
Adam langsung memeluk Zee dengan sangat erat, air mata bahagianya mengalir deras dan bibirnya tak henti-hentinya mengucap syukur Alhamdulillah.
Zee membalas pelukan Adam dengan erat, selain bahagia karena telah hamil ia juga sangat terharu melihat reaksi dari suaminya.
"Ya Allah... Terima kasih ya Allah. Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Robb. Engkau telah mengabulkan doa-doa kami. Alhamdulillah ya Allah Alhamdulillah..."
Adam terus mengucapkan puji syukur dengan air mata yang terus mengalir.
Tak henti-hentinya Adam menciumi istrinya sambil terus memeluk erat.
Mereka tak bisa menahan rasa bahagia, raut wajah mereka sama sama bersinar.
Penantian 9 tahun mereka sebentar lagi akan terwujud.
Adam menyuruh Zee untuk duduk, sedangkan dirinya duduk berjongkok di bawahnya.
"Sayang... Hai... Ini suara papa, eh enaknya dia mau panggil kita apa ya nanti. Papa mama, ayah bunda, ato abah umi?" tanya Adam sambik mengusap perut zee yang masih rata.
Zee yang awalnya terharu kini menjadi tertawa.
"Haha... Mas mas... dia ini masih jadi segumpal darah, belum bisa mendengar. Kamu ini ada-ada aja"
"Ya ga papa, namanya juga lagi seneng seneng nya.
Oh ya besok kita ke dokter ya, kita cek langsung bagaimana keadaan calon anak kita"
"Iya suamiku tercinta, apa sih yang ngak buat kamu"
Zee mengalungkan tangannya di leher Adam dan mencium keningnya.
Kini adzan maghrib telah di kumandangkan, Adam yang biasanya selalu berjamaah di masjid kali ini ia ingin berjamaah dengan istri nya saja di rumah.
"Ke masjid aja mas, laki laki itu lebih utama berjamaah di masjid dari pada bersama istri di rumah" suruh Zee
"Tapi bagaimana dengan mu sayang, masak iya aku ninggalin kamu sendirian di rumah dalam keadaan hamil begini?"
Zee menarik hidung Adam hingga membuatnya memerah
"Jangan banyak alasan calon abi dari anakku. Istri mu ini hamil, bukan sekarat. Udah sana ambil wudhu, biar aku siapkan pakaian mu, ya"
"Tapi kamu beneran ga papa sayang?"
__ADS_1
"Sekali lagi mas Adam bertanya, aku tarik lagi nih hidungnya. Mau?"
"Hehe... Siap sayang, aku wudhu dulu"
Zee tersenyum dan beranjak dari duduknya untuk menyiapkan pakaian untuk suaminya.
*****
Keesokan harinya mereka bersiap untuk pergi ke dokter kandungan.
Sejak bangun tidur tadi sikap Adam mulai berubah, ia menjadi lebih over dalam memperhatikan Zee.
Adam meminta istrinya itu lebih pelan saat berjalan, bahkan ia tak lagi mengizinkan Zee untuk memasak dan melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya.
"Ayo sayang, sudah siap?" tanya Adam
"Bentar mas, ini sebagian sandal dan sepatu ku kok ga ada ya mas?"
"Sayang, apa kamu lupa kalo kamu sekarang sedang hamil? Kamu ga boleh pake sandal ato sepatu yang ada hak nya, nih kamu pake yang ini aja. Ini tuh anti selip dan ga ada hak nya, jadi aman buat kamu"
Adam duduk berjongkok memakai kan sandalnya Zee.
"Tapi kan mas itu hak nya ga tinggi seberapa, cuma 3-6 cm aja"
Yah namanya juga anak pertama dari penantian yang cukup lama, Zee memaklumi sikap Adam padanya.
Bahkan saat berjalan pun Adam terus memeganginya seakan seperti sedang menuntun orang sakit.
"Awas hati-hati sayang" ucap Adam ketika Zee menuruni 3 anak tangga di depan rumahnya
"Loh istri mu sakit tah nak?" tanya bu Endang yang kebetulan lewat di depan rumah mereka
"Enggak kok bu, dia baik-baik saja"
"Oh.. kirain sakit, habisnya kamu nuntun dia layak lagi bawa orang sakit si"
"Hahaha... Ya namanya juga sayang istri bu, takut istri lecet"
"Kalian mau berangkat kerja ya, pagi pagi udah rapi bener?"
"Enggak bu Endang kami mau ke rumah sakit"
__ADS_1
"Ke rumah sakit? emang siapa yang sakit?"
"Ee... ga ada yang sakit kok bu, kami cuma mau check up aja kok" Zee mencubit kecil lengan Adam dan segera menyela
"Oh gitu kirain ada yang sakit. Ya udah saya permisi"
"Iya bu, mari"
Begitu bu Endang pergi Adam meraba lengannya yang terasa sedikit kebas.
"Kamu kenapa cubit aku sih sayang, aku salah apa?"
"Kamu ga salah, hampir salah"
Jawab ketus Zee lalu masuk ke mobil
"Lah, hampir salah udah di cubit apa lagi kalo udah salah. Emangnya kenapa sih"
Tanya Adam sambil mengejarnya masuk ke mobil
"Mas, tadi kamu mau bilang kan sama bu Endang kalo aku hamil?"
"Iya, emangnya kenapa, salah?"
"Bukannya salah mas, tapi banyak orang bilang kalo hamil muda jangan dulu bilang ke semua orang. Tunggu usia kehamilan hingga beberapa minggu atau bulan" jelas Zee
"Emangnya kenapa sayang, ini kan kabar baik"
"Pamali"
"Oh gitu, terus kita harus memendam kebahagiaan ini sendiri?"
"Kita jadi ke dokter ga nih?" tanya Zee dengan nada dan pandangan datar pada Adam
"Ee...e Iya, ayo ayo. Nanya mulu aku sampe ga mood kan si bumil. Maaf ya bumil cantik, suamimu ini ga bakal banyak tanya lagi. Pasang dulu sabuk pengamannya, kita cus ke dokter"
Mereka pun berangkat.
Adam mengendarai mobilnya dengan pelan karena ia tak mau calon bayi di dalam perut Zee terguncang.
Apa lagi jika ada polisi tidur, ia sangat hati-hati dan lebih memelankan lajunya lagi.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️