
"Apa dia sama sekali tidak tahu caranya wudhu dan shalat? Tapi bagaimana mungkin dia yang sudah baligh bahkan sudah dewasa tidak tau?" Batin Adam
Adam lalu mengambil selimut dan memakaikannya pada Zee.
Saat tengah malam hp Zee bergetar dan membuatnya terbangun.
Dia mengambil hp nya dan membukanya.
Pesan dari Dita yang menanyakan kabarnya
"Gue di sini baik-baik aja kok, ga usah khawatir."
Balasan pesan dari Zee
Zee lalu membuka akun sosial medianya dan ternyata banyak pesan terutama di Instagram nya.
Banyak sekali DM dari orang-orang yang membencinya, tapi juga ada pesan yang memintanya untuk kembali ke dunia entertain.
"Untuk saat ini di sinilah tempat ternyaman bagi ku. Jauh dari hiruk-pikuk ramainya kota dan juga dari kejaran awak media" ucap Zee lalu mematikan hp nya
Zee baru menyadari kalau dirinya tadi tertidur tidak memakai selimut, tapi sekarang dirinya telah memakainya
"Siapa yang makein gue selimut?" Batun Zee
Zee lalu melihat Adam yang tertidur pulas di sofa. Zee lalu mengambil selimutnya dan memakainya pada Adam.
"Terima kasih telah memberiku selimut, tapi dirimu yang lebih membutuhkannya"
Zee berkata dengan pelan agar tidak membangunkan Adam, lalu kembali ke tempat tidurnya.
Saat adzan subuh berkumandang Adam bangun lebih dulu dari pada Zee.
Adam tersenyum memegang selimutnya.
"Ternyata aku tidak bermimpi, dia benar-benar memberi ku selimut" kata Adam
Adam lalu memberikan selimut itu pada Zee yang tidur seperti trenggiling karena kedinginan.
"Biarkanlah dia tetap tidur, lagi pula dia berhalangan sholat"
Adam lalu mandi dan segera pergi ke masjid untuk sholat subuh berjamaah.
Begitupun Umi Fatimah yang juga sudah bangun untuk sholat subuh.
Sampai fajar datang membawa sinar terangnya, Zee belum juga bangun.
Umi Fatimah menyirami tanamannya sambil menunggu penjual sayur keliling.
Tak lama tukang sayur pun datang, ibu-ibu yang ingin berbelanja satu persatu mulai berdatangan.
__ADS_1
Ibu-ibu itu berbelanja sambil sesekali melirik umi Fatimah dan saling berbisik satu sama lain.
Sedangkan umi Fatimah tetap sibuk memilih belanjaan.
"Umi, menantunya kemana? Kok ga ikut belanja?" Tanya bu Risma ketua julid se RT
"Eh iya juga, menantu umi DJ yang terkenal itu, kan?" Sahut si penjual sayur
"Yah... Namanya juga pemain DJ. Kerjanya kan malam, jadi kalau siang ya tidur" saat umi Fatimah ingin menjawab, bu Rita langsung nyaut.
"Ya namanya juga artis bu ibu, haha..." Sambung bu Risma
Ibu-ibu yang sedang berbelanja itu tertawa bersama. Mereka terus saja membahas Zee dengan pandangan buruk dari dunia DJ dan ke artisannya.
Umi Fatimah hanya diam dan segera menyelesaikan belanjanya.
Dari kejauhan Adam yang baru pulang dari masjid melihat umi nya yang sedang menjadi bahan gunjingan ibu-ibu.
Adam langsung menghampiri umi nya dan mengajaknya pulang.
"Assalamualaikum umi"
"Wa'alaikum salam, nak"
"Umi udah selesai belanjanya? Ayo pulang bareng Adam" ajaknya
Umi Fatimah mengangguk dan segera membayar.
"Mau kemana Adam, buru-buru banget" tanya bu Rita
"Ya pasti buru-buru lah bu, kan sekarang Adam sudah punya istri artis yang cantik dan seksi. Pasti ga betah kalau keluar lama-lama"
Adam berusaha menahan emosinya meski sebenarnya perkataan mereka menusuk dada.
Adam dan umi Fatimah segera masuk ke rumah.
"Umi ga papa?" Tanya Adam
"Umi ga papa, nak. Kamu yang sabar ya, anggap saja ini ujian awal pernikahan kalian. Mungkin pernikahan mu memang bukan pernikahan yang di rencanakan, tapi percayalah semua yang terjadi atas kehendak-Nya"
Adam mengangguk mendengar wejangan dari umi nya.
Zee yang baru bangun tidur mendengar percakapan suami dan mertuanya dari belakang pintu.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa umi menyuruhnya bersabar?" Batin Zee
Adam yang tiba-tiba membuka pintu membuat kepala Zee kepentok.
"Auu....." Seru Zee dari belakang pintu
__ADS_1
"Astaghfirullah... Maaf ga sengaja, kamu ga papa?"
Adam ingin menyentuh wajah Zee namun tidak jadi karena selama ini dia belum pernah, jadi Adam mengurungkan niatnya.
Zee mengusap-usap kepalanya dengan rambutnya.
"Kenapa ga ketok pintu dulu" rengek Zee
"Maaf, aku lupa kalau di kamar ini ada penghuni lain selain aku. Apakah memar? Mau di kompres?"
"Ga usah lebay..." Jawab Zee sambil berjalan keluar kamar menuju dapur
Adam tersenyum lalu mengikuti Zee dari belakang.
Di dapur umi Fatimah sedang memotong sayur yang akan di masak untuk sarapan.
"Selamat pagi umi..."
"Selamat pagi, nak. Kamu baru bangun?"
"Iya umi, maaf Zee bangunnya kesiangan"
"Ga papa bangun kesiangan asalkan udah sholat subuh, kan?"
Zee agak ragu untuk mwnjawabnya dan dia pun kembali berbohong.
"Zee lagi halangan umi"
Zee lalu membantu umi Fatimah memasak dan Adam berdiri di ambang pintu.
"Kamu ngapain di situ?" Tanya umi Fatimah
"Liatin umi masak"
"Kenapa?"
"Kan biasanya setiap pagi aku yang bantuin umi masak. Karena sekarang udah ada yang bantuin aku bantu liatin aja"
Zee tertawa pelan mendengar jawaban Adam. Umi Fatimah mengambil kesempatan pagi ini untuk membuat mereka saling mengenal satu sama lain.
Umi Fatimah sesekali meninggalkan mereka untuk memberi ruang.
Melihat dari balik tembok saat Adam membantu Zee untuk memasak.
Zee memang pandai memasak karena dari kecil bibinya selalu menempatkan dirinya di dapur.
Namun Zee di buat takjub dengan kepontaran Adam dalam hal memasak.
Mereka mulai membahas apa saja yang bisa mereka masak dan sesekali keduanya saling tertawa.
__ADS_1
Umi Fatimah tersenyum melihat mereka yang mulai beradaptasi dengan hubungan baru mereka.
☀️☀️☀️☀️☀️