Taubatnya Wanita Hina

Taubatnya Wanita Hina
49 Cerita Mulia


__ADS_3

Bu Risma memilih pulang lebih dulu tanpa pamit.


Dia membuang muka karena saking kesalnya lalu segera keluar.


Ibu ibu yang lainnya membiarkan bu Risma pulang sendirian karena mereka juga merasa kalau sikapnya kali ini pada Zee sangat keterlaluan.


"Biarlah dia pulang sendirian, lagi pula mulut kok ga ada saringannya. Udah kalian jangan masukin ke hati omongan dia, emang gitu dianya 'lemes' " tutur bu Endang


"Iya benar kata bu Endang, jangan di masukin ke hati ya" imbuh bu Fitri


Adam mengangguk mengiyakan.


Dia kemudian menghapus air mata istrinya yang masih basah.


"Baiklah, kami pamit pulang ya. Cepat sembuh..." Ucap papanya Kirana


Setelah berpamitan, mereka pun keluar.


Mereka datang dengan memggunakan mobil pribadi milik orang tua Kirana.


"Oh ya ma, kita mampir ke kantor polisi dulu"


"Ke kantor polisi? Ngapain pa?" Tanya bu Fitri


"Ini papa mau ngasih bukti penembakan itu, mudah mudahan ini bisa sangat membantu"


"Oh Adam punya buktinya, Alhamdulillah pa. Ya udah kita langsung ke kantor polisi aja, ga papa kan bu?" Tanya bu Fitri pada bu Endang


"Ya ga papa bu, dukung. Saya juga gedeg sama tuh bocah. Tiap hari bikin telinga puyeng gara-gara bunyi sepeda nya itu. Semakin cepat dia di tangkap semakin cepat damai hidup ini" jelasnya.


Dengan segera mereka menuju kantor polisi. Dan sesampainya di ternyata bukti itu benar-benar memperlihatkan bagaimana terjadinya penembakan itu dengan jelas.


Dan itu sangat membantu untuk mempercepat sidang.


*****


Kini tinggal Adam dan Zee di ruangan itu.


Melihat istrinya yang masih dengan wajah sendu, Adam mencoba menghiburnya.

__ADS_1


Ia menceritakan kisah-kisah wanita mulia yang di jamin surga oleh Allah. Seperti Siti Khadijah, Siti Aisyah dan Siti Maryam.


Mendengar kekuatan mereka dalam bersabar, sedikit menjadi kekuatan bagi Zee untuk menirunya.


"Terima kasih mas..."


"Hm... Makasih buat apa sayang"


"Terima kasih karena kamu telah membela ku do depan mereka"


Adam tertawa kecil sambil mencubit gemas pioi Zee


"Mengapa harus berterima kasih cantik, kamu itu istri ku dan sudah tugas ku untuk menjaga dan melindungi mu"


"Aku sayang sam kami mas..."


Zee menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya itu dan memeluknya dengan satu tangannya.


"Aku juga sayang sama kamu, cepat sembuh ya biar kita bisa pulang"


Zee mengangguk dan Adam mencium tulus keningnya.


*****


"Ma..." Panggilnya


"Apa sayang, ada apa?"


"Mama semalam habis dari mana? Kok pulang nya malem banget"


"Kan mama sudah bilang sama kamu, mama itu arisan di rumah bu Endang"


"Mama ga lagi menyembunyikan sesuatu dari aku kan ma?" Selidik Kirana


"Apa maksud kamu sayang"


"Mama kemarin malam ga pergi ke rumah bu Endang kan?"


"Kata siapa, mama ada di sana kok"

__ADS_1


"Mama bohong, kemarin malam kakek nelfon aku dia nanyain mama karena mama ga bisa di hubungin"


"Oh iya mama lupa ga bawa hp nak"


"Aku pergi ke rumah bu Endang tapi di sana sepi ga ada orang"


Bu Fitri yang sedang mengaduk kopi untuk suaminya seketika langsung berhenti.


"Mama sama papa pergi ke rumah sakit kan?"


"Iya, mama sama papa pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Zee istrinya Adam, kenapa?"


"Kok mama ga bilang sih kalo mau kesana?"


"Memangnya kenapa, kamu mau ikut? Masih mau mencari kesempatan untuk bertemu dengan Adam?"


"Ee.ee... kok mama ngomong nya gitu sih. Ngak aku ga mau ketemu samas Adam, aku cuma-"


"Cuma apa? Cuma mau sebatas melihat saja? Atau apa?"


Kirana terdiam melihat mama nya kini berbelik menatapnya.


"Mama tau kalau kamu sampai saat ini masih mencintai Adam, nak. Meski kamu sudah bertunangan tapi kamu masih belum bisa melupakannya. Sebab itu mama tidak mau kamu ikut ke rumah sakit dan bertemu dengan Adam."


"Mama-"


"Cukup nak. Berhentilah memikirkan suami orang. Dia sudah sangat bahagia dengan istrinya, dan kamu nuga haris bahagia dengan kehidupan mu sekarang.


Nanti siang mama sama papa mau ke rumah Faiz"


"Mas Faiz, mama mau ngapain kesana?"


"Mama sama papa mau membicarakan tanggal pernikahan kalian dengan kiyai Abdullah. Mama ingin tanggal itu di percepat."


"Kok mama gitu sih, kan dulu perjanjiannya mau nikah tahun depan ma"


"Semakin cepat kamu menikah, semakin cepat pula kmu bisa melupakan Adam"


Bu Fitri lalu pergi mengantar kopinya pada suaminya di depan meninggalkan Kirana yang masih mematung mendengar perkataannya

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2