Taubatnya Wanita Hina

Taubatnya Wanita Hina
35 Teringat Umi Fatimah


__ADS_3

Zee lebih dulu membersihkan teras rumah seperti menyapu dan mengepel lantai.


Setelah itu ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Karena kini ia berberes di dalam rumah, Zee hanya menggunakan daster pendek dan rambutnya yang di gulung ke atas.


Dengan giat Zee membersihkan dari sudut ke sudut tak ada satu debu pun yang terlewat.


Saat hendak membersihkan kamar umi Fatimah, Zee mengucapkan salam saat membuka pintunya.


"Assalamualaikum...."


Terlihat kasur, lemari dan meja yang masih rapi seakana masih ada almarhumah.


Zee mengelap meja dan mengibas kasur dengan sapu lidi kecil di tangannya.


Zee mengambil bingkai foto umi Fatimah dan Adam masih terpampang di meja.


"Umi.... Zee kangen sama umi. Umi bahagia di surga, kan? Umi yang tenang di sana ya, Zee di sini berjanji akan menjaga mas Adam seperti yang selalu umi lakukan."


Zee berbicara panjang lebar dengan bingkai foto itu, tentang dirinya dan Adam yang sudah mulai saling mencintai hingga bulan madu nya kemarin ke Turki.


Seakan ia berbicara dengan orang yang masih hidup.


Tidak terasa air matanya mulai terjatuh.


Ia memeluk erat bingkai foto itu sambil terus menangis hingga sesenggukan.


Lalu tangisannya itu berhenti karena mendengar hp nya yang berdering.


Zee meletakkan kembali fotonya dan pergi ke kamarnya mengambil hp nya.


Ternyata panggilan video dari Dita.

__ADS_1


Zee menghapus air matanya lebih dulu, mengatur nafasnya sebelum menjawab teleponnya.


"Hai Dit, assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam, lama banget jawab telponnya"


"Iya iya sory, gue lagi beres-beres rumah"


"Oo udah balik ke Indonesia? Kapan?"


"Iya kemarin"


"Wah... Mana nih buah tangan dari Turki untuk gue?"


"Tenang tenang... Khusus buat kamu sohib ku tersayang ada nih yang spesial"


Zee memperlihatkan koper besarnya yang masih belum semlat di buka.


"Besar banget tuh koper, itu isinya buat gue semua?" Tanya Dita


"Oke dah ga papa, yang penting asli Turki. Eh iya Zee gue sampe lupa"


"Lupa apa?"


"Gue nelpon lo karena gue mau kasih tau. Kemarin bibi lo nelpon nge DM gue"


"Hah bibi? Dia bilang apa?"


"Iya, dia nanyain lo. Katanya kenapa lo bisa berhenti jadi artis"


"Oalah... Kirain apaan"


"Eh bibi lo belom berubah berubah tau Zee. Dia tetep bawel nanysin lo, transfer an dari lo. Dia bahkan ngancam gue karena gue ga mau kasih tau alamat lo yang sekarang"

__ADS_1


"Ya Allah, bibi bibi. Maaf ya Zee kalo bibi ku selalu nyusahin kamu"


"Udah biasa sih Zee. Padahal udah gue blok masuh aja pake akun palsu"


"Oh ya, kamu masih simpan nomor rekening bibi dulu?"


"Buat apaan?"


"Dia pasti lagi butuh uang, aku mau kasih sedikit buat mereka"


"Ya elah Zee Zee. Udah napa sih. Lagian mereka tuh sama sekali ga peduli sama lo mereka cuma peduli sama uang lo"


"Iya aku tau. Tapi bagaimanapun mereka lah yang membesarkan aku"


"Iya juga sih. Tapi aku ga tau nomor rekening nya masih ada apa ngak"


"Ya udah deh, nanti kalo bibi nge DM kamu lagi tanyain nomor rekening taoi jangan bilang kalo aku yang minta, oke"


"Oke oke. Ya udah ya gue tutup dulu, lagi sibuk nih"


"Oke assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam.."


Paman dan bibi nya Zee kesusahan untuk menghubungi Zee. Karena semenjak memutuskan hengkang dari dunia ke artisan, Zee memblokir semua akun sosial medianya dan hanya menggunakan WA saja itupun dengan nomor baru dan hanya ada tiga kontak di hp nya.


Nomor suaminya, Adam. Nomor Umi Fatimah dan juga Dita.


Zee meletakkan hp nya dan mengambil satu koper barang yang ukurannya cukup besar.


"Waktunya membereskan ini"


Ucap Zee terlihat kesusahan menarik kopernya ke tepi kasur

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2