Taubatnya Wanita Hina

Taubatnya Wanita Hina
25 Malam yang Sunyi


__ADS_3

"Umi mas, umi... Dokter bohong kan mas... Iya kan mas...Hiks hiks..."


Adam semakin memeluk erat Zee.


Adam kini tak sanggup lagi untuk berpura-pura terlihat kuat.


Adam juga menangis tersedu-sedu melihat umi nya yang sudah terbaring tak bernyawa lagi.


"Umi... Ya Allah umi, bangun umi. Ini Adam di sini umi, ya Allah umi...." Teriak Adam sambil memeluk tubuh umi nya yang mulai dingin.


Mereka berdua menangis sejadi-jadinya karena tidak menyangka kalau umi Fatimah akan pergi secepat ini.


"Umi....hiks hiks... Ya Allah.... Baru sesaat aku bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu, kenapa Engkau ambil lagi ya Allah...." Tangis Zee


*****


Setelah mengurus segalanya, kini tiba waktunya umi Fatimah di makamkan.


Kepergian umi Fatimah meninggalkan luka yang tak bisa di sembuhkan oleh siapapun.


Adam berusaha tegar saat menaruh jasad umi nya di liang lahat.


Pandangannya yang mulai buram karena air matanya yang tak henti mengalir.


Bahkan lantunan adzan yang ia kumandangkan sempat beberapa kali terhenti.


Suaranya seakan berhenti di tenggorokan dan tak bisa melanjutkan.


Adzan lalu di gantikan oleh ustadz Syam.


Setelah proses pemakaman selesai satu persatu warga mulai bubar.


Kini hanya tinggal Adam, Zee, Kirana dan orang tuanya.


Adam merangkul pundak Zee yang masih terus menangis.


Kirana menghampiri mereka dan menyampaikan rasa bela sungkawa.


"Turut berduka cita ya mas, yang ikhlas agar umi bisa tenang di sana" ucap Kirana

__ADS_1


"Iya, insya Allah kami ikhlas. Maafkan jika umi ada salah..."


"Tidak cuma aku mas, semua warga tau kalau umi Fatimah itu orangnya baik. Semua orang menyukainya dan insya Allah semuanya telah memaafkan"


"Benar kata Kirana, kalian harus ikhlas. Yang tabah ya..." Sambung bu Fitri


"Makasih tante" jawab Adam


"Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu"


Bu Fitri dan suaminya lalu mengajak Kirana pulang meninggalkan Adam dan Zee.


Kirana merasa sangat tidak tega melihat Adam saat ini yang begitu terluka.


Ingin rasanya dia sendiri yang menenangkan Adam, tapi sepertinya Adam lebih tenang saat Zee membalas pelukannya.


Kirana masih sangat mencintai Adam, begitu sakit rasanya melihat Adam bersama wanita lain.


Bu Fitri menyadari arti dari pandangan putrinya terhadap Adam


"Berhenti memandanginya, dia sudah berkeluarga. Buang jauh-jauh perasaan mu nak. Ayo pulang"


Bu Fitri memegang tangan Kirana dan mengajaknya pulang.


"Mama ngerti bagaimana perasaan mu pada Adam, tapi kamu harus terima kenyataan nak kalau Adam sudah milik orang lain. Jangan siksa batin mu dengan terus menyimpan rasa itu. Buang jauh-jauh"


Bu Fitri terus menyemangati putrinya agar bisa move on dari Adam.


Bu Fitri tidak tega melihat putrinya ytnasih berharap pada Adam.


Oleh karena itu bu Fitri berniat untuk menjodohkan Kirana agar bisa segera melupakan Adam.


*****


Saat sudah sampai di rumah Adam dan Zee duduk di sofa sambil termenung.


Mereka sama-sama tenggelam dalam fikirannya masing-masing.


Suara nada dering dari hp Adam menyadarkan mereka.

__ADS_1


Ternyata itu telfon dari teman-teman Adam yang mengucapkan rasa bela sungkawa.


Malam yang berbeda, terasa begitu sunyi.


Setelah sholat isyak Zee membaringkan tubuhnya di kasur, tak lama kemudian Adam datang dan merebahkan tubuhnya juga di kasur.


Adam dan Zee sudah mulai tidur satu ranjang tapi masih dengan jarak yang lebar.


"Udah sholat?" Tanya Adam


"Sudah mas"


"Kenapa mukenahnya masih belum di lepas?"


"Aku merasa ada yang kurang mas. Kepergian umi masih belum bisa aku terima"


Bulir bening mulai menetes dari kelopak matanya.


"Jika saja aku membangunkan umi lebih cepat, mungkin umi masih bisa tertolong...."


Zee mulai menangis histeris.


"Kenapa kamu ngomong seperti itu? Itu bukan salahmu, semua ini adalah takdir dari Allah yang tak bisa kita hindari"


Adam memeluk Zee dengan erat. Meski aor matanya sendiri juga mulai jatuh tapi Adam segera menyekanya.


"Ini semua salah ku mas. Aku membiarkan umi sendirian. Jika saja sebelum aku pergi ke dapur aku pergi ke kamar umi dulu, umi pasti akan lebih cepat mendapatkan pertolongan. Hiks... Hiks..."


"Shuutt.... Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Cepat atau tidak jika Allah ingin membawa umi kembali, itu tak bisa di undur.


Menangis lah hingga hati mu merasa lebih tenang, tapi berhenti untuk menyalahkan dirimu, ya..."


Zee menangis sejadi-jadinya di pelukan Adam.


Zee menenggelamkan wajahnya di dada bidang Adam dan membuat baju Adam sampai basah karena air matanya.


Lelah karena menangis, Zee akhirnya tertidur di dekapan Adam.


Meski merasa kram dan kesemutan, Adam merasa tidak tega untuk memindahkan Zee dari lengannya.

__ADS_1


Adam tetap membiarkan lengannya menjadi bantal bagi Zee hingga adzan subuh membangunkannya.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2