
Kotak hadian yang berisikan cincin pernikahan di sertai dengan tulisan di dalamnya.
"Mau kah kau menghabiskan sisa hidup mu dengan ku? Hidup bersama dari dunia hingga ke surganya Allah..."
"Mas..." Kini air matanya tak lagi bisa di bendung.
Zee menangis sejadi-jadinya karena terharu dengan betapa romantisnya suaminya.
Adam beranjak dari kursinya menghampiri Zee lalu memeluknya.
Mereka berpelukan cukup lama hingga Zee bisa mengontrol perasaannya.
Adam lalu duduk membungkuk di depan Zee, mengambil cincin itu dan memakaikannya di nari manis Zee.
"Karena pernikahan kita terjadi buru-buru, maka dengan ini aku seperti pasangan yang lainnya. Yaitu dengan melingkarkan cincin pernikahan di jari manis istri ku"
Adam kemudian mencium tangan Zee denga lembut.
"Aku mencintai mu, Azizah Nur Ainindia"
"Aku juga mencintai mu mas, Adam Firmansyah"
Mereka kembali berpelukan.
Adam mencium kening Zee sangat lama, sambil berdoa akan harapan untuk rumah tangganya ke depan.
Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipi Zee.
Malam itu menjadi saksi atas mekar nya cinta mereka.
Suasa yang damai di tambah dengan semilir angin menambah mesra keduanya.
Makan malam romantis itu pun berakhir, dan kini mereka kembali pulang dengan perasaan cinta yang makin semakin besar di antara keduanya.
Mereka sampai di rumah tepat pukul 10 malam.
Mereka lalu membersihkan wajah dengan berwudhu kemudian sholat isyak berjamaah sebelum akhirnya beristirahat.
__ADS_1
Adam pergi ke dapur untuk mengambil air munim sedangkan Zee membaringkan tubuhnya di kasur sambil melihat-lihat cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Allah itu memang maha adil. Jika sedari kecil aku tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tua, tapi kini Allah menggantinya dengan suami yang begitu baik, perhatian dan selalu penuh kasih sayang. Terima kasih ya Allah, terima kasih umi, sudah melahirkan anak sholeh seperti mas Adam..."
Zee lalu mencium cincinnya
Adam mendengar jelas apa yang istrinya katakan barusan. Dia tetap berdiri di ambang pintu sambil tersenyum mendengar pujian dari istrinya.
"Kok cincin nya yang di cium?" Tanya Adam
Zee terkejut karena mendengar suara Adam.
Ia lalu bangun dan duduk di tepi kasur.
"Mas Adam udah dari tadi di sana?" Tanya balik Zee
"Ngak, baru aja sampe terus liat kamu lagi nyium cincin nya"
Adam meletakkan air minum nya di nakas samping tempat tidur lalu duduk di samping Zee
Zee memeluknya sambil menyenderkan kepalanya di bahu Adam.
"Ah masak?"
"He'em. Sayang.... Banget"
Adam tersenyum sambil mengusap-usap bahu Zee.
Tiba-tiba Zee teringat akan bayi yang di panti asuhan tadi.
"Mas..."
"Hm..."
"Bayi perempuan tadi yang di panti, cantik ya"
"Iya, cantik. Tapi lebih cantik istri ku"
__ADS_1
"Mas..."
"Apa"
"Mas Adam ga mau punya kek dia?"
"Punya apa? Bayi maksudnya?"
Zee mengangguk sambil memutar mutar cincin di jarinya.
"Siapa yang ga mau punya anak sayang, anak itu impian bagi setiap pasangan suami istri"
"Tapi, aku-"
"Kamu kenapa?!" Adam menyeka perkataan Zee
"Kamu belum hamil?"
Zee mengangguk mengiyakan
"Sabar sayang, kita kan baru beberapa bulan berikhtiar. Hamil itu bukan hanya soal biasa, perlu kesiapan fisik, batin maupun materi"
"Soal materi bukannya kita sudah mampu ya mas, dan kalo soal kesiapan lahir batin insya Allah aku sudah siap kok?" Ucap Zee sambil mendongakkan kepalanya
Adam tersenyum dan mengusap kepalanya.
"Apa kamu benar-benar sudah siap?"
Zee langsung mengangguk dengan semangat.
"Hamil mungkin masih terbilang mudah, apa kamu sudah siap dengan proses lahiran? Fase dimana seorang wanita harus menahan sakit yang amat luar biasa dan bertaruh nyawa? Belum lagi denga setelah nya..."
Zee bengong mendengar penjelasan Adam.
Ia lalu membayangkan bagaimana sakitnya saat melahirkan.
Adam lalu men toel hidung Zee agar tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Kenapa, takut?" Tanya nya
☀️☀️☀️☀️☀️