
Zee tidak tau lagi bagaimana caranya agar bisa keluar dari situasi ini.
Zee akhirnya menelpon Dita dan memberi tau semuanya.
Tak lama kemudian, Dita datang dengan membawa pengacara agar bisa membebaskan Zee.
Tapi itu percuma, semua warga tetap meminta adam dan Zee menikah.
Seluruh warga tidak gentar dengan semua ancama dari pengacara Zee dan mereka malah mengancam akan menghukum Adam dan Zee dengan hukuman islami, yaitu dengan mencambuk mereka 100×
Mereka menahan Adam dan Zee di kelurahan, sedangkan keluarga dari mereka di paksa untuk mengurusi berkas-berkas untuk keperluan pernikahan.
Setelah dua hari di tahan di kelurahan hari ini adalah hari pernikahan Adam dan Zee.
Kabar ini tersebar ke seluruh kota bahkan media datang untuk meliput penikahan mereka.
Pernikahan pun berjalan lancar di iringi dengan hidmat dan air mata.
Air mata kesedihan bukan kebahagiaan.
Pernikahan sekali seumur hidup yang di harapkan berjalan sesuai impian ternyata terlaksana dengan mendadak dan penuh keterpaksaan.
Acara pernikahan mendadak itu selesai pada jam 3 sore dan warga satu persatu mulai bubar. Begitu pun dengan awak media yang juga di bubarkan oleh warga.
Kini hanya ada Adam dan umi nya, serta Zee yang di temani Dita.
"Zee... Ayo pulang" ajak Dita
Zee bingung harus pulang ke mana, ke apartemennya atau ke rumah suaminya.
"Penikahan ini karena terpaksa, tidak mungkin dia benar-benar menganggapku sebagai istrinya. Lebih baik jika aku pulang ke apartemen saja." Batin Zee
Saat Zee beranjak dari tempatnya umi Fatimah mencegahnya dengan memegang tangannya.
"Kamu mau kemana?"
"Zee mau pulang, umi"
__ADS_1
"Mau pulang kemana?"
"Ke rumah Zee"
"Sini, duduk bersama ku" ajak umi Fatimah
Zee mendekat dan duduk di sampingnya.
Di sebelah kiri ada Adam dan di belah kanannya ada Zee, umi Fatimah duduk di antara keduanya.
Umi Fatimah mengambil tangan Adam dan menyatukannya fengan tangan Zee di pangkuannya.
"Mulai hari ini kalian sudah sah menjadi suami istri, jadi Zee harus tinggal bersama Adam"
"Tapi umi...." Jawab Zee
"Tapi kenapa?"
"Maaf umi, saya mau mengajak Zee pulang. Pernikahan ini terjadi karena terpaksa dan ini tidak tulus, lebih baik jika Zee pulang" Dita menyela percakapan umi Fatimah dengan Zee
"Iya, memang benar penikahan ini terjadi karena terpaksa dan penuh tekanan. Tapi apapun itu alasannya mereka tetap sudah sah menjadi suami istri. Jangan bawa Zee pergi, dia sudah menjadi tanggung jawab Adam"
Adam bangkit dari duduknya dan dengan tegas menjawab pertanyaan Dita
"Umi benar, dia mulai hari ini adalah istriku dan aku yang akan bertanggung jawab atas kehidupannya mulai hari ini dan untuk seterusnya"
"Dengan kejadian ini karir Zee terancam, tau gak. Emang kamu bisa jamin kehidupannya kedepan akan bahagia?"
"Tugas manusia hanya dua, berdo'a dan berusaha. Selebihnya pasrahkan sama Allah. Karena akad seperti janji kepada Allah dan aku tidak mau mengingkari janji ku"
Dita terus ngotot ingin membawa Zee pulang, sedangkan Zee tetap fokus melihat Adam yang sepertinya sungguh-sungguh menganggap dirinya sebagai istrinya yang sesungguhnya.
Zee menarik tangan Dita dan menariknya keluar.
"Berkata lah yang sopan pada umi Fatimah, beliau orang baik. Yang terjadi memang tidak seperti apa yang gue impikan, taoi ini sudah terjadi"
"Trus lo mau hiduo dengan orang asing, gitu?
__ADS_1
Zee sadar, ingat karir lo sedang naik daun dan lo mau lepasin begitu aja?"
"Bukannya gue ga mau lanjutin karir gue, taoi sekarang keadaannya beda Dit gue udah nikah"
Dita memgang tangan Zee dan terus membujuknya agar mau pulang bersamanya.
"Zee. Plis ayo pulang. Biarkan masalah ini berakhir di sini, masa depan lo bukan di sini"
Tapi Zee malah melapas tangan Dita dan tetap ingin di sini, memulai kehidupan baru dengan suaminya.
"Pernikahan buat gue bukanlah permainan. Memang ini terjadi di luar dugaan, tapi gue tidak bisa mempermainkan arti dari pernikahan. Sekarang lebih baik lo pulang"
Dita menghela nafasnya fan mencoba lebih tenang menghadapi keputusan Zee.
"Oke gue pulang. Taoi ingat Zee kapanpun lo mau pulang segera kabarin gue, gye pasti akan segera menjemput lo"
Dita akhirnya pulang dan meninggalkan Zee.
Umi Fatimah mendekati Zee fan mengajaknya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah umi Fatimah segera membuka pintu rumahnya dan Zee mengikuti di belakangnya.
Adam dan Zee sama-sama tidak berani saling tatap muka, mereka sama-sama menghindari untuk bertatap mata.
"Adam... Ajak istri mu masuk ke kamar mu, biar umi ambilkan beberapa baju untuknya" suruh umi Fatimah
"Iya mi" jawab Adam
Umi Fatimah masuk ke kamarnya untuk mengambilkan Zee baju ganti.
Adam kemudian memberi isyarat dengan tangannya pada Zee agar mengikutinya.
Adam membuka pintu kamarnya dan menyuruh Zee untuk masuk.
Meski sudah sah menjadi suami istri, Adam masih merasa malu menatap wajah Zee. Terutama karena pakaian yang Zee kenakan.
Zee masuk ke dalam kamar sedangkan Adam keluar dan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Adam masih tidak menyangka dengan apa yang telah terjadi, ia terus saja beristighfar sampai dirinya ketiduran.
☀️☀️☀️☀️☀️