihat ke jendela berharap Adam pulang.
Kini Adam pun pulang, begitu ia membuka pintunya ia langsung melihat istrinya yang sudah tertidur pulas di sofa.
Dengan pelan Adam melangkah mendekatinya, duduk di dekatnya sambil menatap lekat wajah istrinya.
"Kamu pasti ketiduran ya karena nungguin aku, maaf ya sayang" dengan pelan Adam mencium keningnya lalu membopongnya ke kamar.
begitu Adam menyelimutinya, Zee terbangun.
"Mas..."
"Loh kok bangun?"
Zee menarik tangan Adam dan langsung memeluknya
"Aku minta maaf mas, aku tau aku salah aku ceroboh, aku minta maaf mas"
"Kan aku udah maafin kamu"
"Ngak, mas Adam belum maafin aku. Buktinya mas Adam dari tadi diemin aku. Terus biasanya paling lambat jam 9 udah pulang dari masjid, ini sampek jam 10 lebih. Mas Adam mau menghindar dari aku ya??"
Adam tertawa mendengar ocehan panjang dari istrinya.
"Menghindar? Kata siapa?" tanya Adam sambil memegang gemas kedua pipi Zee
"Ya buktinya mas Adam diemin aku"
"Sayang, ngak. Itu ga bener. Ya aku dari tadi memang diam, ya karena aku memang sedikit kesal. Bukan karena apa, aku jadi kepikiran bagaimana jika tadi aku belum sempat meraih tangan mu saat kamu terpeleset tadi, mungkin itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidup ku.
Dan aku pulang telat bukan karena menghindar, tapi tadi di masjid ada pengajian dan juga sholawat bersama para anak yatim. Maaf sudah membuat mu gelisah, ya"
"Beneran?" tanya Zee memastikan
"Iya sayang, masak ga percaya. Oh ya kamu udah makan?"
Zee menggeleng kepalanya
"Loh kok belum makan, kenapa? Kamu nungguin aku ya"
Zee mengangguk sambil menatap Adam dengan polosnya
"Tunggu sini ya, aku ambilin makanan nya"
"Aku mau makan di dapur aja mas"
"Ya udah ayo, lepas dulu mukenah nya"
Dengan penuh kehangatan Adam menyuapi istrinya makan.
Karena dirinya sendiri sudah makan bersama di masjid tadi.
Selesai makan, mereka tidak langsung tidur.
Mereka memilih untuk duduk bersama membahas tentang acara 4 bulanan.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1