Taubatnya Wanita Hina

Taubatnya Wanita Hina
21 Panggilan Baru


__ADS_3

Tak lama kemudian Adam pulang dari masjid.


Melihat umi nya sedang tertidur di sofa, Adam melangkah pelan agar tidak menggangu nya.


Adam pergi ke kamarnya dan melihat Zee yang sedang mengaji. Adam menutup lagi pintunya Dengan pelan, sedangkan Zee tetap khusuk mengaji sampai-sampai tidak mengetahui kedatangan Adam.


Adam lalu mengambilkan selimut untuk umi nya.


Tapi umi Fatimah terbangun.


"Kenapa umi tidur di sini?"


"Umi ketiduran" jawab umi Fatimah sambil mengucek matanya


"Umi sakit?" Tanya Adam lagi


"Tidak nak, umi cuma sedikit pusing"


"Umi istirahat di kamar aja biar aku buatkan teh manis"


"Kalimat mu sama seperti yang Zee katakan pada umi. Umi mau duduk di sini saja, nak"


Adam lalu memijat pelan bahu umi nya.


"Oh ya nak, belakangan ini kenapa kamu selalu pulang cepat dari masjid? Buasanya kan kalau habis subuh dan ashar kamu selalu pulang lebih lama? Apa sudah tudak di laksanakan pengajian lagi?"


"Pengajiannya tetap ada kok, mi"


"Terus kenapa kamu pulang cepat?"


"Warga sudah menunjuk ustadz syam untuk mengisi ceramahnya"


"Oh... Kenapa? Gantian?"


Adam menggelenkan kepalanya dan ragu memberi tahukan pada umi nya. Adam melihat takut ada Zee di dekatnya.


"Sebenarnya sebagian warga benci sama Adam karena telah menikah dengan wanita DJ, dan mereka tidak mau hadir di pengajian jika Adam yang jadi pendakwah nya. Oleh karena itu Adam di ganti dengan ustadz Syam. Warga bahkan tidak membolehkan Adam untuk duduk sekedar mengikuti pengajian"

__ADS_1


Adam menjelaskan dengan pelan takutnya di dengar oleh Zee. Adam tidak mau Zee merasa di bersalah dengan apa yang terjadi pada Adam saat ini.


Dan ternyata benar, Zee diam-diam mendengar pembicaraan Adam dan mertuanya dari balik tembok.


"Astaghfirullah.... Kenapa kamu ga cerita sama uni, nak?"


"Adam tidak mau membuat umi sedih"


"Yang sabar nak, ini adalah ujian dari pernikahan kalian. Jangan sampai ini membuat pernikahan kalian jadi berantakan. Dan satu lagi, jangan sampai istrimu mengetahui hal ini, jangan sampai dia merasa bersalah"


"Itu sudah Adam pikirkan umi. Adam tidak mau Zee merasa harus bertanggung jawab atas ini"


Zee meneteskan air matanya, dia tak menyangka kalau Adam sangat-sangat memikirkan perasaannya.


Sejak awal umi Fatimah selalu memperlakukan dirinya seperti anaknya sendiri, itu membuat Zee merasa kalau dia kini hidup dengan ibu kandungnya sendiri.


Adam yang selalu baik, bersikap lemah lembut dan perhatian terhadapnya.


Dengan itu Zee berniat untuk membuka hatinya dan benar-benar menerima Adam sebagai suaminya.


Keesokan harinya Zee menyiapkan sarapan bersama umi Fatimah.


"Mau kemana nak, kok buru-buru banget? Ada apa?' tanya umi Fatimah


"Adam mau ke pabrik umi, barusan p. Yoyok telpon ada masalah katanya"


"Aku buatkan kamu roti ya mas buat sarapan" ucap Zee


Adam tercengang mendengar panggilan baru dari Zee. Kata 'Mas' yang Zee ucapkan hampir membuat Adam lupa kalau dirinya saat ini sedang terburu-buru.


"Ee.. ti tidak usah. Begitu urusannya selesai aku langsung pulang"


Adam menjawabnya dengan sedikit grogi.


Terlebih lagi saat Zee meraih tangan Adam untuk salim. Terlihat betul tangan Adam yang tremor.


Bagaimana tidak, hampir sebulan mereka satu rumah bahkan satu kamar tapi belum pernah saling bersentuhan.

__ADS_1


Adam segera pamit dan berangkat ke pabrik.


Di perjalanan, telinga Adam selalu terngiang suara Zee yang memanggilnya 'Mas'.


Ada senyum senyum sendiri sambil mengemudi mobilnya.


Adam merasa kalau Zee sudah mulai menerimanya sebagai suami.


Sebenarnya Adam sudah lebih dulu berusaha membuka hatinya untuk Zee, dan sekarang Zee pun mulai membuka hatinya untuk Adam.


Pasangan suami istri ini sama-sama berusaha menerima takdirnya dengan mencintai apa yang terjadi dalam takdir mereka.


Selesai sarapan Zee bersiap untuk pergi ke pabrik mengantarkan makanan untuk suaminya.


"Kamu mau kemana, nak?" Tanya umi Fatimah


"Zee mau nganterin srapan buat mas Adam, mi. Kasian tadi ga sempet sarapan"


"Oh gitu. Kamu udah kasih tahu Adam kalo kamu mau kesana?"


"Belum, mi. Memangnya kenapa?"


"Kabarin dulu nak, takutnya pas kamu sampai di pabrik Adam nya malah ke toko"


"Bener juga ya mi. Ya udah Zee ambil hp dulu"


Umi Fatimah merasa lebih lega dan lebih tenang melihat Zee yang mulai menunjukkan kalau dirinya memanglah istri Adam.


"Semoga Allah selalu melimpahkan cinta di anatara kalian" batin umi Fatimah.


Zee segera mengambil hp di kamarnya untuk mengabari Adam, tapi...


"Aduh aku lupa, aku kan ga punya nomer hp nya mas Adam" Zee menepuk dahinya


Zee lalu keluar dari kamar nya untuk meminta nomer hp Adam dari umi Fatimah.


Umi Fatimah tidak heran kalau mereka tidak saling memiliki kontak hp, umi Fatimah malah tertawa.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2