Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 92 Hunian Baru


__ADS_3

...😊😊😊😊...


Pagi harinya, masih di hotel Ritz Diamond....


Sempat menganga dengan hadiah yang Victon berikan, Rara tidak menyangka jika pria itu memberi sebuah rumah. Sebenarnya, Rara tidak tahu saja jika rumah itu di dapat dari hasil taruhan Jordan dan Victon. Taruhan yang mengatasnamakan Rara tentunya. Syaratnya, jika Jordan berhasil menjadikan Rara miliknya, Victon akan mengabulkan semua permintaan Jordan, dan pilihan Jordan adalah sebuah rumah.


“Ini beneran kunci rumah?”


Rara mengamati besi kecil itu tepat di depan wajahnya yang penuh dengan kekaguman. Ia masih tidak percaya jika Victon sangat bermurah hati. “Kita akan pindah kesana seminggu lagi.” Ucap Jordan yang baru saja masuk dengan benda berbentuk oval di tangannya.


“hmm, Itu album pernikahan kita?” Rara mengangguk seraya menunjuk benda yang tersangkut di tangan Jordan. Secepat itu Rara meraihnya di ikuti Jordan yang kini duduk di sofa samping Rara.


“Cepet banget jadinya.” gumam Rara.


Tak sabar lagi, Rara segera membuka dan membolak-balikkan tiap lembarnya. Senyum manis itu timbul bersama dengan tawa kecil karena foto-foto yang begitu menarik hati Rara. Jordan benar-benar tersentuh hingga sesekali ia mengusap kepala Rara dengan gemas.


Drtt…drrtt….


“Halo?” Ucap Jordan dengan seseorang di seberang sana. “Iya yah, kita segera ke bawah.” Jordan kemudian menutup panggilan itu.


“Dari ayah?” Rara mendongak menatap Jordan.


“ Iya, kita harus antar beliau ke bandara.”


“Cepet banget pulangnya? Aku masih kangen.” Rengek Rara.


“Ayah punya urusan mendesak, jadi nggak bisa lama-lama di sini.” Jordan mengusap pipi Rara dan mencoba memberi pengertian padanya.

__ADS_1


.


.


.


Seminggu kemudian…


Sesuai rencana, Jordan dan Rara kini menempati rumah baru pemberian Victon. Untuk kesekian kalinya Rara kembali di buat menganga, karena wujud rumah ini tidak main-main dan sudah pasti harganya fantastik. Sebelumnya Jordan sempat berdebat perkara rumah ini yang di anggap terlalu berlebihan, padahal itu permintaannya sendiri.


Kurang lebih seperti ini gambarannya... 😁



“Lo saudara gue Jo. Bangunlah keluarga bahagia di rumah itu, and gue selalu ada kapanpun buat lo, my little brother.” Kalimat itu masih terngiang di telinga Jordan dan jangan di tanya lagi jika Jordan terharu sekali mendengarnya.


"Rumah ini atas namamu, Ra."


“Kamu siap?” Tanya Jordan lagi seraya mengamati Rara.


“Siap apa?” Rara sejak tadi sibuk memandangi foto-foto besar menempel pada dinding putih di depannya. Termasuk foto pre-wedding dan saat mereka bersanding di pelaminan.


“Bikin dede bayi.”Jawab Jordan dengan frontalnya bersama dengan senyum penuh arti membuat Rara merinding.


“Ehem, kita kayaknya harus mengadakan acara syukuran. Seperti santunan anak yatim, dan juga butuh pengurus rumah karena aku nggak bisa ngurus rumah segede ini.” Jelas Rara seraya memalingkan wajahnya. Mengalihkan topik adalah pilihan tepat bagi Rara demi menghindari arah pembicaraan Jordan yang itu-itu saja.


“Aku menikahimu bukan untuk mengurus rumah, cukup urus suamimu ini sayang.” Jordan mendekat lalu memeluk Rara dari belakang.

__ADS_1


“Aku tahu kewajibanku.” Rara kini nyaman dengan posisinya, begitu pula Jordan.


“ Sesuai keinginanmu, kita akan adakan acara syukuran dan santunan anak yatim.” Ucap Jordan kemudian. Rara pun membalikkan tubuhnya agar saling berhadapan. Di sentuhnya rahang tegas Jordan hingga muncul dalam diri Rara menginginkan sesuatu. Jordan pun mendekatkan wajahnya, “Penuhi kewajibanmu dulu.” Bisik Jordan membuat Rara tersenyum sinis.


“Apa?” Ucap Rara dengan genit kemudian mencium pipi Jordan. Cup…


Jordan hanya diam dan tersenyum, membuat Rara kembali mendaratkan beberapa kecupan di wajah tampan itu. Sengaja membiarkan Rara berkuasa kali ini, Jordan ingin melihat kemahiran sang istri dalam bercinta. Namun, kini Rara malah berhenti “Cuma begitu? terusin dong sayang.” Ucap Jordan pelan. Kini jarinya menelusuri wajah Rara dan menyelipkan rambut itu di belakang telinganya.


“Kamu kok diem aja?” Rara sedikit kesal karena Jordan tidak berkutik, padahal ia sudah berinisiatif.


“Tadi kamu juga cuekin aku.”


“Kapan aku begitu?” Tanya Rara kemudian mengalungkan tangannya di leher Jordan .


“Ada pokoknya. Jadi, maunya aku gimana hm?” Jordan menatap mesum dengan seringai licik di bibirnya.


Gleg..


“i…itu emmm...” Ucap Rara gugup seraya mengigit bibir. “Apa? bikin dede bayi?” Jordan mencium pipi gembul Rara cukup lama membuat Rara memejam dan menikmatinya hingga Rara pun mengangguk setuju.


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2