Taubatnya Wanita Hina

Taubatnya Wanita Hina
12 Batalnya Perjodohan Adam


__ADS_3

Keseruan Zee dan Dita berpesta minuman keras berakhir saat fajar menyingsing.


Dengan kondisi mabuk parah Zee dan Dita keluar dari bar.


Dengan tidak sadarkan diri Zee dan Dita menyebrangi jalanan tanpa melihat kanan kiri.


Hampir saja mereka tertabrak salah satu taksi, dan kebetulan penumpang di taksi itu adalah Adam.


"Astaghfirullah.... Ada apa pak?" Adam terkejut karen supir taksi mengerem mendadak.


"Maaf pak, ada dua wanita yang menyebrang sembarangan, sepertinya mereka mabuk"


Dita dan Zee mengetuk pintu taksi dan memintanya untuk di buka.


"Buka pak, antar...kan... Kami pulang" pinta Dita dengan terus mengetuk kaca pintu mobil.


"Maaf mbak cari taksi lain saja, saya sedang membawa penumpang"


"Hei...! Berapa uang yang kamu minta gue bakal bayar. Come on.... Bapak supir taksi yang seksi. Antarkan kami pulang"


Zee berteriak memaksa dan merayu supir untuk di antarkan.


Berdiri saja mereka sempoyongan dan bicaranya yang semakin ngelantur.


"Sayang... Kamu mau kan berbagi taksi dengan ku. Ayolah sayang...." Zee kali ini menggoda Adam


Adam hanya menunduk malu dengan sikap Zee. Adam merasa seperti kenal dengan wanita di sampingnya, tapi ia tidak ingat dengan jelas dia siapa.


"Pak, antarkan saja mereka berdua biar saya yang turun disini" ucap Adam


"Tapi mas...."


"Sudah tidak apa-apa" Adam membayar ongkos taksinya dan segera turun dari mobil.


"Silahkan masuk" Adam menyuruh Zee untuk masuk


Dengan suara aerak dan bau alkohol yang begitu menyengat Zee menarik tangan Adam dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Terima kasih orang tampan yang baik hati, semoga tuhan lebih sering mempertemukan kita. Siapa tau jodoh. Hhahhaaa" bisik Zee di telinga Adam


Adam segera melepas tangan Zee.


"Astaghfirullah... Berhenti lah meminum alkohol. Minum ini dan habiskan."


Adam memberikan sebotol air mineral miliknya pada Zee.


Zee menerimanya dan segera menutup pintu mobilnya.


Tanpa Adam sadari ada seseorang yang diam-diam mengambil gambarnya saat Zee tengah memegang tangannya.


Saat taksi yang di tumpangi Zee sudah pergi Adam mencoba mengingat-ingat siapakah wanita tadi.


Adam mungkin agak lupa karena terakhir bertemu dengan Zee dua tahun lalu.


"Aku seperti pernah bertemu dengannya, tapi di mana ya?" Batin Adam


Adam lalu mencari taksi lain dan segera pulang.


Sesampainya di rumah Adam mendapati umi nya sedang menyiram tanaman di depan rumahnya.


Sampai adam turun dari taksi umi Fatimah masih tidak menyadari kalau itu adalah Adam, putranya.


Sampai Adam berdiri tepat di hadapannya dan mengucapkan salam.

__ADS_1


"Assalamualaikum umi ku sayang...."


Umi Fatimah terkejut melihat putranya yang tidak angin atau hujan tiba-tiba ada di depannya.


"Ini Adam? Putra umi? Masya Allah nak... Kenapa ga bilang kalau mau pulang, kan umi bisa jemput kamu di bandara...."


Umi Fatimah merentangkan tangannya dan Adam langsung menghampiri dan memeluknya.


"Umi rindu nak.... Umi rindu..." Ucap umi Fatimah sambil mengelus kepala putranya itu. Saking rindunya sampai-sampai menetes air matanya.


"Adam juga kangennnn banget sama umi, umi sehat kan?"


"Alhamdulillah... Umi sehat. Kenapa kamu pulang ga bilang-bilang sama umi?"


"Adam sengaja mau kasih kejutan sama umi. Oh ya ini Adam belikan makanan kesukaan umi, di makan yuk"


Umi Fatimah dan Adam pun masuk dan saling melepas rindu setelah dua tahun tidak bertemu.


Adam menceritakan banyak hal tentang kehidupannya di Kairo.


Begitu pun umi Fatimah yang menceritakan kesehariannya di rumah tanpa putranya.


Suasana rumah begitu hangat tatkala ibu dan anak itu saling tertawa bahagia dengan masing-masing ceritanya.


Kepulangan terdengar oleh bu Fitri dan segera menelepon memberi kabar pada putrinya, Kirana.


"Halo nak.... Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam... Iya bu"


"Ada kabar baik nak, adam sudah pulang"


"Mas Adam sudah ada di Jakarta bu?"


"Iya nak, Adam sudah ada di Jakarta. Kamu mau pulang kapan biar ibu sama ayah jemput"


"Oo ya sudah, kalau kamu mau pulang segera kabari ibu ya"


"Iya bu, assalamualaikum...."


Telepon pun berakhir. Kirana sebenarnya menunda untuk pulang bukan karena ada acara, tapi ia lebih ke ingin berpikir dahulu.


Kirana menatap cermin di depannya dan melihat bayangannya sendiri.


"Apa setelah kepulangannya ini mas Adam akan meneriman perjodohannya dengan ku? Aku sendiri tidak yakin itu. Apakah aku salah terlalu berharap untuk menjadi pendampingnya? Aku harus mengikhlaskan apapun keputusan mas Adam, mau atau tidak dengan ku aku harus terima. Aku tidak mau perjodohan ini terjadi jika ada unsur paksaan di dalamnya"


Kirana di pesantren terkenal sebagai santriwati yang pintar, multitalenta juga dengan paras yang cantik.


Kirana selalu memenangkan piagam penghargaan sebagai santri tauladan.


Kecantikan dan kepintarannya dalam ilmu agama membuatnya berhasil mencuri hati gus Faiz putra dari kiyai nya sendiri.


Sudah lama gus Faiz berniat untuk melamar Kirana namun tertunda karena tersiarnya kabar perjodohannya.


Namun gus Faiz masih mempunyai kesempatan karena perjodohan Kirana belum resmi.


Kirana sendiri mengetahui kalau dirinya di sukai oleh gus nya.


Namun ia merasa tidak pantas jika dirinya harus bersanding dengan seorang gus, putra kiyai.


Kirana akhir-akhir ini sering melakukan sholat istikharah. Ia ingin hidupnya lebih tenang dengan melibatkan Allah dalam segala keputusannya.


Dan karena shalat istikharah nya, Kirana menjadi bimbang dengan Adam.

__ADS_1


Apa lagi mendengar kabar kepulangan Adam rasanya tidak begitu membahagiakan seperti perasaannya dulu.


Setelah 1 minggu akhirnya Kirana memutuskan untuk pulang. Ia harus memperjelas statusnya dengan Adam.


Kirana bersama orang tuanya datang ke rumah umi Fatimah untuk bertemu Adam.


Umi Fatimah dan orang tua Kirana memberi kesempatan pada adam dan Kirana untuk berbicara.


"Apa kabar mas..." Tanya Kirana memulai percakapan


"Alhamdulillah aku baik, bagaimana dengan kabar mu"


"Alhamdulillah aku juga baik"


"Kapan kamu pulang dari pesantren?"


"Kemarin...


Em... Begini mas, aku tidak mau bertele-tele untuk menyampaikan ini tapi aku juga tidak tahu harus mulai berbicar dari mana"


Adam mengerti apa yang akan di bicarakan oleh Kirana. Ia juga merasa tidak enak karena harus membuat Kirana menunggu jawabannya hingga dua tahun lamanya.


"Bicaralah... Katakan apa yang ingin kamu sampaikan"


Kirana mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada Adam. Kirana menatap serius mata Adam lalu bertanya


"Tentang perjodohan ini, apa mas Adam bersedia? Atau mungkin mas Adam sudah punya pilihan sendiri?"


Pertanyaan itu membuat Adam tidak bisa menatap balik wajah Kirana.


Perasaan Adam terhadap Kirana masih sama seperti dulu, tetap menganggapnya sebagai teman tidak lebih.


Adam sengaja memgulur waktu untuk mwnjawabnya karna tidak mau jawabannya menyakiti hti Kirana dan otang tuanya.


Tapi mau bagaimana lagi, Adam harus mengatakan yang sebenarnya pada Kirana.


"Mas Adam tidak usah ragu untuk mwnjawabnya. Aku tidak mau mas Adam menerima perjodohan ini denga terpaksa. Jangan menerima hanya karena kasihan terhadap ku.


Apapun jawabannya insya Allah aku siap menerima" ucap Kirana


Mungkin ini adalah kesempatan terbaik yang Allah berikan pda Adam untuk bisa jujur dengan perasaannya.


"Maaf, maafin aku Kirana. Aku tau jawaban ku pasti akan sangat menyakitimu, tapi ini adalah kebenarannya tentang perasaan ku." Adam terdiam tak mampu melanjutkan


Kirana mengerti kemana arah pembicaraan Adam. Sebelum Adam menyelesaikan perkataannya Kirana sudah mengangguk faham.


"Tak perlu memaksakan diri mas, aku sudah tau apa jawaban mu. Baiklah dengan ini berarti sudah jelas mulai hari ini tidak ada lagi perjodohan tentang kita"


"Tapi, bagaimana nanti jika ibu dan ayah mu...."


"Mas Adam tidak perlu memikirkan orang tua ku, biar nanti aku yang jelasin pada mereka dan mereka pasti akan mengerti"


"Maafin aku Kirana" ucap Adam pelan


Kirana tersenyum menatap Adam


"Tidak perlu meminta maaf mas, ini memang sudah jalannya dan mau tidak mau aku harus menerimanya. Ya sudah kalau begitu ayo kembali ke depan, orang tua kita pasti sudah menunggu lama"


Kirana beranjak dan pergi meninggalkan Adam sendiri.


Adam merasa kalau dirinya sangat jahat terhadap Kirana, tapi ia tidak bisa melanjutkan hubungan ini hanya karena rasa kasihan.


"Semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dan lebih sempurna dari ku, Kirana" batin Adam

__ADS_1


Lalu Adam dan Kirana memberi tahu keputusan mereka terhadap umi Fatimah dan orang tua Kirana bahwa perjodohan ini sudah resmi mereka batalkan.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2