
Bahagia sekali Rara di suguhkan objek tersebut. Pemandangan itu berhasil membius mata Rara hingga ia tidak bisa menyudahi senyumannya.
“Suka?” Tanya Jordan yang kemudian mendekati Rara .
“Emm." Rara mengangguk dengan semangat sambil menampilkan gigi putihnya.
Sinar mentari sore dan angin sepoi-sepoi menjadi pengiring dua insan yang sedang memupuk benih-benih kasih itu. Jari Jordan menelusuri rambut-rambut kecil Rara yang berantakan akibat ulah angin, lalu menyelipkan di telinganya.
Kini keduanya saling menatap, hingga Rara terkejut kala manik mata Jordan berubah dari hazel menjadi biru menyala. Semakin terbuai, Jordan kian mengikis jarak dan tangannya semakin turun menelusuri wajah Rara hingga berhenti di tengkuk leher jenjangnya.
Napasnya kian terasa saat Jordan semakin mendekatkan wajahnya.
Cupp..
Jordan memejam kala bibirnya mengecup sekilas bibir ranum Rara, merasakan sensasi hangat yang membuat dirinya ingin lagi dan lagi.
“Duh ini kenapa ga bisa gerak, mulut oh mulut ..ayo ngomong.” Batin Rara kesal sendiri, ingin menolak tapi kenapa tubuhnya tidak merespon. Jordan kembali memiringkan kepalanya semakin mendekatkan wajahnya lagi, membuat jiwa Rara kini bagai telah lepas dari raganya. Pesona pria itu mampu membuat pikirannya kian melayang jauh.
"Jangan!!"
Rara menutup bibir Jordan dengan telunjuknya, karena suaranya seakan menyangkut di tenggorokan.
"Maaf."Jordan hanya mendesah pelan dan menggelengkan kepalanya mencoba menjernihkan lagi pikirannya yang sudah kotor itu.
.
.
Jika di sini dua insan sedang sibuk menabur benih-benih cinta, di sisi lain entah apa yang membuat Valerie tiba-tiba menjadi rajin. Sore itu ia membersihkan kamar dan mencuci, padahal biasanya mereka menggunakan jasa laundry. Hari ini Valerie memilih menggunakan tenaganya sendiri. Sekalian saja ia mencuci jas navy milik pria yang menolongnya waktu itu.
“ Gimana mau balikin ini ya, aku aja gak ingat wajahnya." gumam Valerie seraya memasukkan jas yang terlihat mahal itu ke mesin cuci.
FLASHBACK ON…
Tragedi…
Valerie adalah mahasiswa jurusan Manajemen Bisnis di kampus yang sama dengan Rara. Saat itu, ia sedang mencari bahan referensi untuk tugas yang di berikan oleh dosennya.
__ADS_1
Valerie berjalan di pinggir jalan, terik matahari siang itu sangat menyengat kulit hingga membuat tenggorokannya mengering. Menepi lah ia pada pedagang es kelapa di pinggir jalan itu. Setelah itu ia melanjutkan berjalan menuju perpustakaan yang berada di seberang jalan tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Hah…panas banget.” Valerie menyeka keringatnya hendak menyeberang jalan. Tiba-tiba....
Srakk…
Seorang bocah laki-laki remaja merebut paksa tas kecil milik Valerie. Namun, karena talinya masih tersangkut malah membuat mereka saling berebutan. Alhasil Valerie kalah telak, dan tasnya di bawa lari bocah copet itu.
“Woi… tasku. Copet!…tolong copet!!” Teriak Valerie. Tanpa berpikir panjang gadis itu mengejarnya di ikuti bapak-bapak yang hendak membantu. Valerie dulunya merupakan mantan atlet beladiri, bisa di buktikan bahwa ia juga pelari yang cukup handal.
“Kena kau!!” Sentak Valerie saat tangannya mencekal. Tak mau kalah, copet itu menarik sebelah kerah kemeja putih yang di kenakan Valerie.
Sraakk…
Na’as sekali beberapa kancing bajunya terlepas, Sontak saja Valerie segera menutupi tubuhnya agar tidak terekspos.
POV, Victon
Di jarak 10 meter Victon dan Aldi sang asisten sedang berhenti di sebuah bengkel mobil pinggir jalan untuk mengganti ban mobilnya yang bocor.
Victon berlari kecil saat bocah copet itu mendekat hampir melewatinya, lalu kaki panjangnya menghadang. Brughh... Bocah itu pun jatuh terjungkal dan tersungkur di bawah kakinya. Segera Victon merebut tas itu pada tangannya, tak segan-segan ia juga menginjak tangan bocah itu dengan sepatu kulitnya.
“Aaaaaakh.” Bocah itu berteriak kesakitan.
“Hah…hah..hah…dasar kurang asem hah hah..” Valerie terengah-engah saat tiba di hadapan Victon. Sempat-sempatnya ia terpesona melihat aura tampan dari balik kacamata hitam yang di kenakan pria berbadan tinggi bak bule di depannya itu.
“Ini tas mu.” Victon membuyarkan lamunan Valerie. Melihat gadis itu kerepotan menutupi tubuh bagian depannya, Victon pun melepaskan jasnya lalu memakaikannya pada Valerie.
“Tutupi tubuhmu.” Titah Victon membuat Valerie menunduk malu.
“Terimakasih.” ucap Valerie kemudian dan di ikuti anggukan pria itu kemudian berlalu saat sang asisten memanggil. Valerie terpaku sambil membenarkan jas yang di pinjamkan pada tubuhnya menatap punggung lebar pria itu kian menjauh.
FLASHBACK OFF…
Saat hendak menjemur baju-bajunya, Valerie melirik sekilas saat meraba lengan pada pergelangan jas navy tadi. Terdapat bordiran khusus di dalamnya bertuliskan nama.
“Victon Ghaffari? ini Victon itu atau yang lain?” Gumam Valerie meneliti tulisan itu seraya mengerutkan alisnya terheran.
__ADS_1
.
.
.
.
17.30 PM
Beberapa saat lalu suasana amat romantis, berbanding terbalik dengan suasana canggung saat ini. Di dalam mobil tak satu pun berbicara, Rara sejak tadi memalingkan wajahnya menatap jalanan. Begitu pula Jordan, kali ini ia mencoba fokus meski tidak bisa di sangkal bahwa dirinya pun sangat gugup.
“Ayo kita bercium….eh, m....maksudku dinner.” Celetuk Jordan tergagap, ia melipat bibirnya ke dalam lantaran menyadari dirinya salah ucap.
“Cabul." Gumam Rara namun masih bisa di dengar. Ia memalingkan wajahnya kembali karena malas menatap wajah pria yang tengah fokus menyetir itu.
“Bisakah kamu berhenti menyebutku seperti itu?"
“Kenyataannya begitu.” Ucap Rara kesal,
“Aku begitu cuma sama kamu kok, Ra."
“Aku nggak percaya. Pasti banyak wanita yang jadi korban kemesumanmu itu. Sejak awal, memang kau sangat cabul dan mesum.” Rara sadar seharusnya tidak perlu membahas hal itu lagi. Sifat pemaksa yang Jordan selalu membuat emosi Rara naik turun seperti roller coaster.
“Bisakah kita berhenti membahas ini?” Tanya Jordan penuh penekanan, jujur saja ia tidak sesabar itu.
“Lalu, bisakah kau berhenti melakukan hal mesum?” Rara tak kalah ketus. “Itu bahkan ciuman pertamaku, issh.” Gumam Rara mencebik kesal dan penuturan itu membuat Jordan tersenyum girang.
“ Setelah ini, jangan temui aku lagi!”
“Tatap aku kalau sedang bicara Ra!! kamu ini kenapa? Okay, aku minta maaf.....iya aku salah. Itu semua karena aku menyukaimu sejak awal Ra!” Tegas Jordan lalu menepikan mobilnya.
.
.
to be continued
__ADS_1